Chapter 3 : Here & There
﹏𓊝﹏☼ ﹏
Sihir. Bukan hal yang sangat langka sampai dianggap hanya sebuah hal mistis dari legenda. Tapi juga tidak seumum itu sampai semua orang bisa menggunakannya hanya dengan modal buku dan latihan.
Sihir yang dimaksud di sini adalah kemampuan langka yang dimiliki seseorang dari lahir. Kemampuan mereka disebut sihir karena tidak ada sebutan lain untuk kemampuan supranatural itu.
“Ayo Yuudai, terus dayung yang kuat"
“Kau bisa diam tidak?”
Sihir yang dimiliki seseorang tidak selalu ada hubungannya dengan kekerasan dan pertempuran. Tapi meski begitu, tetap saja sebagian besar pemilik kemampuan supernatural dicari untuk direkrut ke instansi militer karena kemampuan fisik mereka yang jauh di atas rata-rata.
Dan Yuudai salah satu dari orang-orang itu. Oleh sebab itulah. Sekarang, di saat semua orang sedang terkapar kehabisan tenaga gadis itu masih bisa sibuk mendayung sekoci kecil yang dia dan teman-temannya tumpangi.
“Jangan melihatku dengan pandangan seperti itu, kau jadi tidak kelihatan sukarela membantu semua orang”
“Apa kau bisa membaca pikiranku?”
“Hey, tidak ada yang memaksamu Yuudai”
Dalam kelompok kecil mereka, orang yang pangkatnya paling tinggi dan punya hak untuk memberikan perintah pada orang lain adalah Yuudai. Jadi tentu saja Haruki juga tidak punya hak untuk memberikan perintah pada gadis itu yang notabene punya kekuasaan di atasnya.
Hanya saja kelompok kecil itu tidak berjalan dengan semestinya.
“Aku hanya memberi saran, mengikutinya atau tidak adalah keputusanmu”
Benar, yang Haruki lakukan memang hanya memberi saran agar semua orang beristirahat dan menyerahkan urusan mendayung pada Yuudai. Tapi saran yang Haruki berikan adalah sesuatu yang tidak bisa gadis itu tolak . Seperti yang kau lihat sendiri, hampir semua orang sedang terkapar tidak berdaya.
Meski dia tidak suka saran Haruki, dan dia bahkan lebih tidak suka dengan si pemberi saran. Dia tidak punya pilihan kecuali menelan semua perasaan itu dan menyingkirkan masalah pribadinya. Sebab jika dia berhenti, mereka semua akan mati. Dan sebagai pemimpin kelompok itu, Yuudai sama sekali tidak punya niat untuk membuang nyawa anak buahnya ataupun nyawanya sendiri.
Semua orang kecuali Haruki sudah tidak makan selama dua hari berturut-turut dan tidak lagi memiliki tenaga bergerak. Mereka masih bisa bertahan hidup dengan minum air, tapi tenaga yang sudah mereka gunakan untuk mendayung dan kabur tidak bisa dikembalikan dengan hanya air saja. Oleh sebab itulah hampir semua penumpang di sekoci itu tidak bisa atau tidak mau bergerak.
Tentu saja semua orang itu termasuk Amelie. Bahkan, jika Amelie bukan pemilik sihir. Bisa dijamin kalau mungkin dia sudah di ambang batas antara ada dan tiada, mengingat dialah yang paling lemah di antara mereka semua.
Yuudai bisa memaksa mereka ikut mendayung, tapi orang bodohpun tahu kalau hal itu tidak ada gunanya. Membuatnya setuju dengan saran Haruki untuk membiarkan mereka semua beristirahat.
Lalu kenapa Haruki yang masih sadar tidak ikut mendayung dan malah hanya memberikan perintah?. Jawabannya adalah karena sama seperti yang lain, pemuda itu juga sudah ada di ambang batasnya. Alasan kenapa dia masih bisa berbicara hanyalah karena dia sempat makan sesuatu, membuatnya masih memiliki sedikit lebih banyak stamina.
Tapi stamina yang diberikan oleh seekor ikan mati yang dia pungut dari samping sekoci mereka tidak cukup untuk memulihkan tenaganya. Yuudai bisa melihat dengan jelas kalau pemuda itu juga sudah kesusahan menjaga kesadarannya. Dan dia tidak bisa membiarkan Haruki sampai ikut terkapar dengan yang lain.
“Haruki! Bagaimana kalau kau diam sebentar? Suaramu membuatku sakit kepala”
“Aku tidak ingin kau ngantuk dan ketiduran"
“Kalau begitu setidaknya katakan sesuatu yang enak didengar!”
“Sesuatu yang enak didengar malah akan membuatmu semakin ngantuk”
“Hahhhhhh..."
Setelah menghela napas panjang. Yuudai kembali mendayung.
Sama seperti rekannya yang lain, Yuudai juga tidak makan apa-apa dalam jangka waktu yang sama. Dan jelas dia juga merasa kelaparan. Tapi meski kelaparan, gadis itu masih punya banyak stamina.
Berkat sihirnya yang memberikan kemampuan untuk bisa mendapatkan energi dari selain makanan. Keadaannya bisa dibilang masih baik-baik saja. Selama ada udara dan sinar matahari, dia akan tetap memiliki stamina.
“Dayung ke kanan sedikit, kita sedikit menyimpang”
“Ya”
Meski Yuudai bisa diandalkan untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga, tapi dia tidak bisa diandalkan untuk mengatasi masalah navigasi karena kemampuan akademiknya yang kurang. Hal inilah yang membuat Yuudai tidak menyuruh Haruki membuang tenaganya mendayung. Dia membutuhkannya untuk memastikan mereka tidak menyimpang dari jalur perjalanan mereka.
“Ugh... . . Haruki... apa kau tidak terlalu memforsirnya?”
Haruki melihat ke bawah begitu merasakan ada sesuatu yang bergerak di dalam pelukannya.
“Aku tahu Amelie, tapi kita tidak punya pilihan"
Yang bergerak-gerak di dalam pelukannya adalah Amelie yang baru bangun. Dan begitu bangun dia langsung paham situasi macam apa yang sedang terjadi. Sepertinya dia tidak sengaja mendengar interaksi antara Yuudai dan Haruki.
Meski stamina yang dimiliki Yuudai bisa diandalkan tapi bukan berarti gadis itu bisa terus bekerja tanpa henti. Lama-kelamaan tubuhnya tidak akan kuat menahan beban dan tekanan karena terus dipaksa bekerja.
“Kita tidak punya pilihan lain”
Meski dia mungkin tidak merasa lelah, tapi gadis itu tetap butuh istirahat. Sama seperti mesin yang butuh perawatan berkala, tubuh Yuudai juga membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya sendiri. Jika terus dipaksa digunakan bisa saja gadis itu akan terkena cedera otot dan tulang.
Bukan hanya Haruki, Yuudai juga paham kalau memang mereka tidak punya pilihan lain. Karena itulah, meski gadis itu punya banyak komplain. Dia tidak pernah berhenti mendayung. Di saat seperti inilah situasi yang tepat untuk memaksa tubuhnya untuk terus bekerja.
“Maafkan aku"
Sekali lagi. Amelie ingin menolong tapi dia tidak mampu berbuat apa-apa. Seseorang yang bahkan tidak mampu mengepalkan tangannya sendiri tidak ada gunanya dalam situasi mereka sekarang.
“Sudahlah! Kau istirahat saja"
“Um. "
Amelie mengangguk dan kembali menyandarkan badannya ke arah dada Haruki. Kemudian pemuda itu menggenggam erat telapak tangan dingin dan bergetar Amelie lalu sebelum mendekap tubuh gadis kecil itu lebih erat.
“Cih. . “
Dilihat dari manapun keadaan Amelie sama sekali tidak kelihatan baik. Tangan yang Haruki genggam tidak terasa bertenaga dan dingin seperti es, tapi kepala gadis itu terasa panas sampai dia bisa merasakan suhu tubuh gadis kecil itu hanya dengan mendekatkan wajahnya.
Selain yang paling muda, Amelie juga adalah orang yang paling rentan dalam kelompok mereka. Ketahanan fisiknya berada di bawah semua orang, selain itu cuaca buruk yang menemani mereka juga memperparah keadaan. Jika mereka tidak segera sampai di darat dan kembali terkena hujan atau cuaca buruk lagi. Keadaannya akan terus semakin memburuk.
“Haruki, apa kau tidak salah prioritas? Di negaranya dia memang seorang tuan putri, tapi di sini dia hanya murid biasa! nyawanya tidak lebih berharga dari keselamatan semua orang"
“Tapi keselamatan kalian juga tidak lebih berharga dari nyawanya"
“... . “
Yuudai ingin mengatakan sesuatu, tapi Haruki mengangkat tangan kanannya dan menjelaskan kalau maksud kata-katanya tidak seperti apa yang Yuudai pikirkan. Yang dia coba sampaikan adalah keduanya sama pentingnya dan tidak ada yang jadi prioritas.
Tapi tentu saja Yuudai menolak menelan mentah kata-kata Pemuda itu. Sebab dilihat dari manapun pemuda itu memberikan perhatian yang lebih pada Amelie adalah sebuah kenyataan. Semua tindakannya sampai saat ini tidak diragukan adalah serangkaian usahanya untuk menjauhkan gadis kecil di pelukannya itu dari bahaya.
Dan tindakannya juga kelihatannya bukan hanya sekedar dilandasi pikiran kotor atau yang sejenisnya. Malah bisa dibilang kalau Haruki memperlakukan Amelie dengan sangat hati-hati seakan dia adalah barang berharga yang sangat rentan.
“Haruki, apa kau menyukai gadis kecil itu?"
“Ha?"
Menanggapi pertanyaan itu, Haruki langsung melihat ke arah Yuudai yang sedang memandangnya.
“Apa kau sedang mengigau? kalau iya simpan igauanmu itu saat kau sedang tidur”
Yuudai jelas tidak mengharapkan jawaban konfirmasi dari Haruki. Dan jawaban yang diterimanya tidak terlalu jauh dari apa yang dia perkirakan.
“Ha... "
Haruki menghela napas lalu melihat ke bawah dan memeriksa keadaan Amelie. Setelah memastikan kalau gadis kecil itu sudah benar-benar tertidur dan tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Haruki kembali melihat ke arah si gadis yang sedang mendayung.
“Yuudai, saat melihatnya apa yang kau pikirkan?”
“Aku tidak paham dengan pertanyaanmu”
“Bagaimana pendapatmu tentangnya?”
“Beban... "
“Pandanganmu benar-benar sempit"
“Aku melihatnya secara objektif"
“Karena itulah aku menyebut pandangmu itu sempit”
Meski sudah sama-sama sudah di kelas tahun terakhir, Amelie masih terlalu muda dan kurang pengalaman sebab dia melompat kelas.
Kemampuan fisik yang di bawah standar, ketidakmampuannya untuk membela diri serta umurnya membuat dia tidak cocok untuk dikirim ke garis depan. Daripada seorang pelindung, dia lebih cocok jadi seseorang yang perlu dilindungi. Dan melihat statusnya sebagai seorang tuan putri, hal itulah yang seharusnya terjadi.
Dengan kata lain, bagi Yuudai keberadaannya itu bukan hanya tidak berguna tapi juga merepotkan.
“Dia itu tidak cocok untuk jadi prajurit!”
Dan kelompoknya tidak membutuhkan orang sepertinya.
“Ooo... jadi begitu... bagaimana kalau aku bilang dia punya kemampuan untuk melindungi bukan hanya aku dan kau, tapi juga semua orang di negara kita?”
Seperti yang Yuudai bilang, Amelie memang tidak berguna sebagai seorang prajurit. Tapi bukan berarti dia tidak punya nilai. Malah sebaliknya, dia adalah sebuah aset yang besar bukan hanya untuk Haruki, tapi juga untuk negaranya. Dan yang punya pikiran seperti itu bukan hanya dirinya. Tapi juga orang-orang yang punya tugas untuk menggerakkan negara tempatnya tinggal dari belakang layar.
“Meski dia cuma putri ketujuh?”
“Tidak ada hubungannya"
Yang penting darinya bukanlah posisinya tapi orangnya sendiri. Yang berharga bukanlah tuan putri Amteric ketujuh. Tapi Amelie.
“Jadi apa yang ada hubungannya?”
“Sebelum itu aku mau tanya padamu, apa kau tahu penyebab kematian utama di seluruh dunia saat ini?”
“Perang?”
“Salah besar!!!... "
Penyebab kematian terbesar di masa ini bukanlah bencana alam, perang, epidemi atau tindakan kriminal melainkan kelaparan. Kelaparan adalah penyebab utama kematian seseorang pada zaman ini.
“Lalu apa hubungannya dengan pembicaraan kita?”
“Bagaimana kalau aku bilang jika dia sudah bisa memberi makan ratusan orang saat umurnya baru lima tahun dengan usahanya sendiri”
Perang adalah sesuatu yang ingin semua orang hindari. Dengan datangnya perang, bukan hanya nyawa tapi juga harta dan kehidupan seseorang jadi terancam keberadaannya. Karena itulah perang disamakan dengan kerusakan.
Tapi pada kenyataannya setelah terjadi perang malah persentase kematian karena kelaparan jadi berkurang. Perang tidak membuat tanah jadi subur, perang tidak bisa membuat panen jadi melimpah, dan tentu saja perang juga tidak bisa membuat petani jadi lebih sehat dan mampu bekerja dua kali lebih keras.
Lalu bagaimana bisa produksi makanan yang sama mampu mencukupi kebutuhan lebih banyak orang.?
“Jawabannya adalah ekonomi”
Perang berhasil menggerakkan roda ekonomi dan membuat distribusi barang jadi lebih merata ke semua bagian sebuah negara.
“Seseorang tidak bisa berangkat perang dengan perut kosong”
Perang tidak bisa dimenangkan hanya dengan kekuatan dan keberanian. Sebuah pasukan membutuhkan suplai agar bisa beroperasi, dan pasukan besar tentu saja membutuhkan suplai yang besar.
Kebutuhan suplai inilah yang membawa pedagang dan pengusaha dari kota besar untuk pergi ke daerah-daerah kecil. Dan begitu mereka datang ke sebuah daerah, mereka juga akan membawa peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan orang-orang lokal.
Efek dari hal ini adalah distribusi barang dari kota ke daerah kecil dan juga sebaliknya jadi lebih lancar.
“Seorang komandan perang tidak pernah memulai perang, yang memulai perang adalah pejabat negara”
Alasan utama perang bisa dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah politik dan yang kedua adalah ekonomi.
Penyebab utama deklarasi perang Amteric pada negara di sekitarnya adalah faktor ekonomi. Mungkin justifikasi mereka adalah superioritas, tapi hanya orang bodoh yang benar-benar percaya dengan hal itu.
Raja sebelumnya melihat kalau negaranya terlalu bergantung pada tetangganya. Dan dia tidak ingin agar keadaan ekonomi negaranya bergantung pada pihak lain.
“Dengan keadaan ekonomi yang baik kau bisa mengurangi kelaparan, dan dengan cara yang tepat kau bisa membuat keadaan ekonomi baik tanpa menggunakan perang sebagai medium"
Tidak ada satupun perang jangka panjang yang menguntungkan. Jika kau punya uang, kau bisa menghindari perang dan menyelamatkan banyak nyawa bahkan tanpa harus mengorbankan nyawa lain. Lalu jika kau punya makanan yang cukup, kau tidak akan mudah digiring untuk mencuri dari orang lain.
“Dan gadis kecil ini... "
Haruki menepuk pelan puncak kepala Amelie.
“Adalah kartu As untuk mencapai tujuan itu”
Saat ini. Yamato adalah negara yang punya pengaruh besar di areanya. Selain itu, karena kesuksesan agrikulturnya. Kelaparan pada dasarnya sudah seperti hantu. Sesuatu yang kau takuti tapi dalam kehidupan mereka tidaklah nyata.
Tapi di dunia ini tidak ada yang abadi. Ada terlalu banyak contoh di mana sebuah kerajaan besar yang kuat, berpengaruh dan kaya tidak bisa bertahan melawan waktu dan akhirnya hancur.
Bisa saja konflik internal di Yamato muncul lagi dan memecah negara itu. Bisa saja Albion mencoba menjajah Yamato lagi. Bisa saja negara lain mengalahkan produktifitas Yamato dan memotong profit mereka. Dan bisa saja posisi strategis negara mereka tidak lagi relevan dalam perdagangan internasional di masa depan.
"Jika kau ingin membuat rencana untuk sebuah negara, kau tidak bisa melihat hanya satu, lima atau sepuluh tahun ke depan"
Kau harus memikirkan bagaimana negaramu bisa bertahan lima puluh, seratus, atau dua ratus tahun di masa depan.
"Era baru perlu dihadapi dengan ide baru dan pikiran baru, kau tidak boleh tertinggal di masa lalu"
Sebuah negara yang tertinggal di masa lalu adalah negara yang sudah siap untuk menyambut kehancurannya.
Amelie. Kemampuan fisiknya mungkin tidak berguna dalam sekolah militer. Tapi meski begitu, dia memiliki kemampuan manajemen luar biasa serta pikiran fleksibel yang bisa digunakan untuk memecahkan masalah bahkan yang tak terduga sekalipun.
Amelie adalah solusi yang sedang menunggu masalah.
“Intinya Amelie itu sangat penting, dan Yamato tidak ingin kehilangan dirinya”
Gadis itu sangat penting sampai orang-orang di balik kepemimpinan Yamato berusaha menggunakan statusnya sebagai sandera politik untuk mencegahnya pergi.
Hanya saja Amelie terlalu cerdik untuk ditahan dengan kata-kata. Dia bisa menemukan lubang pada argumen orang-orang dari pihak sekolah dan langsung membalik keadaan. Jika seseorang ingin mengalahkannya mereka harus menggunakan fisik. Dan mereka benar-benar hampir menggunakannya.
Tapi beruntungnya? Atau celakanya? Ayah Haruki yang punya banyak koneksi berhasil meloloskan permintaan Amelie. Membuat Haruki terpaksa harus ikut ujian lapangan bersama gadis itu.
Akhirnya Ameliepun diizinkan untuk ikut pergi.
Dengan satu syarat... . .
Haruki melihat ke kepala Amelie yang tersandar ke dadanya.
“Hahhh... . .ha... “
Dan dia langsung menghela napas panjang.
Yuudai yang masih sibuk mendayung langsung memalingkan pandangannya begitu selesai mendengar penjelasan panjang lebar Haruki. Lalu, dengan suara yang cukup kecil untuk tidak bisa Haruki dengar.
“Kau juga tidak kalah pi.."
Tapi sebelum gadis itu berhasil menyelesaikan kalimatnya. Haruki buru-buru mengambil teropong dari tas Amelie dan melihat jauh ke horizon.
“Yuudai, kau sudah bisa istirahat"
Daratan sudah terlihat, dan dari pengamatannya tadi Haruki tidak menemukan pasukan musuh ataupun siapapun.
“Baiklah, bangunkan yang lain”
Yuudai menurut dan Haruki membangunkan teman-temannya yang lain lalu menyuruh mereka semua untuk menghabiskan sisa-sisa tenaganya untuk digunakan mendayung sekoci mereka ke pantai.
“Aku tahu kalau kalian semua ini capek! tapi dengarkan aku dan dayung sekuat tenaga kalian! saat kita sampai di pantai biar aku yang mengurusi masalah makanan"
Mencari makanan, memungut makanan, dan memilih sesuatu yang bisa dimakan adalah kemampuan Haruki yang levelnya tidak bisa ditandingi siapapun. Bahkan di antara teman-temannya di kelas khusus. Sebab dia yakin, di tempat itu tidak mungkin ada orang hidupnya sehemat dirinya.
Dengan begitu, perjalanan dua setengah hari mereka menuju daratanpun selesai.
Semua orang berhasil mencapai pantai setelah benar-benar menghabiskan tenaganya. Kemudian, begitu menginjak kaki ke darat semua orang langsung menjatuhkan diri ke atas pasir pantai.
Haruki menyerahkan Amelie pada Yuudai sedangkan dia sendiri pergi untuk mencari makanan sesuai janjinya sambil memeriksa keadaan di sekitarnya.
Satu jam kemudian, Haruki kembali ke tempat teman-temannya sambil membawa sesuatu yang bisa dimakan. Hanya saja, apa yang dia bawa bukanlah sesuatu yang normalnya dianggap sebagai makanan. Yang dibawa Haruki adalah, rumput, daun, batang, buah, dan juga serangga yang rasanya susah untuk dideskripsikan.
Saat dihadapkan pada situasi darurat, tidak ada tempat untuk kemewahan. Dan kemewahan yang yang dimaksud adalah “rasa”. Tanaman dan serangga yang dibawa Haruki aman untuk dimakan. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang punya label enak.
Sebab tidak ada yang punya cukup tenaga untuk protes, semua orang jadi anak penurut dan memakan apa yang diberikan. Mereka berakhir mengunyah rumput dan daun lalu mengisap akar dan batang pohon untuk mendapatkan air tawar.
Ketika mereka sudah punya tenaga, mereka bisa mencari makanannya sendiri dan memilih apapun yang mereka bisa temukan. Tapi untuk sekarang tugas mereka hanya satu. Memulihkan diri dan mengembalikan tenaga mereka agar bisa meneruskan perjalanan.
Haruki ingin segera menyusun rencana perjalanan mereka, tapi mengajak bicara orang yang sedang tidak bisa berpikir lurus karena lapar dan lemas kedengaran sangat tidak berguna. Oleh sebab itu dia memutuskan untuk meninggalkan teman-temannya selama beberapa waktu terlebih dahulu. Selain itu, sebab namanya yang buruk di sekolah. Dia juga tidak yakin kalau ada yang mau mendengarkan omongannya tanpa bantuan dari Yuudai.
Yang bisa mengendalikan suasana hanya Yuudai, tapi gadis itu menghilang bersama Amelie begitu mereka mendarat. Tidak ingin hanya membuang waktu dengan menunggu. Haruki masuk ke dalam hutan bakau dan melepaskan bajunya.
Pertama dia membasuh badannya dan membersihkan sisa-sisa air laut yang menempel pada tubuhnya. Setelah itu, dia mencuci semua pakaiannya menyisakan celana dalamnya yang masih pemuda itu kenakan. Yang terakhir, dia mencoba menangkap ikan sambil menunggu pakaiannya kering.
Atau, begitulah rencananya.
Sayangnya? Atau untungnya? begitu dia mulai menjelajahi sungai, dia mendengar suara cipratan air dari tempat lain. Bukan hanya itu, dia juga mendengar dua suara yang familier. Sepertinya yang punya pikiran untuk membersihkan diri dan mencuci pakaiannya bukan hanya Haruki. Tapi juga dua orang gadis yang sedari tadi sudah menghilang.
Tanpa berpikir banyak, dia coba mendekati posisi mereka untuk memeriksa keadaan Amelie. Tapi begitu mengintip dari balik sebuah pohon bakau besar. Dia langsung disuguhi pemandangan tubuh kecil dan gemulai Amelie yang putih mulus tanpa setitik nodapun.
Sinar matahari yang turun dari celah daun-daun lebat pohon di sekitarnya membuat kulitnya yang sudah cerah jadi kelihatan seperti bercahaya.
Selain itu meski memiliki tubuh kecil tapi badannya tidak kurus seperti orang kelaparan. Badannya kelihatan sehat, berisi pada tempat yang semestinya, proporsional dan juga memiliki lekuk indah layaknya seorang gadis pada umumnya.
Meski tahu kalau harusnya dia tidak melihat, Haruki berakhir terus memandang tubuh telanjang Amelie selama beberapa saat.
“.."
Tidak lama kemudian, Haruki menyadari apa yang baru saja dia lakukan dan segera kembali bersembunyi di balik pohon besar di sampingnya.
Haruki mencoba melupakan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, dia berakhir mengingatnya semakin jelas. Jika ada hal yang bisa dibilang sisi terang dari situasinya, hal itu adalah kenyataan kalau saat itu Amelie sedang menunduk untuk mencuci rambutnya. Membuat rambut panjang basahnya menutupi sebagian besar tubuhnya dari pandangannya.
Tapi tentu saja hal itu tidak cukup untuk menenangkan gejolak mendidih yang tiba-tiba muncul pada seorang remaja yang sedang dalam masa pubertasnya.
“Hahhhhhhhhhh... "
Haruki menghirup udara lalu mengeluarkan semuanya udara dari dadanya dalam sekali helaan napas.
“Jangan panik Haruki, yang tadi kau lihat itu cuma peri nakal”
Haruki mencoba menghapus wajah Amelie dari pemandangan tadi dan menggantinya dengan wajah dari lukisan peri kecil yang dia pernah lihat di istana kerajaan Hispain. Dengan begitu, dia bisa menipu dirinya untuk menganggap kalau yang dia lihat tadi hanya tipuan peri kecil.
Dan sebab apa yang dia lihat tadi hanya seorang peri, tidak ada pengaruhnya kalau mereka telanjang. Sebab mereka hanyalah makhluk penuh muslihat kecil yang menggunakan keimutannya untuk menyesatkannya di dalam hutan.
“Yep, cuma tipuan peri”
Amelie yang ada di kepala Haruki sekarang berubah jadi peri kecil yang tidak bisa mempengaruhi intensitas libidonya.
“Amelie. . apa kau membawa ganti?"
Mendengar suara Yuudai, Haruki yang ingin segera pergi menghentikan gerakannya. Tidak seperti Amelie, Yuudai adalah seseorang yang waspada dengan sekitarnya. Jika dia membuat gerakan sembarangan. Gadis itu akan mengetahui posisinya dengan mudah menangkapnya.
Dia tidak bisa membela diri kalau dia dituduh mengintip, selain itu dia juga hanya mengenakan celana dalam. Tuduhannya akan lebih berat dari sekedar intip-mengintip.
“Ah. . Iya. . aku membawa seragam cadangan. . kalau kau sendiri Yuudai?"
“Tidak. . apa kau punya selimut atau yang sejenisnya? kurasa aku akan menjemur pakaianku dan menunggunya kering"
“Aku punya handuk, tapi ukurannya kecil"
“Tidak masalah"
Jika dia sudah bisa bergerak dan mengurus dirinya sendiri. Kedengarannya keadaan Amelie sudah lebih baik. Lalu untuk masalah keamanan, jika Amelie bersama Yuudai makan dia akan baik-baik saja. Gadis itu mungkin tidak menyukai Amelie, tapi Haruki yakin kalau dia akan melindunginya tanpa masalah. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Yuudai muncul di hadapan Amelie dengan hanya handuk kecil menutupi badannya. Handuk milik Amelie. Dan begitu gadis kecil itu melihatnya, dia hanya bisa membuka mulutnya tanpa mengatakan apapun.
“Kenapa kau bengong? apa kau masih pusing?”
“Ti...tidak, tapi tiba-tiba aku merasa sakit kepala”
Hanya saja, sakit kepalanya tidak secara fisik.
Handuk yang dibawanya biasanya cukup untuk menutupi seluruh badannya mulai dari dada sampai ke lutut. Tapi di badan Yuudai, handuk itu hanya mampu menutup bagian bawah dadanya sampai pangkal paha saja.
“Baguslah kalau begitu, setelah ini kita masih harus bergerak jadi kau harus bisa berjalan"
“Um... . setelah makan aku akan sudah merasa agak baikan”
Panas badannya masih belum turun sepenuhnya dan kepalanya juga masih agak pusing, tapi meski begitu setidaknya sudah cukup fit untuk melanjutkan perjalanan. Dia mempersiapkan obat-obatan, tapi hanya pada taraf minimum dan kebanyakan adalah untuk digunakan pada luka luar. Obat-obatan lainnya biasanya sudah tersedia di kamp latihan jadi dia tidak membawanya, tapi sayangnya gara-gara kejadian di hari sebelumnya mereka masih belum bisa sampai dan malah melakukan perjalanan yang lebih panjang.
Ketika Amelie masih sedang berpikir tentang bagaimana mengatasi masalah kesehatannya, Yuudai kembali berbicara.
“Amelie, aku ingin tanya sesuatu! kenapa kau ingin ikut ujian?"
Amelie berhenti membasuh badannya lalu mengarahkan wajahnya pada Yuudai yang berada di tepi sungai.
Dia tidak menyangka kalau Yuudai akan memulai pembicaraan dengannya. Baru beberapa hari yang lalu gadis itu menolak mentah-mentah usaha pendekatannya. Tapi sekarang malah dia yang ingin tahu tentang Amelie.
Tapi kenapa dia menanyakan hal semacam itu?
“Alasan? Semua murid sekolah militer wajib mengikutinya”
Amelie hanya melakukan tugasnya sebagai seorang siswa.
“Tapi kau tidak punya kewajiban itu kan?”
Amelie hanyalah seorang sandera politik. Normalnya dia tidak akan diberi kebebasan dan ruang geraknya dibatasi lalu diberi pengawasan ketat.
Tapi karena memberikan tempat khusus dan pengawasan ketat akan memakan biaya dan tenaga, gadis kecil itu diputuskan untuk ditempatkan di sekolah militer. Setidaknya, itulah alasan resmi yang disebarkan via guru-guru akademi.
Di sana gerakannya bisa dibatasi, selain itu tanpa personel khususpun gerak-geriknya juga bisa diawasi oleh murid lain, guru, dan juga staf sekolah yang tidak perlu diberikan insentif tambahan. Jadi pada dasarnya sekolah hanyalah tempat untuk mengurung Amelie. Statusnya sebagai siswa tidaklah mengikat.
Amelie ada di sana bukan untuk disuruh belajar, dia diberikan kesempatan belajar bukanlah karena seseorang mengharapkan kalau dia jadi pintar, dan dia jadi pintar bukanlah karena seseorang menginginkannya untuk mencapai sesuatu. Yang diinginkan darinya hanyalah kemauannya untuk menurut dan kemampuannya untuk menahan diri untuk tidak membuat masalah.
Jadi pada dasarnya meski tidak melakukan apapun Amelie akan tetap bisa berada di akademi. Meski dia tidak belajar, meski dia tidak ikut ujian, dan meski dia hanya bermalas-malasan saja di ruangannya.
Setidaknya, begitulah pandangan yang dimiliki murid-murid sekolah militer di sekitarnya.
“Sejujurnya, keberadaanmu di sini malah hanyalah beban dan aku tidak menyukainya"
Amelie sudah tahu kalau hubungannya dengan Yuudai sama dengan orang asing yang kebetulan saling kenal. Tapi sekarang dia sadar kalau ternyata tebakannya itu salah besar. Yuudai bahkan tidak ingin kenal dengannya.
Banyak orang tidak menyukai dirinya adalah sebuah fakta yang sudah dia tahu sejak lama. Tapi meski begitu, sampai sekarang tidak ada orang yang terang-terangan bilang di dedap wajahnya kalau mereka tidak menyukainya.
Hal itu membuatnya agak syok.
“Huuhh…”
Amelie menarik nafas dalam lalu berbalik membelakangi Yuudai dan memandang ke arah air jernih di bawahnya. Atau lebih tepatnya, dia memandang ke arah bayangan wajahnya yang terpancar di atas air.
“Kenapa aku ingin ikut ya?.."
Dia tidak punya kewajiban untuk ikut, dan bahkan saat dia bilang dia ingin ikut ada banyak orang yang tidak mengizinkannya. Tapi dia memaksa dan mencari berbagai cara agar tetap bisa ikut ujian.
Setelah mencari-carinya alasan itu, akhirnya dia menemukan sebuah keinginan egois yang membuatnya ingin ikut meski harus memaksa. Sebuah keinginan yang tidak bisa dia gunakan sebagai alasan yang tepat untuk dikatakan dengan jujur.
Dia tidak ingin jadi satu-satunya orang yang berbeda. Dia tidak ingin jadi pengecualian. Dia ingin lulus dengan normal. Dan dia ingin. .
Memaksa Haruki menunjukkan kemampuannya.
Amelie mengambil air dengan tangannya lalu membasuh ke wajahnya dengan kasar.
“Alasan Rasanya agak memalukan”
Yuudai melirik ke arah Amelie dan mencoba mengintip ekspresi macam apa yang sedang gadis kecil itu buat.
“Hey Amelie.."
“Um?.."
“Apa kau menyukai Haruki?"
Yuudai memutuskan untuk menyuarakan pertanyaan yang sebelumnya dia lemparkan pada Haruki.
“A? heh?”
“Apa kau jatuh cinta pada Haruki?”
“Jatuh? Heeeeeeee?... ... . tidak!! tentu saja tidak!! kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”
“Melihat reaksi panikmu malah aku jadi ragu dengan jawabanmu"
“Aku panik karena kau bertanya hal aneh!!!”
“Apanya yang aneh? melihat kedekatan kalian berdua kurasa pertanyaanku normal, selain itu bahkan ada banyak orang yang mengira kalau kalian itu punya hubungan spesial"
“Hu-hubungan spesial...tidak! hubungan semacam itu sama sekali tidak ada! memang benar kalau kami itu dekat tapi itu cuma karena kami itu teman masa kecil"
“Apa iya?”
“Tentu saja iya!!”
“Kalau begitu kenapa kau seingin itu untuk mengikutinya melakukan ujian”
“Kau salah Yuudai, aku yang ingin dia mengikutiku ujian“
"Kau benar-benar gadis yang manja huh? Apa kau kesepian kalau tidak ada Haruki?"
Dari pandangan Yuudai. Amelie kelihatan hanya seperti anak keras kepala yang tidak ingin berpisah dari Haruki. Pandangan yang meskipun salah tapi secara umum juga benar.
“Mungkin kau melihatku hanya bertingkah manja! Tapi aku punya tujuan sendiri"
Saat aku masih kecil, Haruki sudah banyak membantuku, keluargaku, dan orang-orang di teritoriku oleh karena itulah aku ingin membantunya sebisa mungkin sebagai balas budi.
“Balas budi?”
“Ya, balas budi”
Kali ini Yuudai yang menghela napas. Setelah itu dia memperhatikan Amelie yang kakinya masih berada di air dengan seksama. Dia memperhatikan tubuh kecil bagai peri yang ada di depannya dengan teliti.
“Tapi membantu... memangnya kau bisa membantu apa?"
Yuudai sudah mendengar tentang bakat Amelie dari Haruki, tapi dalam situasi mereka sekarang bakat itu sama sekali tidak berguna. Malah sebaliknya, dengan berada di sini. Dia hanya menyusahkan pemuda itu.
“Dalam pertempuran memang aku tidak berguna, selain itu aku sendiri paham kalau aku ini beban. . hanya saja. . bagaimana kalau kita balik cara pandangnya?“
Daripada Amelie tidak bisa bertempur dan hanya bisa melakukan hal lain, bagaimana kalau kau bilang jika Amelie bisa melakukan apapun kecuali adu fisik di medan pertempuran?
“Kata-kataku mungkin kedengaran hanya seperti alasan untuk bisa tetap berada di sini, tapi begitulah yang benar-benar aku rasakan"
Memang dalam pertempuran mungkin dia tidak akan berguna, tapi dia hampir bisa melakukan apa saja di luar adu fisik dan saling bunuh. Dia sudah mempelajari banyak hal, mengumpulkan ribuan pengetahuan, dan juga melakukan ratusan trial and error dari aplikasi pengetahuannya.
Ada sangat banyak hal yang bisa dia lakukan.
“Aku mungkin tidak bisa membantu banyak, tapi meski begitu pasti ada sesuatu yang hanya aku saja yang bisa melakukannya!”
Dan saat waktunya datang ketika dia membutuhkanku, maka aku akan membantu.
Karena itulah dia mempelajari banyak hal, bahkan hal-hal kecil yang kelihatannya tidak penting. Semuanya dia lakukan agar saat dia membutuhkan bantuan Amelie bisa langsung datang dan mengulurkan tangan.
“... "
Yuudai tidak bisa bicara apa-apa begitu melihat Amelie berbicara dengan wajah senang sambil memasang senyum lebar. Mata polos gadis kecil itu juga berhasil membuat keinginan Yuudai untuk beradu argumen meleleh begitu saja. Dilihat dari manapun, apa yang Amelie tunjukkan adalah ekspresi polos seorang gadis yang ingin membahagiakan pemuda yang disukainya.
Tebakan yang tidak terlalu melenceng dari kenyataan mengingat tujuan utamanya untuk mengikuti ujian selain lulus dengan cepat adalah juga untuk membebaskan Haruki dari sekolah yang selalu merendahkannya. Menunjukkan kalau pemuda itu kompeten. Dengan kata lain, memperbaiki nama baiknya.
“Selagi menunggu pakaian kita kering, aku akan mencari sesuatu untuk dimakan"
Meski dia belum makan, tapi mendengar omongan Amelie tentang Haruki membuatnya merasa kalau ada seseorang yang baru saja menjejalkan gula ke mulutnya. Dan dia tidak menyukainya. Karena itulah dia memutuskan mundur dan menyudahi obrolan mereka.
Beberapa jam kemudian, semua orang kembali berkumpul ke tempat mereka semua terdampar untuk membicarakan langkah selanjutnya. Mereka sudah selamat dari satu bencana, tapi masalah yang harus mereka hadapi jauh dari kata habis. Jika ada kabar baik di dalam situasi ini, hal itu hanyalah kenyataan kalau mereka tahu di mana mereka sedang berada.
Dengan api unggun kecil yang mereka buat sebagai pusatnya, kelompok kecil mereka duduk membentuk lingkaran. Dan begitu semuanya sudah bisa tenang Yuudai mulai membuka pembicaraan.
“Meski kita sudah selamat, tapi keselamatan kita masih belum terjamin, tujuan kita adalah benteng milik pasukan aliansi terdekat yang jaraknya sama sekali tidak dekat"
Amelie mengeluarkan peta dari tasnya lalu meletakannya di atas pasir dan mendorongnya ke arah murid di sampingnya untuk diberikan ke Haruki. Yang tidak seperti biasanya, kali ini duduk tidak tepat di samping gadis itu. Sekarang dia duduk di antara murid lain terpisah lumayan jauh dari Amelie yang duduk di samping Yuudai.
“Haruki"
Yuudai memanggil Nama Haruki dan mengalihkan perhatian murid lain agar terarah ke pemuda itu. Tanpa isyarat yang menandakan kalau Haruki dititipi kekuasaan itu, murid-murid akademi di sekitarnya kemungkinan tidak akan menganggap apa yang Haruki katakan itu penting.
“Ahem.."
Setelah menerima peta yang diberikan padanya, Haruki tanpa sengaja melihat ke arah Amelie. Dan tanpa sengaja pula pandangan mereka berdua bertemu. Tapi Haruki langsung mengalihkan wajahnya dengan cepat ke arah lain lalu membersihkan tenggorokannya.
“Aku akan menjelaskan situasinya”
Grup mereka terdiri dari orang yang jumlahnya terlalu banyak untuk melakukan perjalanan rahasia dan terlalu sedikit untuk melakukan gerakan terang-terangan. Segerombolan orang yang bukan pedagang melakukan perjalanan bersama, meski mereka tidak melakukan apapun mereka akan tetap mengundang kecurigaan.
Secara legal tempat mereka berada adalah wilayah Amteric, tapi sudah jadi rahasia umum kalau ada banyak yang tidak beranggapan begitu. Banyak yang masih mencoba menggulingkan kekuasaan dan merebut kembali wilayah itu dari kekuasaan Amteric. Dan orang-orang itu jumlahnya sama sekali tidak sedikit.
Jadi bisa dibilang, sekarang mereka sedang terdampar di belakang garis musuh. Mereka bukan orang Amteric, tapi mereka adalah orang-orang dari negara yang membantu Amteric untuk tetap bisa menancapkan kekuasaannya di wilayah itu. Jika identitas sebagai anggota pasukan koalisi diketahui bisa dipastikan kalau takdir mereka akan jadi buruk.
“Karena itulah kita harus berpencar dan menggunakan jalur terpisah”
Meski tidak ada yang merasa senang dengan keputusan itu, tapi tidak ada yang tidak paham dengan situasinya. Semuanya tahu kalau mereka tetap bersama, mereka hanya akan mengundang lebih banyak bahaya.
Haruki menggambar peta buta di pasir lalu memberikan tanda-tanda di titik tertentu.
“Ada banyak jalur menuju ke benteng yang kita tuju, tapi rekomendasiku hanya ada dua"
Ada sebagian siswa yang merasa risi menerima instruksi dari Haruki yang notabene dianggap sebagai orang yang tidak kompeten. Tapi sebagai murid dari akademi militer yang selalu menekankan pentingnya mengikuti hierarki. Mereka tetap memperhatikan kata-kata pemuda itu setelah Yuudai menunjuknya sebagai juru strategi kelompok kecil itu.
Di sinilah kau bisa melihat kompetensi siswa akademi militer Yamato.
“Pertama! Jalur normal yang biasa dilalui orang biasa dan kedua! jalur tidak normal yang jarang atau malah tidak pernah dilalui orang bisa"
Jalur tidak biasa masih dibagi menjadi dua lagi yaitu memutari gunung atau menerobos gunung.
Jalur biasa lebih aman tapi kau harus pintar bercampur dengan orang biasa dan tidak bertingkah mencurigakan dan menghindari musuh. Jalur di tepi gunung jarang ada orangnya tapi kau masih harus hati-hati dan waspada sebab biasanya bandit memilih bersembunyi di lokasi semacam itu untuk membuat markasnya. Lalu untuk yang ingin menerobos gunung, mereka harus berhati-hati dengan binatang buas dan kesempatan untuk kehilangan arah dan tersesat.
“Pertimbangkan baik-baik pilihanmu!”
Setelah menjelaskan semua opsi yang bisa dia pikirkan. Haruki langsung menyuruh semua orang untuk membentuk kelompok yang terdiri tiga dua atau tiga orang. Dan hasilnya adalah...
“Uwa... aku benar-benar kagum dengan kemampuan mereka untuk tidak mempedulikanku”
Begitu disuruh membuat kelompok. Semua orang langsung bergerak menuju teman dekatnya atau seseorang yang mereka anggap bisa dipercaya. Karena itulah, kelompok Yuudai mendapat lima anggota dan mereka memilih melewati jalur tengah menerobos pegunungan.
Dari susunan anggotanya, mereka adalah tipe orang-orang yang akan memukul seseorang sebelum bertanya. Jadi, mereka menggunakan jalur minim lalu lintas adalah pilihan yang tepat.
Dua kelompok selanjutnya punya anggota empat dan tiga, yang satu akan mengikuti jalur kelompok Yuudai dan yang satunya akan menggunakan jalur memutar pegunungan yang tidak terlalu memakan tenaga.
Dari bentuk kelompoknya mereka kelihatan tidak ingin berpisah dengan teman-teman dekatnya, mungkin karena itu juga mereka memilih jalur tidak normal agar mereka bisa lebih dekat berhubungan dengan kelompok lain tanpa mengundang kecurigaan.
Sedangkan Haruki dan Amelie, seperti biasa mereka ada pada kelompok buangan yang terdiri dari sisa orang yang tidak ingin dijadikan anggota. Meski Amelie sudah menembak kalau hal itu akan terjadi, dia masih agak kecewa dengan kenyataan kalau dia benar-benar tidak punya teman dekat selain Haruki.
“Selamat datang di kelompok buangan”
Haruki menyambut anggota baru kelompoknya yang sama sepertinya, diputuskan untuk dihindari. Selain Amelie dan Haruki, di kelas mereka juga ada satu siswa penyendiri lain.
“Namaku Shun Jurou”
Amelie ikut mendekati Haruki lalu mengulurkan tangannya pada Shun. Keduanya bersalaman, lalu Amelie menghadap ke arah Haruki dan kembali mengulurkan tangannya. Tapi Haruki hanya menepuk tangannya lalu kembali berbicara dengan Shun.
“Tapi tim ini benar-benar kelompok buangan, kenapa anggotanya hanya gadis kecil yang tidak bisa apa-apa dan preman sekolah?”
Merasa tidak terima dengan kata-kata menghina itu Amelie balas bicara.
“Jangan lupa hitung juga kakak kelas yang tidak pernah lulus”
“Um. . “
Sekali lagi. Haruki tidak memberikan respon yang Amelie harapkan. Untuk suatu alasan, pemuda itu kelihatan tidak ingin bicara dengannya. Kau bisa melihatnya dengan jelas sebab dia langsung mengalihkan pembicaraan lagi.
“Amelie, berikan kompasmu pada Yuudai dan petamu pada kelompok yang memutari gunung”
“Apa tidak apa-apa?”
“Kau sudah mengingat isinya kan?”
“Aku sudah mengingatnya, tapi apa tidak apa-apa?”
Peta yang dibagikan pada murid akademi tidaklah rumit. Bahkan, Amelie yakin dia bisa menggambar ulangnya dengan akurat kalau dia mau. Oleh sebab itulah, mengingat isinya tidak sulit. Peta yang memiliki banyak detail hanya boleh ditangani oleh petinggi militer.
“Kita menggunakan jalur normal jadi kita tidak perlu peta ataupun kompas”
“Eh? jalur normal?”
“Untuk kita bertiga, jalur itu yang paling aman"
Kemampuan bela diri tidak bisa diandalkan, Haruki juga tidak ingin mengambil resiko mereka bertemu hewan buas, beracun atau dikeroyok kelompok bandit, selain itu dia juga tidak tahu kemampuan Shun. Karena itulah dia memilih jalur yang relatif lebih aman yaitu menggunakan jalan normal.
Menggunakan jalur normal meningkatkan kesempatan mereka untuk bertemu musuh, tapi beruntungnya. Kemampuan sosial Haruki adalah satu poin yang bisa dia banggakan. Pemuda itu yakin dia bisa membaur dengan rakyat biasa yang notabene tidak terlalu peduli dengan konflik yang sedang terjadi.
Setelah semua orang selesai mempersiapkan diri. Kelompok mereka berpisah dan bergerak sesuai jalur yang sudah pemimpin masing-masing tentukan. Haruki, Shun, dan Amelie segera bergerak ke arah jalan yang menuju ke pemukiman terdekat.
Yang sekali lagi, sama sekali tidak dekat.
Sambil berjalan mereka bertiga kembali membicarakan detail dari jalur yang akan mereka ambil mulai dari jalan mana, desa mana saja yang akan dilewati, dan bagaimana menghindari penjagaan di titik-titik tertentu dan juga mempersiapkan puluhan jawaban dari pertanyaan yang mungkin akan mereka dapatkan seperti latar belakang mereka, asal, urusan dan masih banyak lagi sebagai persiapan kalau mereka di interogasi.
Dua jam kemudian, mereka akhirnya sampai si sebuah jalan besar. Di saat yang sama, akhirnya ketiganya sampai pada topik yang paling penting untuk perjalanan mereka melewati jalur yang sudah mereka pilih.
“Sekarang, berapa uang yang kita miliki”
Haruki mengulurkan tangannya dan menunjukkan enam koin tembaga, Shun memperlihatkan tiga koin perak dan Amelie menunjukkan lima koin perak.
“Kita benar-benar miskin”
Tidak seperti di hutan, mereka tidak bisa mengambil buah atau memburu binatang untuk dimakan. Mereka juga tidak bisa begitu saja tidur di pinggir jalan, dan yang terakhir mereka punya masalah dengan penampilan. Berjalan-jalan menggunakan pakaian militer musuh di belakang garis musuh sama sekali tidak kedengaran seperti keputusan yang bijak.
Mereka butuh uang untuk makanan, biaya penginapan dan juga pakaian baru. Terutama untuk Amelie.
Amelie sendiri sudah menarik perhatian, tapi seragamnya yang bahkan lain dari murid akademi yang lainnya membuatnya jadi lebih menarik perhatian lagi.
Gadis itu diberikan seragam yang berbeda adalah untuk membuatnya lebih mudah diawasi oleh teman-teman dan instruktur di tempat ujian mereka. Tapi saat ini, pakaian mencoloknya hanya akan menjadi bencana.
Sayangnya, uang yang mereka miliki tidak cukup untuk semua itu. Perjalanan mereka menuju benteng masih cukup jauh. Jika mereka terus berjalan tanpa istirahat mereka bisa sampai hanya dalam waktu satu setengah hari, tapi hal yang seperti itu jelas tidak mungkin dilakukan.
Paling cepat mereka akan sampai di benteng dalam dua hari. Itupun kalau semuanya berjalan lancar.
“Aku paham untuk makanan dan pakaian, tapi kenapa kita harus memaksakan penginapan, aku tidak keberatan tidur di luar?”
Shun dan Haruki adalah murid sekolah militer, dan bagi mereka bisa tidur di tempat yang tidak nyaman adalah kemampuan yang harus dimiliki. Dan tentu saja, Amelie tidak keberatan untuk melakukan hal yang sama. Dia juga adalah murid akademi yang sudah dilatih untuk melakukan kamping.
“Tidur di pinggir jalan tanpa peralatan kamping kelihatan mencurigakan, karena itulah lebih baik kita ke penginapan saja”
Adalah pembenaran yang Haruki berikan.
“Apa iya cuma itu alasannya?”
Haruki menjawab sambil melirik ke arah Amelie dengan diam-diam, karena itulah Shun agak tidak percaya dengan jawaban Haruki yang kedengaran sengaja dibuat logis.
“Hanya itu!! sekarang ganti topik! kita tidak bisa bekerja jadi cara paling cepat untuk mendapatkan uang adalah menjual apa yang kita miliki! dan sebab pakaian kita ini malah cuma akan jadi penghalang kurasa menjualnya bukan masalah”
Keduanya setuju dengan saran Haruki tapi tentu saja mereka tidak bisa melepaskan pakaian mereka di jalan, oleh karena itu sambil terus berjalan mereka mulai mencongkel semua aksesoris yang menempel pada pakaian masing-masing sampai mereka jadi polos.
𓂃 ོ☼𓂃
Setelah berjalan hampir lima jam dan melewati beberapa desa kecil, ketiganya sampai di sebuah kota kecil. Di sana Shun menawarkan diri untuk menjual pakaian mereka. Orang tuanyalah adalah seorang pedagang, dia yakin kalau setidaknya dia bisa menjual pakaian mereka dengan harga yang tepat dan tidak ditipu siapapun.
Dan benar saja. Sebab pada dasarnya pakaian militer mereka adalah barang langka dan kualitasnya juga bagus, uang yang mereka dapatkan lumayan banyak. Cukup untuk mereka bisa tenang meski harus melakukan perjalanan selama lima hari.
Begitu harga sudah disepakati, ketiganya langsung diberikan tempat untuk melepaskan pakaiannya dan berganti dengan pakaian yang ingin mereka beli. Tanpa membuang banyak waktu Shun dan Haruki berganti dengan cepat, tapi begitu Amelie keluar dari balik bilik tempatnya berganti keduanya langsung memasang ekspresi susah.
“Haruki, tuan putri ini benar-benar sesuatu”
“Aku paham apa yang ingin kau katakan Shun, aku juga punya pikiran yang sama"
“Memangnya apa yang kalian pikirkan?”
Shun menggaruk rambutnya kesusahan menjawab pertanyaan Amelie.
“Penampilanmu agak bermasalah”
“Masalah? apa ada yang aneh?”
Amelie memutar badannya dan melihat penampilannya lagi. Dia merasa tidak ada yang aneh. Baju yang dibeli Shun adalah baju bekas, jadi meski mereka kelihatan bersih apa yang dikenakannya sama sekali tidak bisa dibilang kelihatan bagus.
“Banyak!”
Sebab mereka ingin membaur dengan rakyat biasa tentu saja mereka memutuskan untuk membeli baju yang tidak mencolok. Pakaian yang mereka putuskan untuk beli adalah pakaian bekas murah dengan kualitas yang bisa di bilang agak di bawah standar supaya memberikan kesan orang desa tidak punya uang yang baru pertama kali keluar ke kota besar.
Dengan kata lain kampungan.
Tapi meski sudah diberikan pakaian jelek dan lusuh entah kenapa aura yang dikeluarkan Amelie tetap saja bukan aura milik gadis desa miskin.
“Shun, ini yang namanya tuan putri sungguhan”
“Um. . aku paham"
Berkat pendidikan dari Ibunya, Amelie tidak pernah lupa melakukan perawatan pada dirinya meski tanpa bantuan pelayan. Pakaian lusuhnya tidak bisa menyembunyikan kulit putih mulus sehatnya, rambut lembutnya, dan wajah imutnya yang terawat.
“Kurasa kita perlu membeli pakaian tambahan, kalau bisa yang ada tudungnya, yang besar dan bisa menutupi wajahnya”
“Tidak ada pilihan lain”
Haruki dan Shun kembali memeriksa penampilan gadis kecil itu, setelah merasa puas. Akhirnya ketiganya memutuskan untuk melanjutkan agendanya.
Setidaknya, jika wajah Amelie tidak terlihat dengan jelas mereka tidak akan dikira sebagai anak bangsawan dan penjaganya yang sedang lari dari rumah dengan sembunyi-sembunyi. Shun langsung mencari sebuah jubah dan membelinya, setelah itu dia memberikannya pada Amelie untuk menutupi kepalanya.
Kemudian begitu acara belanja keperluan mereka selesai, ketiganya kembali melanjutkan perjalanannya. Lalu, malamnya, mereka kembali berhenti di sebuah kota kecil dan menyewa ruangan di sebuah penginapan.
“Kalau begitu kami akan tidur di luar”
Satu kamar. Mereka hanya menyewa satu kamar.
“Eh?”
Dengan uang yang mereka miliki sekarang, mereka bisa menyewa lebih dari satu kamar. Tapi Haruki tidak setuju sebab dia tidak ingin membuang-buang uang, membuat akhirnya mereka hanya menyewa satu ruangan saja. Dia ingin menyisakan uang yang mereka miliki untuk keperluan tidak terduga semacam menyuap penjaga perbatasan atau keperluan mendadak lain.
“Maaf saja tapi aku tidak ingin tidur di luar setelah membayar ruangan? bukankah pengorbananku jadi agak sia-sia?”
Tidak seperti Yamato, udara di benua Amteric lebih dingin karena posisinya yang lebih ke utara. Wajar kalau Shun tidak ingin tidur di luar kalau dia bisa berada di dalam sebuah kamar.
Mereka sudah membayar, dan uang yang digunakan untuk membayar bukan hanya milik Amelie saja. Jadi Shun merasa kalau dia juga punya hak untuk tidur di dalam kamar yang mereka sewa. Tapi Haruki dengan tegas menyuruhnya untuk keluar dan tidur di ruang tamu.
“Jangan banyak protes!"
Haruki mendorong Shun keluar dari kamar, tapi Amelie menarik pakaian Haruki dari belakang.
“Jangan pergi”
Yang Amelie minta untuk jangan pergi bukan hanya Haruki tapi juga Shun, hanya saja sebab yang dia pegang adalah pakaian Haruki. Kesan yang ditimbulkan adalah Amelie tidak ingin Haruki pergi.
Dan Shun berpikir begitu.
“Ooo begitu... harusnya kau bilang dari awal... aku paham!”
Mendengar hal itu Haruki langsung membantah.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh bodoh!!!!”
“Tidak perlu malu! aku ini pengertian! nikmati waktu kalian! aku tidak akan mengganggu"
Shun tersenyum sambil mendur dan pelan-pelan dan mengangkat jempolnya.
“Amelie!! bilang sesuatu padanya"
“Bilang apa? aku cuma ingin bicara denganmu”
“Amelie!!!!”
Nikmati obrolan malam kalian... tempatku tidur tidak terlalu jauh dari sini, jadi jangan keras-keras ngobrolnya"
Dan pemuda itupun menutup pintu lalu dengan pelan sebelum menghilang dari pandangan keduanya. Meninggalkan Amelie dan Haruki berdua saja.
Awalnya Haruki agak grogi ditinggal di sana sendirian bersama Amelie, tapi begitu sadar kalau tidak mungkin Amelie memintanya untuk tinggal untuk alasan yang Shun pikirkan dia tenang. Lalu begitu mengingat kalau situasi seperti itu bukanlah hal baru bagi mereka, dia bisa melemaskan ototnya dan bertanya dengan santai pada Amelie.
“Jadi ada apa Amelie?”
“Aku cuma ingin tanya”
“Tanya apa?”
Amelie menarik napas dalam sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya.
“Kenapa kau menghindariku?”
“Aku tidak paham pertanyaanmu”
“Sejak kemarin kau selalu mencoba menghindariku”
“Tapi aku di sini kan”
“Bukan itu!!”
Sejak mereka terdampar di pantai, Haruki mencoba tidak berkomunikasi dengan Amelie jika tidak benar-benar perlu. Normalnya mereka berdua itu pernah bisa berhenti berdebat bahkan untuk masalah kecil. Tapi sejak kemarin komunikasi di antara keduanya benar-benar tenang.
Kemudian, saat membicarakan strategi biasanya Haruki akan meminta saran dari Amelie dulu, tapi kali ini Haruki memutuskan semuanya sendiri tanpa membicarakan apapun dengan Amelie.
Ketika Amelie mencoba melemparkan kalimat candaan. Haruki hanya memberikan reaksi setengah-setengah lalu menggunakan tawa yang juga setengah-setengah dia segera mengakhiri pembicaraan dengannya seakan berbicara gadis itu merepotkan.
Bahkan saat mereka sudah membentuk kelompokpun, Haruki lebih memilih membicarakan semuanya dengan Shun dan tidak terlalu mempedulikan pendapat Amelie. Dan jika gadis itu ingin menambahkan sesuatu, tidak jarang keduanya berkomunikasi menggunakan Shun sebagai medium.
“Dan yang terakhir”
Amelie melihat ke mata Haruki, tapi pemuda itu langsung mengalihkan pandangannya.
“Kau tidak pernah melihat mataku saat bicara padaku”
“Itu.."
“Itu apa?.."
“Mmm.."
Alasannya sangatlah sederhana. Ketika Haruki sedang membersihkan dirinya dan mencuci pakaiannya, dia bisa mendengar apa yang Amelie katakan pada Yuudai sebab lokasi mereka tidak terpaut jauh.
Dan gara-gara itu Haruki merasa malu pada Amelie sampai tidak bisa melihat matanya secara langsung.
“Apa kau marah padaku? Apa aku berbuat salah padamu? kalau iya aku akan minta maaf!. . tapi jangan marah lagi.."
Diberi permintaan maaf tanpa tahu alasan kenapa seseorang harus minta maaf atau tidak tahu kesalahannya malah hanya akan membuat orang yang diberi permintaan maaf jadi tambah marah.
Normalnya begitu. Tapi Amelie adalah seorang gadis. Jika ada pria yang punya istri atau kekasih seperti Amelie mungkin mereka sudah menangis karena bahagia. Bukan hanya dia tidak marah pada Haruki, dia juga mencoba memberikan pengertian dan malah minta maaf duluan.
“Berhenti Amelie, aku rasa peran kita agak terbalik di sini!”
Haruki merasa bersalah menerima permintaan maaf Amelie.
“Kau tidak perlu minta maaf sebab kau tidak salah apa-apa, selain itu aku juga tidak marah padamu"
“Lalu kenapa kau menghindariku?"
“Aku tidak menghindarimu. . itu cuma.."
Dia tidak bisa mengatakan alasannya.
“Yang jelas aku tidak marah denganmu dan kau tidak berbuat salah, maaf kalau kau tidak nyaman tapi semuanya baik-baik saja....tapi aku mohon jangan tanya yang lain”
Haruki melihat ke arah Amelie, khawatir kalau gadis itu akan menekan dan meminta jawaban yang lebih jelas.
“Huuuhh... . kalau begitu masalahnya selesai... tapi jangan menghindariku lagi. "
Tapi seperti yang pemuda itu minta. Amelie tidak mencoba menekan jawaban darinya dan hanya tersenyum. Membuatnya sangat bersyukur sebab Haruki tidak mungkin bisa menjelaskan alasannya.
“Huufffhh.."
Haruki menghembuskan napas lega.
Jika lawan bicaranya bukan Amelie, tidak mungkin Haruki bisa lolos begitu saja dengan meminta maaf sambil meminta sesuatu dari orang yang sudah dia sakiti hatinya. Tapi sekali lagi, gadis itu menunjukkan kalau dia punya mental yang lebih dewasa dari penampilan fisiknya.
Kadang Haruki bahkan merasa kalau dia sedang berbicara dengan ibunya.
“Kalau begitu aku akan keluar”
Kesalahpahaman? Mereka mungkin sudah selesai. Karena itulah, saatnya membicarkan topik lain.
“Tunggu! Aku tidak enak tidur sendirian di sini ketika kalian tidur di ruang tamu”
“Ha?”
“Kalau kalian tidur di sini, aku akan ikut tidur di ruang tamu dan menyia-nyiakan uang kita”
“Amelie”
Amelie benar-benar seperti ibunya.
Dia senang mempermainkan Haruki.
Haruki memanggil Shun dan akhirnya ketiganya tidur di kamar yang sama. Amelie di atas kasur, dan Haruki serta Shun tidur di lantai dengan alas selimut penginapan dan handuk yang diberikan oleh Amelie.
Begitu pagi datang dan menerima sarapan dari penginapan, mereka kembali meneruskan perjalanannya.
Dan beruntungnya, perjalanan mereka benar-benar lancar tanpa hambatan.
Bahkan mereka bisa lolos pemeriksaan di perbatasan dengan hanya debat kecil. Setelah mengulangi apa yang dilakukan di hari sebelumnya, ketiga akhirnya sampai di perbatasan kedua menuju lokasi benteng berada. Dan begitu menginjakan kakinya di area itu, mereka berdua sadar kalau lancarnya perjalanan mereka adalah tenangnya laut sebelum badai.
“Kenapa harus ada penyerbuan sekarang?”
Haruki menjambak rambutnya begitu melihat barisan manusia yang bergerak menuju benteng yang juga mereka tuju. Mereka membawa meriam, tombak, perisai, pedang dan juga panah. Lalu, jumlah mereka mungkin ada sekitar lima ribuan orang.
Pantas saja penjagaan di perbatasan tidak terlalu ketat. Sepertinya kebanyakan dari mereka sedang sibuk di sini.
“Tidak ada pilihan lain, sebelum mereka bisa mengepung benteng secara penuh kita harus mencari jalur memutar dan masuk”
“Apa kau yakin Haruki? Bukankah lebih baik kalau kita kabur saja?”
“Kabur ke mana?”
Mereka bisa langsung kabur, tapi jika mereka kabur sekarang nasib mereka akan jadi semakin tidak jelas. Mereka tidak akan bisa pergi ke benteng selanjutnya yang jaraknya jauh lebih jauh lagi. Mereka bisa ke Amteric yang lebih dekat, tapi meski secara formal mereka adalah sekutu. Hubungan diplomasi mereka tidak bisa dibilang baik.
“Bagaimana dengan tim yang lain? Apa kau ingin meninggalkan mereka?”
Amelie bertanya dengan nada khawatir.
“Kau tidak perlu mengkhawtirkan mereka”
Berhubung mereka mengambil jalur yang jauh dari pemukiman, harusnya mereka bisa bergerak lebih cepat dan sampai lebih dulu bahkan daripada Haruki dan kelompoknya. Kemungkinan besar mereka bahkan sudah ada di dalam benteng.
Tentu saja dia tidak tahu dengan pasti ataupun yakin dengan asumsinya. Tapi saat ini, yang jadi prioritasnya adalah Amelie. Yang lainnya adalah urusan nomor dua. Dan itu termasuk nasib teman-temannya yang lain.
“Menunduk!!!"
Shun mendorong Amelie dengan tanah sedangkan Haruki langsung refleks menunduk begitu mendengar perintah yang Shun teriakkan.
“...”
Setelah memastikan arah serangan yang mereka terima. Haruki langsung berdiri dan mengangkat tubuh Amelie sebelum berlari ke balik sebuah pohon besar. Lalu, dengan suara lirih. Mereka mulai bicara.
“Pasukan pengintai?"
“Sepertinya kita tidak sendirian mencari cara masuk ke benteng"
“Bukan hanya itu, dia juga menggunakan senapan angin”
Lima tahun yang lalu, senapan angin mulai diproduksi masal oleh semua pihak dalam konflik. Membuat korban yang jatuh dalam perang kali ini jauh lebih besar dari perang-perang dalam yang tercatat dalam buku sejarah sampai sekarang.
Hanya saja, meski dia bilang produksi masal. Karena proses pembuatannya sulit, harga mereka cukup mahal dan tidak setiap pasukan bisa membelinya. Harusnya pasukan pemberontak yang minim dana tidak memiliki benda semacam itu. Sebab daripada membeli belasan atau puluhan senapan angin, mereka bisa menggunakan uang yang sama untuk membeli ratusan busur dan anak panahnya.
Ada yang tidak beres. Selain itu.
“Memberikan senapan angin pada pengintai? Apa mereka tidak takut dia gagal dan senjatanya diambil?"
“Mungkin mereka punya banyak uang"
Shun sembunyi di balik pohon besar di seberang Haruki melihat keadaan dengan memperhatikan suara-suara yang ada di sekitarnya. Meski senjata yang musuh mereka mengeluarkan sedikit suara, tapi di dalam hutan. Langkah kaki saja sudah cukup untuk menentukan lokasi seseorang.
“Apa yang harus kita lakukan Haruki?"
Amelie yang masih ada di dalam pelukannya bertanya dengan grogi. Dia mungkin sudah berlatih bela diri dan berbagai macam hal tentang pertempuran di akademi. Tapi latihan dan skenario nyata berbeda jauh. Meski dia sudah diajari taktik untuk menghindari pembawa senapan, Amelie merasa kalau tubuhnya menolak untuk menggunakan pengetahuannya.
Membuatnya pada akhirnya memutuskan untuk bergantung pada Haruki. Entah secara sadar ataupun tidak.
“Pertama, ikuti Shun dan dengarkan baik-baik sekitarmu"
Serangan tadi hanya datang dari satu tempat. Tapi bukan berarti musuh mereka pasti cuma hanya ada satu. Jika orang itu adalah bagian dari pasukan pengintai musuh, dia pasti rekan lain.
“Shun! apa kau bisa melumpuhkan orang yang tadi menembak kita?"
Melihat kalau musuh mereka tidak menyuarakan sinyal untuk rekan-rekannya dan mereka juga tidak mendengar adanya pergerakan dari si penembak. Kemungkinan besar orang itu masih ada di lokasi yang sama. Jika mereka bisa melumpuhkannya, perjalanan mereka ke benteng akan lebih aman.
“Kalau dia turun dari pohon, kurasa kita bisa mengatasinya"
Keduanya tahu di mana lokasi penyerang mereka. Jika mereka berbalik, dia orang itu ada di posisi jam satu dan jaraknya sekitar tujuh atau delapan meter. Lalu dia sedang bersembunyi di atas pohon paling besar di tempat itu lima meter dari tanah.
“Sekarang pertanyaannya, bagaimana membuat dia turun”
“Kau bisa keluar dan memancingnya untuk menyerangmu, atau kau bisa kabur dan memancingnya mengejarmu ke arah benteng”
Setelah itu, Shun akan mengejarnya dan melumpuhkannya dari belakang.
“Bagaimana? Ideku bagus kan?”
“Cuma imajinasiku atau aku cuma jadi umpan?”
“Kurasa jadi umpan adalah tugas cocok untukmu, prajurit yang tidak bisa dibunuh”
“...”
Tidak seperti sebelumnya, Haruki tidak menjawab kalimat Shun dengan nada bercanda. Yang dia berikan hanyalah tatapan tajam seakan dia ingin membungkam mulut pemuda itu. Selamanya.
“...”
Shun sendiri hanya tersenyum. Tidak seperti kebanyakan siswa akademi yang lain. Shun tidak pernah sekalipun merendahkan posisi Haruki. Jika kau tahu cara kerja sekolah mereka yang tidak mentolerir ketidakbecusan. Kau bisa dengan mudah paham kalau Haruki bukanlah orang sembarangan.
Meskipun dalam kasusnya, dia hanya tidak sengaja pernah mendengar instruktur akademi membicarakan bagaimana Haruki selalu pulang dari misi sesulit apapun. Bahkan ketika misi groupnya gagal dan semua orang dibantai musuh, pemuda itu tetap bisa pulang dan membawa informasi penting.
Selain Shun, Yuudai juga mengetahui tentang sejarah Haruki. Tapi tidak seperti pemuda itu, Yuudai bisa membaca suasana dan paham kalau Haruki tidak ingin membicarakannya di depan orang lain.
“Jadi bagaimana? Kita tidak bisa terus bersembunyi di tempat ini sampai dia pergi”
Pasukan utama pemberontak bisa datang kapan saja. Semakin lama mereka terjebak di tempat itu, semakin besar kesempatan posisi mereka ketahuan oleh pasukan musuh.
“Hahhh. . . . tidak ada pilihan lai...”
Ketika memutuskan Haruki menyerah dan menurut untuk jadi umpan, tiba-tiba dia merasakan Amelie memegang tangannya dengan erat.
“Bagaimana kalian bisa setenang ini? bukankah ini masalah hidup dan mati"
Haruki adalah senior yang sudah berkecampung di dunia militer jauh lebih lama dari Amelie. Selain itu dia juga sudah ikut misi di luar akademi, jadi pengalamannya juga lebih banyak dari Shun dan jelas Amelie.
“Eh... perang itu serunya di situ! bisa berhadapan dengan musuh dan saling bunuh itu adalah kesenangan tersendiri"
“Aku tahu kalau kau ini gila, tapi aku tidak tahu kalau kau segila ini"
Sama seperti Shun yang tahu latar belakang Haruki, pemuda itu juga tahu latar belakang Shun. Seperti yang sudah dia bilang saat mereka membuat kelompok, Shun adalah preman sekolah. Dia sangat suka membuat masalah sampai orang tuanya mengirimkannya ke sekolah militer untuk memperbaiki kepribadiannya.
Sayangnya, bukannya berkurang. Hobinya untuk berkelahi malah jadi semakin parah. Sebab di sana ada banyak siswa kuat, dia menjadi ketagihan membuat masalah. Dan sebab kebiasaannya untuk bertindak berlebihan belum sembuh juga, dia berakhir diberi julukan preman oleh kebanyakan siswa.
Dalam hal kemampuan bertarung murni, Shun bahkan lebih kuat dari Haruki yang lebih tua darinya.
“Tunggu dulu!!!! daripada jadi umpan dan lari, bagaimana kalau kita menyerang balik saja?"
“Menyerang balik?"
“Aku membawanya karena takut benda ini dicuri orang tapi kurasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk menggunakannya"
Amelie mengeluarkan sebuah senjata dan sebuah tabung kecil panjang dari tasnya. Sebuah senjata yang kelihatan seperti pistol flintlock, tapi senjata yang mulai dia rakit tidak memiliki pemicu dan tempat bubuk mesiu. Melainkan sebuah tabung gas yang cukup besar lalu palet tajam dan bukannya peluru besi bulat.
“Jangan bilang Erwin, benda ini buatan Erwin?”
“Kalau begitu aku tidak akan bilang”
Hanya saja, meski Amelie tidak memberitahukan siapa pembuatanya. Haruki tahu kalau hanya ada satu orang yang bisa membuat dan memberikan benda seperti itu pada Amelie.
“Bukannya kau menyuruhnya untuk menahan diri? Kenapa dia masih memberimu benda berbahaya seperti ini?”
“Dia bilang untuk jaga-jaga”
“Hahhhh....”
Haruki menampar wajahnya sendiri.
Erwin memanjakan Amelie bukanlah sesuatu yang baru. Tapi kebiasaannya untuk melakukan hal yang berlebihan adalah hal berbahaya bagi semua orang. Semua barang ciptaannya punya potensi untuk mengubah dunia. Tapi di antara semua penemuannya itu, senjata yang dia buat adalah yang paling berbahaya.
Di awal perang yang dilancarkan oleh Amteric, tidak ada orang yang menggunakan senapan angin. Tapi ketika Haruki pulang, dia mulai mendengar kalau ada senjata tipe baru yang digunakan dalam peperangan. Dan benar saja, ketika pasukan Yamato membawa jarahan pasukan musuh. Dia menemukan senapan angin yang kelihatan sangat jelas replika dari senapan buatan Erwin.
Dia sudah mengubah dunia sekali. Haruki tidak ingin dia melakukannya lagi dalam waktu dekat. Apalagi ketika mereka sedang ada dalam konflik besar-besaran semacam ini.
“Jarak akurasi maksimumnya sepuluh meter, setelah tembakan ketiga jarak efektifnya akan turun sampai lima meter"
Amelie selesai merakit pistol anginnya dan memberikannya pada Haruki. Moncong tambahan yang dia pasang akan membuat stabilitas palet di dalamnya, memastikan akurasinya tidak melenceng jauh dari target.
“Jadi aku masih harus tetap mendekat huh”
“Aku bisa mengalihkan perhatiannya untuk sesaat, kau bisa menggunakan kesempatan itu untuk mende...”
“Tidak!”
“Tidak!”
Shun dan Haruki berteriak di saat yang sama. Shun mungkin suka membuat masalah, tapi dia tidak suka membuat masalah untuk orang seperti Amelie. Kalau misalkan sampai gadis itu kenapa-kenapa, bahkan Shunpun akan merasa bersalah.
Dan untuk Haruki? Apapun alasannya, tentu saja dia tidak ingin Amelie membahayakan dirinya.
“Kau tidak perlu khawatir! Aku ini ahli lari!”
Haruki menarik napas dalam lalu menutup matanya untuk sesaat sebelum membukanya lagi.
“Haruki..? apa itu...”
Pupil Haruki berubah warna menjadi merah untuk sesaat. Menandakan kalau sihirnya baru saja aktif.
“Shun, jam dua lima meter"
Shun tidak tahu kenapa dia memberikan perintah itu sebelum mendapatkan reaksi dari musuhnya, tapi tanpa ragu dia langsung berlari duluan ke arah yang Haruki tunjukkan.
Bam!
Setelah meneriakkan perintah itu, Haruki keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari langsung ke arah musuh mereka berada. Dan tentu saja, sebuah tembakkan langsung meluncur tepat ke keningnya . Tapi dengan gerakan minim, Haruki bisa menghindarinya dan langsung menyerang balik dan menembak ke lokasinya.
Bam!
Kali ini, musuhnya yang dengan mudah menghindari serangan balik Haruki dengan tanpa ragu menjatuhkan diri ke tanah.
“Bagaimana bisa?”
Bukan hanya musuh mereka baik-baik saja setelah menjatuhkan diri dari ketinggian lima meter. Dia juga langsung bisa berlari kencang. Tapi beruntungnya, orang itu lari tepat ke arah yang Haruki tunjuk tadi.
“Haaaa!!!!"
Shun melancarkan sebuah pukulan tepat ke kepala musuh mereka yang tertutup tudung. Tapi lawannya langsung menunduk dan mengayunkan senapan yang dibawanya layaknya sebuah tombak ke tubuhnya.
“Jangan meremehkanku!"
Bukannya menghindar, Shun malah menyambut serangan tadi.
Dengan sigap, dia menyamakan kecepatan gerakan tangannya dan serangan musuhnya sebelum menangkap senjata lawannya. Kemudian, dia menarik benda itu mencoba membuat pria di depannya mendekat ke arahnya.
“...”
Tapi usahanya gagal sebab tarikannya sama sekali tidak menggerakkan tubuh lawannya. Dan hal itu bukan karena dia itu lemah, melainkan sepertinya ada kekuatan lain yang membuatnya tidak bisa menarik musuhnya.
“Bagaimana kalau ini”
Tidak kehabisan akal, Shun menggunakan tangan kirinya untuk kembali mengincar wajah musuhnya.
“...”
Tapi sekali lagi, usahanya digagalkan. Kepalan tangannya ditangkap oleh musuhnya. Membuatnya terpaksa kembali melakukan improvisasi. Dia mengangkat kakinya dan mencoba menyapu kaki lawan. Hanya saja.
“Ha...”
Lawannya juga melakukan hal yang sama, mengakibatkan keduanya menendang tulang kering masing-masing.
“Aghhh...”
Dan buruknya, dalam duel kali ini. Shun kalah telak, dia merasa kalau dia baru saja menendang sebuah batu.
“Sekarang giliranku!”
Akhirnya lawannya buka mulut, meski Shun tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia bisa melihat senyuman terpasang di muka musuhnya.
Kali ini, badannyalah yang ditarik.
“Ugh...”
Shun mencoba melawan dengan balik menarik, tapi dia kalah kekuatan dari lawannya. Hal yang menjelaskan banyak hal seperti fakta kalau lawannya adalah pemilik sihir. Dia bisa baik-baik saja setelah jatuh dari jarak yang lumayan tinggi dan juga tubuhnya yang terasa sangat keras bisa dijelaskan oleh kemampuan khususnya.
“Haruki!!!!”
Merasa tidak bisa melawan lagi, mau tidak mau Shun meminta bantuan pada rekannya.
Bam!
Tanpa takut serangannya meleset dan mengenai Shun, Haruki menembak ke arah lawan mereka. Tapi meski akurasi tembakannya adalah seratus persen, serangannya sama sekali tidak punya pengaruh apapun.
Pria tadi hanya menundukkan kepalanya dan membiarkan palet dari pistol anginnya mengenai tuduh yang dia kenakan. Menghentikan laju benda itu dalam sekejap.
“Kekuatan itu?...”
Jangan bilang...
Masih ragu dengan tebakannya, Haruki menarik pisau balistik yang dia beberapa tahun yang lalu. Lalu sekali, seakan tidak peduli dengan keselamatan Shun. Haruki mengarahkan mata pisaunya ke arah lawan mereka dan menekan pemicu di gagangnya.
Psshhh...
Energi kinetik yang tersimpan di dalam tabung gas kecil dan juga per di bagian dalam gagangnya langsung bebas dan meluncurkan mata pisau itu ke arah dada musuh mereka.
Dan benar saja.
Pang!!!
Begitu mata pisau berkecepatan tinggi bertabrakan dengan tangan lawannya yang mencoba menangkis benda itu mengeluarkan suara layaknya dua benda metal yang bertabrakan dengan keras.
“...”
Mendengar suara itu, Haruki tidak lagi ragu dengan kesimpulannya. Dan dengan begitu, pemuda itu langsung meneriakkan...
“Erwin! Berhenti!!”
Menghentikan lawan mereka yang berniat membanting Shun.
“Haruki?”
Lawan mereka melepaskan Shun dari kuncian tangannya, lalu dengan pelan. Dia menyingkap tudung kepalanya dan menunjukkan wajahnya secara penuh. Setelah melihat lebih jelas pemuda itu, Haruki yakin kalau orang yang baru saja mereka lain tidak lain adalah teman masa kecilnya. Erwin Frank.
Dengan begitu, reuni mereka setelah bertahun-tahun berakhir mereka bersama-sama mencari jalan masuk ke dalam benteng pasukan koalisi.
☕︎ྀི
“Untuk ukuran sebuah reuni aku merasa kalau kau agak keterlaluan Erwin"
“Jangan salahkan aku! Musuh ada di mana-mana, aku perlu terus waspada”
Setelah berhasil masuk ke dalam benteng, Erwin yang statusnya adalah tamu dari Amteric berhasil meminta ruangan untuk menyambut Haruki dan rekannya.
"Tapi untuk suatu alasan kau tidak kelihatan ingin membunuh siapapun?"
"Bagaimana kau bisa tahu? aku yakin kalau kau belum mengumumkan penemuan baruku pada siapapun"
".."
Haruki mengangkat bahunya. Menunjukan kalau dia tidak ingin membicarakan topik itu lebih lanjut. Atau lebih tepatnya, dia tidak ingin membicarakan hal yang bisa mengarah seseorang bisa menebak kekuatan sihir yang dia miliki.
Klak…
Menebak keinginan Haruki. Erwin meletakan senjatanya di depan semua orang. Sebuah senapan angin, tapi tidak seperti senjata sejenis yang biasa sudah biasa mereka lihat. Benda di depan mereka kelihatan seperti satu atau dua generasi lebih modern. Jika kau ingin membandingkannya dengan benda lain, kalau senapan yang sekarang diproduksi massal adalah kapal layar. Makan senapan Erwin adalah sebuah kapal uap dari Albion.
Amelie yang tidak tahu banyak tentang senjatapun bisa melihat kalau desain maupun konstruksinya jauh lebih baik daripada senapan yang pernah dia gunakan untuk berlatih.
"Tapi apa gunanya membuat senjata yang tidak bisa membunuh?"
Tanya Haruki lebih lanjut.
"Yang aman hanya paletnya, kalau aku mengganti isinya senapan ini bahkan lebih mematikan dari senjata yang semua orang miliki"
Erwin menunjukkan palet dari senapannya. Bentuknya tidak tajam dan kelihatan tidak sedikit kenyal. Daripada sebuah palet, benda itu lebih kelihatan seperti sebuah penghapus karet. Hal yang tidak mengherankan sebab memang benda itu terbuat dari karet.
Haruki yakin akan hal itu ketika dia memegangnya.
"Hey! aku datang untuk menyelinap! bukan untuk jadi pembunuh bayaran! selain itu menutup mulut seseorang lebih mudah dengan membuat mereka pingsan daripada membuat mereka sekarat!"
Sebab ketika seseorang sekarat, mereka tidak selalu sekarat dalam diam atau langsung mati.
"Hanya imajinasiku saja atau memang benda ini lebih keras dari karet biasa?"
"Aku tahu kau akan menyadarinya"
Konfirmasi yang diberikan Erwin sama sekali tidak membuatnya senang. Malah sebaliknya, hal itu membuatnya takut. Takut akan masa depannya.
"Berhenti menggunakannya!"
Salah satu kelemahan terbesar dari senapan angin yang saat ini ada dalam peredaran adalah segel karetnya yang lama-lama mengering dan membuat udara di penyimpannya bocor. Segel itu bahkan akan bocor sendiri tanpa diapa-apakan kalau kau menyimpannya di tempat sembarangan. Jika masalah itu bisa diatasi, keampuhannya akan langsung naik.
Jika ada yang memungutnya palet itu dan berhasil menemukan cara untuk mereplikasinya, maka perang ini akan jadi semakin runyam dan korban yang jatuh akan semakin banyak.
"Memangnya kenapa? bukankah bagus kalau kau punya pilihan untuk tidak membunuh musuh?"
Amelie sedikit bingung. Dari sudut pandangnya, senjata yang tidak bisa membunuh adalah sebuah fitur, bukan kekurangan. Gadis itu mungkin pintar, tapi sepertinya kali ini dia gagal melihat seberapa besar pengaruh dari penemuan baru teman masa kecilnya itu.
"Ini bukan cuma karet! Ini…"
"Jangan khawatir Haruki! aku paham kekhawatiranmu! lihat aku memungut semua palet yang kutembakkan!"
Erwin mengambil beberapa palet yang sudah penyok dari kantong bajunya.
Sama seperti Amelie, Erwin dulunya juga sulit memahami bagaimana sesuatu yang dia anggap remeh bisa memiliki efek yang besar terhadap dunia di mana mereka tinggal. Tapi setelah melihat sendiri kerusakan yang bisa penemuannya sebarkan, dia mulai bertingkah lebih hati-hati.
"Baguslah kalau begitu! Tapi lebih baik kalau kau tidak menggunakannya! terutama di medan perang!"
Sebab di tempat sepertinya, kau tidak tahu apa yang akan terjadi. Medan perang adalah tempat di mana rencana tidak berjalan sesuai keinginanmu.
"Sebagai senior yang baik! aku akan mengingat nasihatmu!"
"Senior apa!? kau hanya setahun lebih tua dariku!"
Tingkah Erwin yang seakan dia dua atau tiga kali lebih dewasanya darinya membuat Haruki sedikit merasa kesal. Haruki sekarang delapan belas, dan Erwin hanya sembilan belas. Dilihat dari manapun, mereka adalah teman sebaya.
Erwin hanya tersenyum dan untuk sesaat, pembicaraan mereka berhenti.
“Jadi apa hubungan kalian berdua?"
Shun yang tidak tahu apa-apa memutuskan untuk membuka topik baru.
“Perkenalkan, namanya adalah Erwin Frank! dia adalah anak dari keluarga bangsawan militer di Amteric, tapi kau tidak perlu hormat padanya sebab pada dasarnya dia itu cuma pesuruhnya Amelie"
“Perkenalanmu macam apa itu? Aku Erwin! kesatria nomor satu tuan putri Amelie yang merangkap sebagai kakak laki-lakinya"
“Kau bukan kakakku”
Amelie yang sedang sibuk memakan biskuit di depannya memberikan koreksi pada informasi palsu yang Erwin coba sebarkan.
“Ngomong-ngomong, apa posisi duduk kita aneh?”
Tanya Erwin
“Tidak ada yang aneh!”
Jawab Amelie.
Posisi duduk mereka saat ini adalah Haruki, Amelie, Shun lalu Erwin di depan ketiganya.
“Kalau kau tidak begini kau akan melompat pada Amelie”
“Tentu saja, apa kau tahu sudah berapa lama aku tidak melihat wajahnya? Aku benar-benar merindukannya”
Begitu Erwin melihat Amelie keluar dari tempat persembunyiannya, Erwin langsung menabrak gadis itu dan memeluknya dengan sangat. Hal yang awalnya gadis itu tolerir mengingat mereka sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Tapi sampai mereka di pintu gerbang belakang Erwin masih ngotot ingin menempel padanya.
Meski Amelie tidak risih dipeluk oleh Erwin, mereka bukanlah anak kecil lagi. Bukan hanya dia merasa malu terus dipeluk oleh lawan jenis di depan banyak orang, dia juga tidak ingin mengundang kesalahpahaman dari orang-orang sekitar mereka. Karena itulah, dia meminta bantuan Haruki dan Shun untuk menghentikan Erwin.
Dia masih ingat pelajaran sosial yang Haruki berikan di akademi tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dan sepertinya, di dunia gadis seumurannya sudah dianggap cukup dewasa untuk menikah dan membangun keluarga.
Amelie meletakan cangkir tehnya lalu memulai topik yang sedari tadi dia ingin bawa.
“Jadi Erwin, apa tujuanmu datang ke sini jauh-jauh dari Amteric?"
“Aku diperintahkan untuk membawamu pulang"
Di antara semua orang yang paling terkejut adalah Amelie sendiri.
“Kenapa? aku tidak bisa pulang begitu saja"
Amelie adalah sandera politik, tentu saja dia tidak bisa pulang seenaknya. Selain itu, selama dia masih siswa di akademi militer dia juga tidak bisa pergi kemanapun tanpa izin dari pihak sekolah.
Jika harus pulang, harusnya Amteric memberikan sandera politik pengganti ataupun kompensasi. Dan tentu saja, urusan politik semacam itu juga perlu diputuskan jauh-jauh hari. Tidak mendadak seperti ini.
“Aku membawa surat dari ayahmu, kau bisa membacanya sendiri"
Erwin menyodorkan sebuah amplop dengan segel kerajaan Amteric pada gadis di depannya.
Ayahnya tentu saja sudah menghubungi pihak koalisi dan membicarakan tentang pemanggilan Amelie. Dia mengirim Erwin untuk menjemput Amelie agar mereka bisa langsung bergerak begitu permintaannya disetujui oleh pasukan koalisi dan Yamato. Surat yang dipegangnya pada dasarnya hanya formalitas untuk kebutuhan pemuda itu saat berinteraksi dengan kerajaan lain di pertalannya.
“Apa isinya Amelie?”
Tanya Haruki.
“...ayahku jatuh sakit”
Surat yang Erwin bawa menjelaskan kalau ayah Amelie jatuh sakit dan dia ingin segera memilih penerusnya sebab dia tidak yakin kalau kesehatannya akan membaik. Sebagai negara yang sedang menghadapi masalah domestik dan internasional yang sekalanya sangat besar. Mereka tidak bisa membiarkan sampai ada kekosongan takhta. Karena itulah mereka ingin buru-buru memilih penguasa baru.
Menggunakan alasan itu, mereka memanggil pulang semua sandera politik mereka. Amteric akan memberikan kompensasi negara-negara pemegang sandera politik dalam bentuk utang sampai penguasa baru terpilih. Setelah itu, keluarga terdekat raja dan ratu baru akan jadi sandera politik yang baru.
“Hahh, kenapa aku ikut dibawa-bawa? Memangnya aku punya kesempatan menang perebutan takhta?"
Amelie sama sekali tidak ingin jadi ratu negaranya. Dan meski dia menginginkan posisi itupun, dia tidak punya dukungan dari siapapun. Ibunya adalah anak yatim piatu yang tidak punya koneksi dengan keluarga bangsawan manapun. Meski dia secara ajaib menangpun, yang terjadi selanjutnya hanyalah kudeta begitu dia naik takhta.
Dibunuh oleh orang-orang licik di istana sama sekali tidak ada dalam rencana hidupnya.
“Kau mungkin tidak bisa menang, tapi dukunganmu sepertinya penting saudara-saudaramu yang lain"
“Eh? bagaimana bisa? Dukungan macam apa yang mereka inginkan dariku?"
Berkat bantuan Erwin, teritorinya mungkin sudah agak lebih kaya. Tapi harta yang dimilikinya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan keluarga bangsawan yang sesungguhnya. Kalau mereka mengincar koneksiku dengan keluarga militer Frank, mereka juga akan kecewa sebab Erwin pada dasarnya sudah memutus hubungan dengan keluarganya.
“Sebenarnya, setelah kau pergi ada beberapa keluarga bangsawan yang meminta bantuan kita"
Dan Erwin serta Ibunya yang merasa kalau tidak ada salahnya menambah sekutu memutuskan untuk memberikan bantuan dalam bantuan monetari ataupun produk spesial buatan Erwin. Hal itu membuat beberapa keluarga bangsawan kelas menengah dan bawah bersedia memberikan dukungannya pada Amelie.
Meski secara individual mereka tidak memiliki kekuatan atau kekuasaan yang sepadan dengan keluarga bangsawan besar. Mereka punya cukup pengaruh untuk memberikan perbedaan pada situasi finansial fraksi lain.
Selain itu, berkat bantuan Ibunya pada teritori mereka. Rakyat mereka juga merasa berterima kasih pada Ibunya dan juga Erwin yang pada akhirnya membuat popularitas Amelie di kalangan orang biasa melonjak.
Yang sekali, banyak kandidat perebutan tahta inginkan.
Meski mungkin dukungan yang diterimanya tidak akan mampu membuatnya jadi raja, tapi semua itu masih membuatnya jadi penghalang untuk calon penerus lain yang berada di atasnya.
Haruki yang mendengar situasi Amelie berada mengerutkan keningnya sebelum bertanya.
“Erwin, apa kau yakin ingin membawa Amelie pulang di situasi seperti itu?"
Jika ada yang merasa kalau keberadaan Amelie itu menguntungkan, pasti juga ada yang menganggapnya sebagai ancaman. Pulang di saat seperti ini sama saja meminta untuk jadi target pembunuhan oleh saudara-saudaranya.
“Ayahnya tahu akan hal itu, karena itulah dia mengirimku untuk menjemputnya"
Dalam situasi yang setidak stabil itu, Ayah Ameliepun sadar kalau bahkan mengirimkan pengawal pribadinya tidak akan menjamin keselamatan Amelie. Oleh sebab itulah, dia memilih Erwin yang dia yakin tidak akan mengkhianati Amelie dan punya kemampuan yang cukup untuk menjemput anak gadis termudanya itu.
Haruki mengangkat tangannya dan bicara.
“Aku tidak setuju, Amelie bisa pulang! Tapi tidak sekarang, atau besok, atau bulan besok! Aku yakin kalau kita bisa menunda keberangkatannya setidaknya sampai ujian kelulusan selesai"
Haruki ingin mengulur waktu untuk meminta konfirmasi ke Yamato terlebih dahulu. Dia ingin meminta instruksi lanjutan tentang pekerjaannya. Selain itu, dia juga ingin mengabulkan keinginan Amelie untuk lulus dengan normal bersamanya.
Erwin diam sesaat lalu kembali bicara.
“Haruki... aku paham apa yang kau inginkan, aku juga tidak ingin membahayakan Amelie tapi...”
Selain semua masalah tentang perebutan takhta, mereka juga membutuhkan Amelie untuk kembali.
Erwin mengalihkan pandangannya pada Amelie.
“Ibumu sakit, dan aku mendengar tetangga kita ingin mengambil alih teritorimu”
Ekspresi Amelie berubah seratus delapan puluh derajat begitu mendengar kabar itu.
“Setelah kau pergi beban pekerjaan teritori kita jadi semakin banyak”
Selain itu karena keadaan ekonomi di Tagave yang lebih baik dari tempat lain. Ada banyak imigran yang berpindah dan membuat masalah. Lalu, di antara mereka juga ada budak-budak yang kabur dari tuannya. Hal itu membuat teritori mereka dianggap melindungi budak-budak mencuri dan melindungi kriminal.
“Maafkan aku Amelie, aku dan Ibumu sudah mencoba melakukan negosiasi tapi usaha kami gagal"
Erwin tidak bisa menggunakan pengaruh keluarganya, mereka menolak menyelesaikan masalah mereka dengan uang, lalu mereka meremehkan posisi Anneliese yang seorang ratu hanya dalam nama. Mereka hanya punya kesempatan melakukan negosiasi serius kalau Amelie yang punya darah famili kerajaan hadir bersama mereka.
“Aku sempat berpikir untuk menghancurkan leburkan keluarga dan teritori mereka”
Erwin mengepalkan telapak tangannya sambil memasang wajah penuh dendam. Tapi tidak lama kemudian, tangannya bergetar dan berhenti di atas pahanya sebelum dia mencengkram erat celananya sendiri.
“Tapi konsekuensinya terlalu berat”
Meski dia bisa menangpun, setelah itu apa?
Jika yang harus menerima akibat dari perbuatannya hanya dia seorang, Erwin bisa menerimanya.
Tapi di dunia ini, hukuman dari kesalahan satu orang bisa dibagikan pada banyak orang. Jika dia benar-benar merealisasikan niatnya, yang akan dihukum bukan hanya Erwin seorang. Melainkan juga orang tuanya, saudaranya, dan semua orang yang membantunya. Bahkan Amelie dan Ibunyapun bisa ikut dieksekusi karena kesalahannya.
Dan di dalam dunia bangsawan di mana semua orang dengan senang hati menendang keluarga bangsawan lain. Skenario yang Erwin sama sekali tidak jauh dari kenyataan yang kemungkinan akan terjadi.
“Maafkan aku!”
Erwin menunduk dalam, baik karena merasa bersalah harus memaksanya melakukan apa yang tidak dia inginkan dan juga karena dia ingin meminta maaf karena sudah tidak berguna bagi gadis itu.
“...”
Seperti yang kau duga, Haruki yang tidak setuju dengan kepulangan Ameliepun tidak bisa berkata apa-apa.
“Hufff... Aku paham situasinya”
Amelie menarik napas dalam.
“Tapi untuk sementara aku tidak ingin memikirkannya, saat ini yang harus kita prioritaskan adalah mencari cara untuk mengalahkan pasukan pemberontak di luar"
Dengan adanya musuh di luar gerbang benteng, mereka bahkan tidak bisa kemana-mana. Masalah yang dibawa Erwin memang penting, tapi mencari cara untuk memperbaiki situasi mereka jauh lebih penting lagi.
“Amel...”
Haruki melihat wajah gadis di sampingnya. Ekspresinya tidak menunjukkan emosi yang berarti. Tapi ketika dia melihat ke bawah meja di mana tangannya berada, pemuda itu bisa melihat dengan jelas kalau mereka bergetar hebat.
“...”
Haruki ingin memegang tangan Amelie menenangkannya. Tapi diapun tidak tahu harus mengatakan apa.
0 comments:
Post a Comment