Epilogue : The Bleak Knight
ⴵⴵⴵ
Bulan 9 Tahun 894
Ada yang bilang kalau dalam sebuah koloni semut pasti selalu ada yang jadi pemalas dan tidak melakukan apa-apa. Manusiapun sama. Jika sekelompok orang diberikan tugas maka pasti ada yang benar-benar melakukannya dengan serius, ada yang hanya dengan setengah hati, ada yang malas-malasan, dan bahkan ada yang tidak melakukan apapun sama sekali.
Setelah itu dengan alami orang-orang itu akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Orang yang punya bakat dan bekerja keras, orang yang tidak punya bakat tapi bekerja keras dan sebaliknya, lalu orang yang tidak punya bakat dan tidak bekerja keras.
Dengan begini akan terbentuk sebuah organisasi yang memiliki bagian atas hebat, bagian tengah cukup dan bagian bawah tidak kompeten. Para pendiri Yamato menganggap hal ini sebagai sebuah masalah besar.
Bagaimana kalau pikiran cemerlang atasan tidak bisa dieksekusi pekerja di lapangan? Bagaimana kalau strategi brilian seorang jenderal tidak bisa dipahami oleh pasukannya? Bagaimana kalau pemerintah membuat peraturan untuk rakyatnya tapi semua orang salah paham dan malah jadi tidak puas? Lalu bagaimana kalau sebuah pasukan tangguh mereka dikalahkan dan yang tersisa hanya pasukan lemah untuk menjaga negaranya sendiri?
Setelah melihat semua masalah yang timbul karena struktur piramida itu, akhirnya orang-orang dengan pikiran setengah gila memutuskan untuk membuat sistem baru. Sebuah sistem yang bentuknya seperti piramid yang runcing ke atas, melainkan sistem yang berbentuk seperti paku dan meruncing ke bawah.
Sebuah sistem yang membuat orang tidak kompeten tidak ada lagi.
Yamato adalah satu-satunya negara yang menggunakan doktrin “biarkan yang lemah maju duluan” sampai taraf ekstrim. Dalam sekolah militernya, murid paling lemah adalah murid yang paling sering dapat masalah. Tentu saja bukan berarti murid yang lemah akan dianggap sampah dan dibuang, tapi murid yang paling lemah diharuskan melakukan lebih dari orang yang ada di atasnya sampai mereka mencapai standar tertentu.
Jika kau lemah dalam bela diri kau harus berlatih dua kali lipat dan jika kau lemah dalam belajar kau akan mendapat ujian lebih banyak. Dengan sistem ini, jika seseorang bermalas-malasan atau tidak berusaha keras maka dia akan menderita. Sekolah tidak akan membiarkan seseorang yang tidak melakukan apa-apa tetap di bawah tanpa diperhatikan dan hanya ikut arus.
Dengan kata lain, jika kau ingin malas-malasan kau harus jadi orang hebat dulu.
Sistem ini diterapkan bukan hanya pada bidang akademik, melainkan juga militer.
Saat mengirim pasukan untuk melakukan ekspedisi biasanya pasukan terlemah dalam levelnya yang didahulukan. Setelah itu jika mereka gagal atau diputuskan tidak bisa menjalankannya, barulah pasukan level selanjutnya dikirimkan untuk membantu.
Dengan sistem ini pasukan lemah akan mendapatkan lebih banyak pengalaman dan skill untuk nanti digunakan menutupi kelemahannya. Membuat secara umum, mereka tidak perlu mengorbankan orang-orang berbakatnya untuk mati di garis depan sambil menyembunyikan kekuatan militer mereka yang sesungguhnya.
Berbeda seratus persen dengan Amteric yang lebih suka menggunakan Shock and awe sebagai senjata utamanya. Menggunakan kartu terkuatnya untuk menghancurkan musuh dan memberikan impresi pada musuh kalau mereka tidak mungkin bisa dilawan sehingga mereka terdorong untuk langsung menyerah.
Yamato tidak peduli kalau mereka dipandang lemah, malah sebaliknya. Mereka senang dipandangan lemah oleh musuh.
Normalnya, di Yamato pasukan terkuat hanya akan dipanggil saat ada masalah berskala besar. Tapi itu bukan berarti mereka bisa hanya bersantai saja. Jika kemampuan mereka dinilai mulai tumpul, maka mereka akan diturunkan ke pasukan di bawahnya. Yang sebaliknya juga berlaku, jika ada individu yang punya performa bagus maka dia akan dipromosikan tanpa banyak birokrasi.
Begitulah cara Yamato mempertahankan standarnya. Mereka membuat orang yang dibawah termotivasi untuk naik dan membuat yang sudah di atas selalu waspada dengan orang yang mereka tinggalkan dulu.
Tapi tentu saja sistem itu tidak sempurna. Masih ada banyak orang yang memilih status quo, orang yang terlalu percaya pada dirinya sendiri, dan juga orang yang tidak percaya pada dirinya sendiri.
Dalam masa damai. Masalah itu diatasi oleh pasukan cadangan.
Jika orang yang ada di dalam sistem adalah paku, makan pasukan cadangan adalah palu yang mampu menancapkan ketakutan, menarik harapan, membengkokan kepercayaan diri, dan juga mematahkan arogansi seseorang.
Pasukan cadangan, dengan kata lain orang-orang yang bisa disebut kartu As Yamato adalah orang-orang berkemampuan tinggi tapi posisinya dibuat di bawah. Mereka bisa dibilang adalah bagian cacat dari sistem yang sengaja dibuat.
Konsep keberadaan mereka adalah “orang tidak kompeten yang bisa melakukan apa saja”
Pasukan cadangan adalah orang paling tinggi levelnya yang disuruh untuk memainkan peran orang tidak kompeten agar orang-orang di sekitarnya tidak berhenti bergerak dan berpikir “kalau orang bodoh itu saja lulus masa aku tidak lulus” atau “kalau orang lemah itu saja menang masa aku kalah.”
Pasukan cadangan itu orang malas yang selalu bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik, orang bodoh yang selalu dengan ajaib lulus, orang lemah yang bisa mengalahkan siapa saja kalau dia mau, dan orang konyol yang licik.
Dengan kata lain, orang-orang seperti Haruki.
Hanya saja, sebab sekarang adalah masa perang. Mayoritas dari mereka harus diturunkan ke medan perang secara langsung. Dan beberapa dari mereka bahkan tidak lagi bisa menggunakan modus operandi pasukan cadangan yang biasa dan harus mengambil posisi publik. Lalu, jika keadaan benar-benar genting. Tentu saja mereka mau tidak mau haru diturunkan ke medan perang untuk mencegah kehancuran total pasukan mereka.
Bulan 12 Tahun 894
"Terima kasih Haruki, kalau aku masih hidup sampai markas! aku akan membelamu di pengadilan nanti"
"Aku akan mengandalkanmu"
Seperti rekan yang sedang dia gendong bilang. Pemuda itu memang membutuhkan pembelaan seseorang di pengadilan militer mengingat kalau saat ini, dia sedang melanggar perintah atasannya.
"karena itulah, jangan banyak bicara dan hemat tenagamu"
"Tenaga huh..."
Pemuda di punggung Haruki tersenyum pahit. Seberapapun dia menghemat tenaganya, dia merasa kalau semua itu tidak akan ada gunanya. Dia merasa kalau bukan hanya tenaganya, melainkan nyawanya sedang mengalir keluar dari tubuhnya tanpa henti.
"Aku sudah memanggil Hasumi, kau akan baik-baik saja"
Pemuda yang sedang dia gendong adalah seniornya dalam pasukan cadangan. Meski dia hanya dua tahun lebih dari Haruki. Pengalaman, kompetensi, serta sifat dewasanya membuatnya sudah jadi sosok kakak bukan hanya untuk Haruki. Tapi juga untuk para juniornya yang lain. Keberadaannya selalu bisa membuat rekan-rekannya merasa aman. Mereka merasa kalau semua orang bisa mengandalkannya kalau-kalau ada sesuatu.
Dan benar saja, ketika mereka melakukan blunder dan hampir ditangkap musuh. Dia dan beberapa rekannya mengajukan diri untuk mencegat musuh dan memberi semua orang waktu untuk kabur.
Haruki sendiri secara logis tahu kalau senior-seniornya itu bukan pemilik sihir yang mempunyai stamina di atas rata-rata. Dia tahu kalau semua orang meninggalkan mereka, yang terjadi hanyalah mereka tidak akan pernah bisa pulang. Tapi saat itu, Haruki sangat takut sampai dia tidak memikirkan semua hal itu.
Dia mungkin anggota pasukan elit, tapi pikiran dan tubuhnya sudah dilatih dengan keras. Mentalnya masihlah milik seorang remaja yang labil. Begitu dia menyadari apa yang baru saja dia lakukan, Haruki langsung meninggalkan kelompok yang harusnya dia pimpin dan kembali ke tempat senior-seniornya berada.
Dengan kemampuan fisiknya, Haruki yakin kalau dia sampai. Dia bisa membantu semua orang untuk kabur.
"..."
Setidaknya kalau dia belum terlambat.
Begitu dia sampai, satu-satunya orang yang tersisa dari kelompok kecil itu hanyalah senior terdekatnya yang sekarang dia sedang gendong. Senior yang perutnya memiliki lubang yang terus mengeluarkan darah.
Seniornya yang sekarang sedang sekarat.
Dengan keadaannya yang sekarang, pemuda itu tidak mungkin bisa bertahan sampai kamp yang jauhnya masih lima belas kilometer lagi. Meski dengan kemampuan fisik Haruki, dia tidak mungkin bisa bergerak cukup cepat untuk menyelamatkan rekannya itu. Bukan hanya jaraknya yang jauh, tapi jalur yang dia lalui juga bukan sebuah jalan lurus. Melainkan hutan yang penuh halangan.
Dengan luka yang separah itu, dia paham kalau kesempatannya untuk hidup pada dasarnya adalah nol. Selain itu...
"Ahahahah... Hasumi"
Hasumi Rin adalah anggota pasukan cadangan pemilik sihir penyembuhan yang sangat potent. Dia bisa menyembuhkan luka fisik macam apapun selama mereka tidak benar-benar mati. Karena pengetahuan itulah dia bisa tertawa. Bukan karena dia dapat harapan baru, tapi karena tahu kalau keberadaan gadis itu akan tersia-siakan.
Ketika dia sampai di kamp, dia yakin kalau nyawanya sudah tidak ada lagi. Sekuat apapun sihir penyembuhannya, dia tidak bisa memangkitkan orang yang sudah mati.
"Haruki, dengarkan nasehat terakhir seniormu ini baik-baik"
"Aku akan mendengar nasihatmu kalau kau sudah sehat nanti"
"Orang baik itu biasanya umurnya pendek"
"Aku tidak ingin mendengarnya!"
"Karena itulah, sebagai seorang pemimpin! kau harus bisa menganggap anak buahmu hanya sebagai alat dan angka! kalau tidak... kau akan...."
"...."
Haruki tidak perlu melihat ke belakang untuk mengetahui apa yang baru saja terjadi. Dia tidak bisa lagi mendengar suara pemuda di depannya, dia tidak lagi bisa merasakan nafas rekannya di pundaknya, dia tidak bisa merasakan detak jantungnya lewat punggungnya lagi. Yang dia bisa dia rasakan hanyalah tubuh seniornya yang sekarang lemas dan dingin.
Hari itu, Yuudai Ren menghembuskan nafasnya yang terakhir. Lalu dua hari kemudian, Haruki dibawa ke pengadilan militer setelah terbukti sudah meninggalkan tugasnya sebagai pemimpin pasukan detasemen pasukan koalisi, Tapi karena misi sukses dengan korban minim, pemuda itu hanya diberikan peringatan.
Bulan 4 Tahun 895
"Ughh. . badanku sakit semua"
"Tentu saja, kau hampir mati"
Haruki tidak mengucapkan hal itu mengharap seseorang akan menjawabnya. Tapi jawaban datang dari seorang gadis yang sedang duduk di sampingnya yang berbaring.
"Hasumi..."
Badannya memang masih sakit, tapi luka-luka di badannya sudah tidak ada lagi. Semua itu adalah berkat perawatan gadis yang baru saja namanya dia sebutkan.
"Kalau begitu aku pergi dul.."
"Tunggu dulu! bagaimana dengan #########? apa kau sudah menyembuhkannya?"
"..."
Bukannya langsung menjawab, Hasumi malah memelototi Haruki dengan pandangan seakan dia ingin mencekik pemuda yang baru dia sembuhkan tadi. Gadis itu bahkan mengepalkan tangannya sampai kukunya menggali kulitnya sendiri dan mengeluarkan darah. Berusaha sekuat tenaga untuk menahan kemarahannya.
"Dia sudah jadi abu! Bersama tiga orang lainnya!"
Teriak Hasumi.
"Bersama..."
Begitu mengingat salah satu nama dari korban yang jatuh. Tiba-tiba dia membelalakkan matanya sebelum air mata akhirnya mulai mengalir... dengan deras.
"Aaaaaaa...."
Dia marah, dia ingin balas dendam, dan dia ingin menyalahkan Haruki yang sudah memaksakan pengorbanan semua orang. Tapi dari semua perasaan itu, hanya dua yang mencengkram hatinya paling kuat.
"Yonaaaaaaa...aaaaaa....hikss...aaaaaaaa"
Kesedihan dan kehilangan setelah meninggalnya adik perempuannya yang diberikan misi untuk menyelamatkan Haruki.
"Yona. . . ?"
Setahun yang lalu. Yona bergabung dengan peletonnya. Mereka sendiri tidak pernah dekat, tapi dia tahu kalau keberadaannya selalu bisa membuat suasana kelompoknya jadi hangat dengan kepribadiannya yang bersinar.
"Tidak mungkin... aku tidak"
...bermaksud untuk mengorbankan siapapun.
Sihirnya tidak memberitahukan apapun tentang kematian Yona dan juga dua orang lainnya. Dia hanya ingin menyelamatkan teman baiknya dari kematiannya, dan hal itu harusnya selesai dengan akhir yang bahagia ketika dia berhasil melindungi temannya yang kepalanya hampir tertembus panah. Bukannya sebuah akhir di mana dia gagal menyelamatkan siapapun dan bahkan melibatkan orang yang tidak bersangkutan ke dalam kemalangannya.
"Bagaimana bisa. . ?"
Hari itu, Haruki menemukan batas dari sihirnya dan juga kenyataan kalau pusat komando bersedia mengorbankan banyak orang hanya untuk menjaganya tetap hidup.
Bulan 8 Tahun 895
Wuuusshshhhh….
Suara angin membelai telinga Haruki. Membelai mungkin kata yang terlalu lembut mengingat angin yang menabrak wajahnya punya kecepatan yang tinggi sebab saat ini. Dia sedang terjun bebas dari sebuah tebing tinggi bersama dengan Hattori yang sedang menggendongnya. Pemuda yang sama sepertinya, juga adalah anggota dari pasukan cadangan.
Keduanya sedang mencoba kabur dari pasukan musuh yang mengejar mereka sampai beberapa saat yang lalu.
"Hey Haruki, kenapa kau melakukan semua ini?"
Posisi resmi Haruki dalam pasukan cadangan adalah seorang strategis. Meski pemuda itu tidak selalu ditempatkan dalam posisi di mana dia harus memimpin sebuah pasukan, tugas umumnya masih tetap membimbing kelompok di mana dia ditempatkan ke arah kemenangan dan meminimalisir korban yang jatuh dari pihaknya.
Walau mungkin dia perlu ke lapangan, tapi tugas utamanya adalah membuat rencana dan strategi untuk rekan-rekannya ikuti dan laksanakan meski harus mengorbankan nyawa mereka.
"Kau sadar kalau tidak bisa terus melakukan hal bodoh semacam ini kan?"
Tapi Haruki menolak untuk hanya "meminimalisir" korban dari pihaknya. Haruki adalah tipe orang yang menganggap kalau kehilang satu orang adalah kekalahan dan meninggalkan seseorang adalah kesalahan. Dia adalah seorang strategis yang tidak bisa menganggap anak buahnya hanya sebagai alat.
"Strategiku adalah yang paling efisien"
Sejak kegagalannya untuk menyelamatkan senior dan juga teman-temannya. Haruki menyadari kalau tindakan personal yang pengaruhnya hanya mencapai lingkaran sosial kecilnya saja sama sekali tidak ada gunanya dalam gambaran yang lebih besar. Kekuatannya tidak bisa dia gunakan untuk melindungi semua orang. Orang yang secara fisik jauh darinya dan orang-orang yang secara mental jauh darinya tidak bisa dia selamatkan meski dengan bantuan dari sihirnya sekalipun.
"Dengan melakukan sabotase sendiri, aku bisa memastikan keselamatan semua orang"
Dan sebab dia hanya perlu menyelamatkan dirinya sendiri dalam misi solonya. Haruki bisa bertindak dengan jauh lebih bebas dan mengambil tindakan beresiko sebesar apapun.
"Efisien dengkulmu! Kalau aku tidak menyelamatkanmu kau sudah lima kali mati"
Haruki mungkin kuat dan pintar, tapi ketika musuh mengepungnya. Hal yang bisa dia lakukan sangat terbatas. Untungnya, setiap kali pemuda itu terpojok. Seseorang dari pasukan cadangan selalu saja bisa menyelamatkannya.
Mengingat sihir yang dimilikinya, mungkin saja Haruki percaya diri kalau dia bisa lolos dari maut. Tapi bagi rekannya yang lain, kegiatan cerobohnya itu selalu membuat pemimpin mereka mendapat sakit jantung. Selain itu, takdir adalah sesuatu yang bisa dirubah. Satu salah langkah saja, hanya namanya saja yang bisa pulang.
"Tapi kau datang menyelamatkanku"
"Kau in…"
Zaapp…
Haruki menangkap sebuah anak panak yang mengarah langsung ke kepala kepalanya dengan tangan kanannya. Dia melakukannya dengan sangat mudah seakan dia tahu kapan dan benda itu akan melayang ke targetnya.
"Jangan pedulikan lukaku, lari lebih cepat"
Tangan kiri Haruki patah dan tidak bisa digerakan lagi. Dengan maksud agar tidak membuat lukanya jadi lebih parah. Hattori tidak berlari dengan kecepatan penuh dan menggunakan sihirnya untuk memperlambat kecepatan jatuh mereka. Mungkin karena itulah seseorang masih bisa menyerang mereka dari jauh.
"Kalau kau terus melakukan hal seperti ini! Kau akan mati duluan!"
Dan kalaupun tidak, pusat komando pasukan cadangan akan memberinya hukuman yang pahit.
"Aku tahu!"
Setelah itu, keduanya berhasil kabur dari pasukan musuh. Dan malam harinya, Pasukan yang Haruki pimpin dengan mudah menaklukan benteng musuh meski dengan jumlah prajurit yang pas-pasan.
Ada yang terluka, tapi tidak ada satupun dari anak buahnya yang gugur.
Pertempuran itu adalah kemenangan mudah mereka yang ketiga kalinya. Meski awalnya mereka bingung bagaimana mereka bisa menang dengan semudah itu. Setelah tiga kali terjadi, mereka mulai berpikir kalau musuh mereka hanyalah kumpulan orang bodoh yang lemah.
Bulan 9 Tahun 895
"Apa maksudnya ini Takara!"
"Harusnya aku yang tanya begitu Haruki! Apa yang kau lakukan di sini?"
Haruki harusnya sedang sibuk menggali parit di salah satu benteng dekat pusat komando. Bukan di sini, di ruang kerja pemuda yang secara hirarkial adalah bosnya, di depan Takara. Generalisimo dari pasukan koalisi dan juga rekannya dalam pasukan cadangan.
"Jangan pura-pura bodoh! Kenapa kau mengeluarkanku dari pasukan koalisi?"
"Mengeluarkan? Kau bahkan tidak pernah jadi bagian dari pasukan koalisi! Kau adalah anggota pasukan cadangan Yamato!"
"Takaraaa!!!"
Haruki tahu kalau Takara paham dengan apa yang dia maksud. Sebagai orang yang bertanggung jawab atas operasi pasukan koalisi dan misi pasukan cadangan yang ada di benua Amteric. Tidak mungkin pemuda itu tidak paham kenapa Haruki merasa dia perlu meneriaki rekannya itu.
"Hahh???... Kau masih tidak paham setelah dihukum terang-terangan seperti ini? Atau kau hanya menolak untuk paham?"
Kali ini Haruki tidak mengatakan apa-apa dan hanya bisa mengepalkan tangannya.
Pertama. Pusat komando tidak ingin agar prajuritnya bergantung pada Haruki.
"Kau membawa pengaruh buruk pada pasukan yang kau pimpin"
Sebab Haruki selalu menyabotase musuh terlebih dahulu, pasukannya selalu bisa menang dengan relatif mudah. Meski secara hasil hal itu kedengaran bagus, tapi apa yang dilakukannya berakhir membuat prajurit-prajurit di bawahnya menjadi punya tendensi untuk meremehkan musuh dan menganggap kalau kemampuan mereka lebih tinggi dari yang sebenarnya.
Dengan pertimbangan itu, para petinggi Yamato menyuruh Takara untuk menyingkirkan keterlibatan Haruki dari pertempuran-pertempuran yang tidak mereka anggap krusial.
"Jangan main-main! Alasan bodoh macam apa itu?"
"Mereka juga tidak ingin mengambil resiko kau jatuh di medan pertempuran"
"Hahh???"
Kedua. Pusat komando tidak ingin mengambil resiko kehilangan Haruki.
Berdasarkan informasi yang mereka dapatkan. Serangan kali ini akan dipimpin oleh jendral dari Hispain yang terkenal tidak pernah kalah. Hanya saja, tidak seperti Haruki yang menggunakan strategi cerdik dan solid untuk meminimalisir korban, satu-satunya strategi yang jendral ini tahu hanyalah menyuruh menyerang musuh dengan jumlah prajurit yang jauh lebih banyak dari lawannya.
"Selain itu dia juga terkenal tidak mau mendengarkan nasehat dan dari siapapun"
Jika Haruki berani memberikan opininya, pemuda itu kemungkinan besar hanya akan berakhir dikirim ke garis depan. Dan jika orang itu sampai melihat kemampuan Haruki, dia akan mencari berbagai cara untuk menjadikan pemuda itu anak buahnya. Dengan, atau tanpa kekerasan.
Lalu ketiga. Pusat komando ingin menghukum Haruki dengan membuatnya hanya bisa melihat teman-temannya jatuh di medan perang tanpa bisa melakukan apa-apa.
Seperti yang Hattori katakan, akhirnya Haruki mendapatkan hukuman pahitnya.
Tiga hari kemudian. Haruki mendapatkan laporan kalau tiga anggota pasukan cadangan, dan enam puluh empat anggotanya pasukan koalisi terbunuh di medan perang dengan ratusan mengalami luka berat dan empat puluh mendapatkan kecacatan permanen.
Bulan 4 Tahun 896
Setelah menerima hukuman dari pusat komando. Haruki memutuskan untuk tidak lagi mencoba dekat dengan siapapun agar sihirnya tidak aktif. Pemuda itu memutuskan untuk jadi orang yang seniornya minta.
Menjadi seorang pemimpin yang bisa menganggap orang-orang yang ada bawahnya hanya sebagai alat dan angka.
Saat ini, dia bisa mengirim anak buahnya untuk maju tanpa keraguan. Dia juga bisa dengan mudahnya mengorbankan beberapa orang demi "kebaikan" lebih besar. Pemandangan puluhan peti mati berisi mayat-mayat anak buahnya yang dikirimkan pulang tidak bisa lagi membuatnya merasakan apapun.
Haruki yang sekarang adalah strategis yang tidak punya perasaan dan efisien dalam melakukan misinya.
"Haruki Youta, apa benar kau melakukan pembunuhan berencana terhadap Duke Aidan Pearse?"
Atau begitulah yang para petinggi Yamato Harapkan darinya.
"Aidan Pearse adalah orang serakah yang tidak punya pendirian dan tidak memihak pada siapapun kecuali dirinya sendiri"
Duke Pearse dari Amteric adalah seseorang yang keserakahannya tidak ada batasnya. Selama konflik antara Amteric dan pasukan koalisi berlangsung, dia menerima keuntungan dari penjualan senjata dari Albion dan Hispain ke semua pihak.
Dengan latar belakang itu, tidak heran jika pria itu ingin agar konflik terus berlanjut. Tidak jarang dia menghasut penguasa dari daerah tetangganya untuk ikut bertempur, dan tidak jarang juga dia sengaja membuat masalah untuk mengadu domba siapapun yang ada di sekitarnya hanya agar dia bisa meraup keuntungan besar.
Jika orang itu hilang dari peta konflik, maka daerah yang dikuasainya akan dengan mudah distabilisasikan.
"Apa kau menerima perintah dari pusat komando pasukan cadanga atau keluarga kerajaan?"
"Tidak, aku melakukannya atas kehendakku sendiri"
Mendengar hal itu, rekan-rekannya dari pasukan cadangan memasang wajah pahit. Sedangkan para petinggi yang menghadiri sidang militernya merasa geram dan bingung.
"Selanjutnya! Apa benar kau memberikan informasi palsu pada pasukan sekutu dari Hispain yang menyebabkan jatuhnya banyak korban dari pasukan mereka"
"Mereka mencoba melakukan hal yang sama pada pasukan Yamato, aku hanya membalikan keada…"
"Yang terakhir!"
Haruki ingin menjelaskan justifikasinya, tapi jaksa penuntutnya langsung memotong kata-katanya.
"Apa benar kau menyulut perang saudara di kerajaan Divos?"
"Ya!"
"Hahhh…."
Tugas penuntut tentu saja seperti namanya, menuntut keadilan dari tersangka yang sedang diadili. Tapi, dalam kasus ini dia sama sekali tidak senang dengan bagaimana Haruki bahkan tidak mencoba mengelak.
"Apa sudah selesai?"
Haruki sempat menjadi seseorang yang hanya mematuhi perintah dari atasannya. Dia sempat jadi seseorang yang mencoba untuk memenangkan pertempuran dengan cara apapun. Tapi usahanya tidak bertahan lama, setahun kemudian dia kembali jadi strategis yang selalu konsisten menyalah artikan perintah dari atasannya demi prajurit-prajurit di bawahnya.
Hal yang tidak mengherankan mengingat kalau pemuda itu adalah seseorang yang bisa dirubah oleh medan perang semudah itu. Dari awal dia tidak akan pernah mencoba untuk menyelamatkan teman-temannya.
"Hukuman apa yang akan kalian berikan?"
Jujur saja Haruki tidak keberatan walaupun dia mendapatkan hukuman mati dengan alasan dia sudah jadi pengkhianat negaranya sendiri. Dia merasa menyesal sebab hal itu akan membuat orang tuanya sedih. Tapi sebagai seseorang yang sudah bertanggung jawab atas kematian sangat banyak orang, dia pantas mendapatkan hukuman itu.
Dia menginginkan hukuman yang sepadan dengan dosanya.
Pemuda itu sudah muak menyuruh anak buahnya untuk mati. Dia sudah lelah mengorbankan orang lain untuk menyelamatkan teman-temannya. Dan dia sudah bosan memubunuh seseorang demi kepentingan sendiri.
Haruki tidak ingin lagi jadi monster.
"Hukumanmu adalah…."
Bulan 6 tahun 897
“Ugh… kepalaku sakit”
Haruki membuka matanya dengan tubuh yang sakit dan kepala serta mata yang tidak kalah sakitnya. Selain luka fisik yang dia dapatkan dari musuh, rasa sakitnya juga dia dapatkan dari penggunaan sihirnya yang terlalu berlebihan.
“Jam berapa sekara…”
Ketika Haruki ingin duduk, tiba-tiba dia menyadari kalau tangan kirinya sedang dipegang erat oleh seseorang.
“Amelie?... ahh….”
Dengan lembut, Haruki melepaskan tangannya dari pegangan gadis itu.
Melihat Amelie yang tertidur terduduk dengan hanya setengah badannya di atas kasurnya, Haruki ingin melakukan lebih dan menempatkannya pada posisi yang lebih nyaman. Tapi tubuh bagian atasnya terlalu sakit dia tidak bisa memegang tubuh gadis di sampingnya yang biasanya bisa pemuda itu angkat dengan mudah.
“Ughh… tidak heran!”
Dia memegang pundak, dada beserta perutanya. Dan Haruki bisa merasakan adanya luka sayatan diagonal yang membentang dari pundak kiri sampai pinggang sebelah kanannya dari balik perban yang melilit tubuhnya. Sebuah luka yang pemuda itu dapatkan setelah mencoba melindungi seorang prajurit koalisi.
“Aku benci sihirku yang tanggung ini!”
Lukanya sendiri sudah dijahit dan diperban, untuk ukuran pertolongan pertama. Perawatan lukanya cukup bersih dan menyeluruh. Hanya saja, semua itu tidak bisa menghilangkan rasa sakit yang dirasakannya. Dia bisa sadar dan bergerak sehari setelah perawatannya adalah bukti kalau pemilik sihir adalah spesies yang spesial.
“Mnghh….Haruki”
Mungkin karena Haruki terlalu banyak bergerak. Amelie terbangun dari tidur tidak nyenyaknya. Dan begitu dia membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah Haruki yang kelihatan kesakitan.
“Ja-jangan banyak bergerak! Nanti lukamu terbuka lagi”
Dengan panik, Amelie langsung berdiri dan pelan-pelan mendorong Haruki kembali ke kasurnya.
“Kalau kau butuh sesuatu, bilang saja padaku”
Melihat wajah khawatir gadis itu, Haruki tidak bisa melawan dan memutuskan untuk kembali berbaring sesuai perintahnya. Lalu, merasa agak canggung. Dia mencari topik lain untuk dibicarakan, dan topik yang dia pilih adalah…
“Apa Erwin baik-baik saja?”
Topik yang benar-benar tidak perlu untuk dibicarakan.
“Kau tidak perlu khawatir, dia baik-baik saja! Sekarang dia sedang membantu staf medis untuk merawat prajurit-prajurit terluka yang lain”
“Ahahaha sudah kuduga”
Bukan hanya teman masa kecilnya itu baik-baik saja, sekarang dia juga sedang sibuk menolong orang lain.
“Aku benar-benar iri padanya”
Seperti yang sudah semua orang lihat. Erwin bukan hanya kuat, tapi juga pintar dan cerdas. Selain itu, pengetahuannya sangat luas sampai pada dasarnya dia bisa melakukan apapun yang dia mau jika dia serius. Haruki percaya kalau teman masa kecilnya itu punya kemampuan untuk menghentikan perlawanan pasukan pemberontak sendirian jika dia mau.
Yang sayangnya? Atau beruntungnya tidak akan dia lakukan sebab efek sampingnya akan terlalu besar.
“Aku juga…”
Ucap Amelie.
“Amelie…”
Kalau saja dia lebih kuat, Amelie akan bisa membantu Haruki di garis depan dan mencegahnya mendapat luka yang separah ini. Kalau dia punya pengetahuan yang lebih banyak, Amelie juga tidak akan perlu menunggu tim medis dan Erwin untuk memberikan pertolongan yang lebih berarti sebab dia tidk bisa menolong pemuda itu sendiri.
Amelie merasa kalau kontribusinya pada pertempuran ini sangat kecil sampai partisipasinya sepertinya tidak ada artinya.
"Tapi Haruki, kau berhasil melakukan sesuatu yang hanya bisa kau lakukan"
Erwin mempunyai banyak bakat, tapi di antara semua itu. Memimpin bukanlah sesuatu yang dia kuasai atau suka lakukan. Meski dia bisa melakukannya, dia bukanlah ahli dalam hal itu. Sebab pemuda itu, adalah tipe orang yang bisa memaksimalkan kemampuannya ketika dia sendiri. Lain dari Haruki, yang semakin kuat ketika dia memiliki lebih banyak rekan dan kawan.
"Kau sudah berusaha semampumu!"
Manusia bisa membuat rencana, tapi yang menentukan hasilnya adalah yang di atas…
"Tidak! Aku tidak berusaha semampuku!"
"Hah?"
"Aku bisa melakukan lebih tapi…"
Tapi dia tidak melakukannya.
Sihirnya bisa melakukan lebih, tapi dia sengaja tidak menggunakannya untuk orang lain. Dia sengaja lari dari tanggung jawabnya demi melindungi mentalnya sendiri. Membuat akhirnya, semua orang yang bisa dia lindungi berakhir di bawah tanah.
“Haruki…”
Amelie ingin membuat pemuda itu merasa lebih baik. Tapi dia tidak tahu harus mengatakan apa. Gadis itu paham kalau Haruki merasa bertanggung jawab atas gugurnya rekan-rekan mereka di pasukan koalisi. Hanya saja dia tidak paham “kenapa” dia merasa bertanggung jawab atas semua hal itu.
Pemuda itu bilang kalau dia “bisa” menyelamatkan mereka. Tapi sudah jelas kalau Haruki tidak ingin membicarakannya lebih lanjut.
“Maafkan aku…”
Karena itulah, daripada menggunakan mulutnya. Amelie memilih untuk menggunakan tubuhnya untuk mengutarakan perasaannya. Gadis itu memindahkan diri ke kasur Haruki dan duduk di samping pemuda itu sebelum meniru perbuatan ibunya ketika wanita itu ingin menenangkannya.
Gadis itu memeluk Haruki dengan pelan.
“... Amelie…”
Haruki mencoba mendorong gadis itu. Tapi Amelie sama sekali tidak mengindahkannya. Malah sebaliknya, dia semakin mengeratkan pelukannya dan mendorong kepala Haruki lebih dalam ke dadanya.
Dia tidak mengatakan apa-apa. Tapi, mungkin justru itulah yang saat ini Haruki butuhkan. Sebuah ketenangan.
Tidak lama kemudian, Haruki melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu dan balik memeluknya dengan erat.
7
Meski di tempat itu ada banyak orang. Suara yang terdengar datang hanya dari beberapa orang yang sedang menangis, sekelompok burung yang sedang terbang balik ke selatan, dan juga serangga-serangga yang mulai keluar di musim panas.
"..."
"..."
"..."
Saat ini Haruki, Erwin dan Amelie sedang berada di bagian belakang benteng yang sekarang dijadikan lahan pemakaman darurat. Proses penguburan korban-korban pertempurannya sendiri sudah selesai sebelum matahari terbenam, tapi meski hari sudah gelap. Masih ada banyak prajurit yang datang untuk memberikan salam terakhir mereka pada rekan-rekannya.
Di antara semua orang itu, ketiganya juga sedang memberikan kunjungan. Hanya saja, tidak seperti yang lain. Mereka tidak mengunjungi satu orang spesifik. Mereka hanya berlutut di depan lokasi pemakaman, menutup mata dan mengatupkan kedua tangan di depan dada masing-masing. Mendoakan semua yang sudah gugur dalam pertempuran.
Sebab kedua belah pihak sedang sibuk mengurus korban yang sudah jatuh, saat ini tidak ada yang cemas kalau-kalau musuh tiba-tiba menyerang. Jika kau memperhatikan pemandangan dari arah kamp pasukan pemberontak, kau bisa melihat kalau ada api besar yang sedang berkobar dan menerangi sekitarnya.
Api itu bukan dari sebuah serangan pasukan koalisi. Melainkan sebuah api unggun yang dibuat untuk mengkremasi korban yang jatuh di pihak mereka sebab mereka tidak punya lahan atau tidak ingin mengubur rekan-rekannya di tanah sembarangan.
Korban yang tempat tinggalnya cukup dekat mungkin akan dikirim mayatnya, tapi bagi yang jauh dan tidak bisa dipulangkan. Mereka dibakar dan hanya dikirim balik abunya saja.
"Kau sudah menyelamatkan banyak orang, fokus pada yang masih hidup"
Yang pertama mengangkat kepala dan berdiri adalah Erwin, pemuda itu menepuk pundak Haruki sebelum meninggalkan kedu teman masa kecilnya. Dia berpikir kalau memberikan Haruki ceramah hanya akan membuat keadaan mentalnya semakin buruk. Oleh sebab itulah, dia memutuskan untuk memberikan pemuda itu waktu untuk berpikir sendiri.
"Haruki…"
Yang selanjutnya berdiri adalah Amelie. Tapi, tidak seperti Erwin. Gadis itu memilih untuk terus menemani pemuda di sampingnya. Dia berpikir kalau meninggalkan Haruki yang sedang depresi hanya akan membuat pikiran negatifnya semakin dalam. Oleh sebab itulah, dia ingin terus bersama dengan pemuda yang adalah senior dan juga teman masa kecilnya itu.
"Ayo kita per…"
Begitu Amelie ingin menepuk pundak Haruki dan mengajaknya pergi, tiba-tiba sebuah suara kencang menggelegar di tempat itu. Membuat orang-orang di sekitar mereka melihat ke arah ketiganya.
"Jangan sombong!"
Dan orang itu adalah Butsuma, yang sama seperti mereka. Baru saja selesai memberikan ucapan selamat tinggalnya pada beberapa anak buahnya.
"Di sini aku yang berkuasa! Kau bukan siapa-siapa!"
Haruki mungkin yang memberikan ide dan strategi. Tapi seperti yang pria itu bilang, di tempat itu. Butsumalah yang berkuasa atas semua orang. Dialah yang memutuskan untuk menerima ide Haruki, dan dia jugalah yang memerintahkan anak buahnya untuk menjalankan strateginya. Bukan Erwin, bukan Haruki, tapi dirinya. Dan hanya dirinya.
"..."
Haruki sendiri tidak bereaksi, tapi Amelie yang sedari tadi malah khawatir akhirnya bisa sedikit tersenyum.
Ucapan Butsuma mungkin terdengar kasar dan sombong, tapi kau tidak perlu pintar untuk tahu kalau pria itu ingin menunjukkan kalau apa yang terjadi adalah tanggung jawabnya. Sepertinya, di tempat itu bukan hanya Amelie dan Erwin saja yang peduli pada Haruki.
Tidak lama kemudian, akhirnya keduanyapun ikut pergi.
Mungkin karena banyak orang masih sibuk mengurusi sisa akibat dari pertarungan mereka dengan pasukan pemberontak. Lorong yang Amelie dan Haruki gunakan untuk kembali ke ruangan masing-masing tidak terlalu ramai. Selain keduanya, hanya ada beberapa orang yang sesekali lewat dan berpapasan dengan mereka.
Membuat suasana di antara mereka sangat tenang.
Terlalu tenang malah.
“Apa kau tidak ingin menanyakan apapun padaku?”
Ucap Haruki. Memecah ketenangan itu.
“Tanya tentang apa memang?”
Jawab Amelie, tanpa melihat ke arah pemuda di sampingnya. Hal yang membuat Haruki menatap kepada gadis itu dengan pandagan yang seakan bertanya “apa kau bodoh atau kau pura-pura bodoh?”
“...”
Sebaliknya, Amelie yang merasakan pertanyaan yang bahkan tidak pemuda di sampingnya ucapkan itu akhirnya memutuskan untuk buka mulut.
“Apa kau ingin agar aku tanya tentang rahasiamu sebagai anggota pasukan elit? Atau rahasiamu kalau selama ini kau ini memata-mataiku?”
“Dua-duanya…”
Amelie berhenti sejenak sebelum akhirnya menatap mata Haruki secara langsung.
“Sejujurnya aku sudah lama curiga, tapi baru kali ini aku bisa memastikannya”
Akademi militer Yamato adalah tempat yang menjunjung tinggi asas meritokrasi. Kompetensi adalah hal yang paling penting di tempat itu. Dan Haruki, untuk suatu alasan diizinkan untuk tinggal nilai dan kelakuannya yang tidak bisa dibilang baik. Kau tidak perlu jadi orang jenius untuk mengetahui kalau ada sesuatu dibalik situasinya.
“Ketika aku melihat kawat berduri, aku benar-benar kaget”
Dalam sejarah pertempuran-pertempuran yang sudah dia pelajari di buku sejarah. Dia tidak pernah sekalipun menemukan penggunaan benda itu di medan pertempuran. Dengan kata lain, penggunaannya baru dimulai belum lama ini sampai mereka belum masuk ke dalam laporan dan buku yang digunakan oleh akadami militer Yamato.
Selain itu, dia juga menemukan ada banyak kotak-kotak satu ukuran yang menumpuk di salah satu pojok benteng. Hal yang menunjukan kalau pasukan koalisi sudah melakukan standarisasi dalam transportasi suplainya.
Kawat berduri adalah sesuatu yang dia ucapkan secara tidak sengaja ketika dia sedang mengobrol dengan Haruki. Lalu, standarisasi transportasi adalah sesuatu yang dia rencanakan untuk Amelie jadikan topik ujian tertulisnya nanti. Hal yang sekali lagi.
Baru dia bicarakan dengan Haruki secara personal.
Jadi bagaimana bisa semua hal itu sudah ada di medan pertempuran?
Jawabannya hanya satu.
“Aku adalah anggota pasukan cadangan”
Dan pemuda itu melaporkan isi percakapan mereka pada atasannya.
“Pasukan cadangan?”
Ya, Haruki tentu saja tidak bisa mendapatkan reuni dengan Amelie secara kebetulan. Petinggi Yamato memutuskan jika hukuman atas semua perbuatannya di medan pertempuran adalah kembali ke akademi, jadi badut di sana, dan yang terakhir. Menjadi mata-mata untuk mengawasi Amelie dan juga memeras semua informasi yang bisa dia dapatkan dari gadis itu.
"Divisi militer rahasia yang disembunyikan dari publik"
"Ehh... jadi kalian itu seperti agen rahasia huh"
"Agen rahasia?"
"Ahahahah...."
Amelie hanya tertawa dan menolak untuk menjelaskan apapun tentang apa yang dia maksud dengan agen rahasia.
“Amelie? Hanya itu saja? Reaksimu hanya itu saja? Kau sadar kalau selama ini aku sudah bohong padamu kan? Aku sudah menipumu! Aku sudah memanfaatkanmu!”
Tujuan utama Amelie masuk ke akademi militer dan mengikuti ujian lapangannya adalah untuk membantu Haruki lulus. Tapi bukan hanya pemuda itu sebenarnya pemuda itu tidak membutuhkan bantuan siapapun, dia juga bahkan tidak menginginkannya. Dan Amelie sudah menghabiskan bukan hanya tenaga, tapi juga waktu dan pikiran serta bahkan membahayakan nyawanya sendiri untuk tujuan ini.
Sebuah tujuan yang tidak ada gunanya. Sebuah tujuan yang sia-sia.
“Kau punya hak untuk marah dan membenciku!!!”
Semua waktu yang dia sia-siakan untuk Haruki harusnya bisa dia gunakan untuk mengejar impiannya sendiri. Bukannya dia habiskan untuk mengejar Haruki yang hanya berakhir memanfaatkannya.
“Kalau kau tidak masuk akademi militer kau tidak akan menderita”
Selama di akademi militer, Amelie selalu mendapatkan perlakuan diskriminatif dari teman-temannya dan bahkan beberapa guru yang mengajar di sana. Selain itu, akademi militer sendiri adalah fasilitas yang keras dan tidak hanya untuk fisiknya. Tapi juga mentalnya.
Di tambah dengan keikutsertaannya dalam program akselerasi. Beban yang diterima oleh tubuh mudanya bahkan jauh lebih besar dari murid reguler.
“Haruki…”
Amelie melihat ke wajah Haruki dan menemukan pemuda itu sedang memasang ekspresi yang seakan dialah yang semua usahanya jadi sia-sia setelah menguras seluruh darah dan keringatnya. Dan hal itu membuatnya sadar kalau mungkin saja, bagi pemuda itu. Melihat Amelie kesusahan itu menyakitkan.
“Ehehehe…”
Haruki mungkin lebih tua darinya, tapi meski begitu pemuda itu belumlah sepenuhnya dewasa. Karena itulah dia tidak bisa secara bersih memisahkan masalah personal dan profesionalnya jadi dua bagian yang tidak ada hubungannya. Dia adalah anggota pasukan cadangan, tapi dia juga adalah teman masa kecil Amelie yang peduli dan menyayanginya layaknya keluarga.
Melihat gadis yang sudah bersusah payah mencoba membantunya harus menghadapi sulitnya hidup di akademi militer tentu saja membuatnya merasa sakit.
“Haruki, berlutut”
“Hah?”
“Berlutut saja”
Tidak tahu apa yang Amelie inginkan. Haruki menrut dan berlutut di hadapan pemuda itu.
“Kau berpikir terlalu berlebihan”
Memang benar kalau Amelie masuk ke akademi militer demi mengejar Haruki. Tapi, salah besar kalau dibilang dia masuk ke sana hanya demi hal itu saja. Gadis itu juga melakukannya demi dirinya sendiri, atas keinginannya sendiri. Amelie ingin mencoba hal baru, dan dalam waktu yang sama. Membuktikan pada orang-orang yang mencibirnya, kalau dia lebih baik dari mereka semua.
“Aku tidak akan membencimu hanya karena hal kecil semacam ini”
Amelie meraih kepala Haruki dan mulai membelainya. Layaknya seorang Ibu yang bilang pada anaknya, tidak apa-apa kalau dia sudah memecahkan piringnya.
“Hal kecil?”
“Ya, hal kecil”
Amelie adalah seorang sandera politik. Dia sudah siap kalau kehidupannya dimonitor dua puluh empat jam oleh orang-orang dari Yamato. Ketika datang ke sana, dia bahkan sudah bersiap kalau-kalau dia di interogasi tentang keadaan internal negara asalnya. Jadi, mengetahui kalau ternyata Haruki yang melakukan semua tugas itu tidak terlalu mengejutkannya.
Malah sebaliknya, dia bersyukur akan hal itu. Sebab, diawasi oleh Haruki lebih baik daripada diawasi oleh orang yang tidak dia kenal.
“Kau bilang kalau kau memanfaatkanku? Aku juga melakukan hal yang sama”
Keberadaan Haruki membuatnya merasa aman meski berada di tengah orang-orang yang membencinya. Dan meski pemuda itu mencoba menyembunyikannya, Amelie tahu kalau di balik layar Haruki melindunginya dari teman-temannya yang lebih ekstrim.
Dia masih ingat ketika Haruki berlari kesana-kemari mencari sepatunya yang disembunyikan oleh teman sekelasnya. Dia juga masih ingat ketika provokator yang menggerakan banyak murid untuk membulinya tiba-tiba ketahuan melanggar peraturan dan dikeluarkan dari akademi berkat Haruki yang membongkar rahasianya. Ketika beberapa orang mencoba memojokkannya, pemuda itu juga selalu membantunya membalikkan keadaan. Dan masih banyak lagi dan masih banyak lagi.
“Terima kasih sudah jadi kesatriaku”
Waktunya di akademi militer tentu saja tidak mulus. Ada banyak kesusahan yang dia alami di tempat itu. Tapi waktu yang dia habiskan di sana jauh dari sia-sia. Amelie mendapatkan banyak pengetahuan baru, dia sekarang bisa bela diri dan menggunakan senjata. Selain itu, dia juga bisa tahu lebih banyak tentang dunia mereka dan situasi geopolitik banyak wilayah. Sesuatu yang dia butuhkan untuk membuat teritorinya semakin maju di masa depan.
Dan tentu saja, waktu yang dia habiskan dengan Haruki itu menyenangkan. Karena itulah, dia tidak menyesal sudah bergabung dalam akademi militer.
“Hanya saja….”
Semua hal menyenangkan pasti ada akhirnya.
Besok, reuni mereka akan berakhir. Dan Amelie harus kembali ke negaranya sendiri.
0 comments:
Post a Comment