Saturday, May 16, 2026

Bleak Knight V1C4

 

Chapter 4 : War and Battle



⋆༺𓆩⚔𓆪༻⋆


“Jadi apa rencananya Haruki?.”

“Aku hanya prajurit biasa, tugasku cuma mendengarkan atasan dan menuruti perintahnya kalau logis lalu kabur kalau dia menyuruhku bunuh diri.”

“Kemudian yang terakhir, menerima tamparanku kalau kau tidak menjawab dengan serius.”

“Aku serius. . . .”

Plak.

Telapak tangan Erwin bertemu pipi Haruki.

“Kau benar-benar menamparku…?”

“Itu karena kau tidak serius”

“He? dari tadi aku itu sudah se. . .”

Haruki mundur beberapa langkah setelah melihat Erwin menyiapkan kepalan tangannya. Kalau tangannya mengepal, sudah bukan tamparan lagi namanya. Dan dia tidak ingin menerima pukulan dari orang seperti Erwin yang kemampuan fisiknya jauh di atas manusia normal.

“Tunggu dulu Erwin! meski aku ingin melakukan sesuatupun! di sini aku bukan siapa-siapa!”

Selain itu dia memang benar-benar belum dapat ide apapun.

“Apa yang Haruki katakan itu benar, jadi berhenti membuat keributan”

Amelie mencoba bicara tenang tapi sebagai teman masa kecilnya, keduanya tahu kalau gadis itu hanya pura-pura tidak terpengaruh dengan apa yang sedang terjadi. Saat kecil. Mereka sudah biasa melihat Amelie menangis saat dia sedih, ketika dia takut, dan tentu saja. Ketika dia khawatir.

Saat ini, ketiganya sedang ada di dalam salah satu menara benteng pasukan koalisi. Alasan resmi mereka ada di sana adalah untuk menghormati kedatangan tamu dari Amteric dan juga tuan putri serta pengawalnya. Tapi dilihat dari sibuknya semua orang yang mereka bisa lihat dari jendela ruangan itu, alasan yang lebih logis sepertinya adalah semua orang ingin agar mereka tidak berbuat apa-apa dan mengganggu prajurit yang bertugas.

“Maafkan aku”

Erwin tidak menyesal sudah menampar Haruki, tapi setidaknya dia paham kalau saat ini. Mereka memang tidak bisa melakukan apa-apa. Seperti yang pemuda itu katakan, yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu perintah.

“Mungkin semua orang tidak ingin kita melakukan apa-apa, tapi kita masih bisa melakukan sesuatu seperti mengumpulkan informasi”

Amelie mengisyaratkan Erwin dan Haruki untuk kembali duduk, setelah itu dia membuka peta yang berisi denah dari daerah tempat benteng berada serta struktur dari benteng itu sendiri. Dengan alasan kalau dia memerlukannya untuk mengamankan rencana perjalanan pulangnya, dia berhasil membujuk salah satu petugas benteng untuk meminjamkannya peta.

“Jumlah pasukan di dalam benteng kurang lebih seribu lima ratus sedangkan jumlah musuh diperkirakan sekitar empat ribu.”

Ucap Amelie setelah dua teman masa kecilnya akhirnya mau duduk dengan tenang.

“Empat ribu ya. .  hampir tiga kali lipat dari jumlah kita.”

Erwin memegang dagunya dan mengingat kalau dalam teori, untuk bisa mengalahkan pasukan yang menjaga benteng sebuah pasukan penyerang minimal harus punya jumlah tiga kali lipat pasukan yang bertahan.

“Itu hanya perkiraan jadi jangan terlalu mengandalkan informasi ini. . “

Haruki mengingatkan kalau menghitung jumlah pasukan musuh di situasi seperti sekarang dengan akurat itu hampir tidak mungkin, angka aslinya bisa saja di atas atau di bawah perkiraan. Dan sebagai seseorang yang harus maju ke medan pertempuran tentu saja dia selalu mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

“Selanjutnya. . .”

Amelie mengeluarkan beberapa dokumen lagi.

Sebab pasukan musuh adalah orang-orang yang dilabeli sebagai pemberontak, penyerangan mereka sama sekali tidak diinformasikan dulu layaknya perang pada umumnya. Selain itu mereka tidak bergerak sebagai satu pasukan tapi sebagai kelompok-kelompok kecil yang baru menyatu di titik yang telah ditentukan.

"Dengan begitu mereka bisa bergerak dengan cepat tanpa menarik terlalu banyak kecurigaan"

Dengan luasnya wilayah yang mereka harus jaga dan terbatasnya personel dan logistik yang bisa pasukan koalisi sediakan. Mereka tidak bisa memeriksa setiap jalur yang pasukan pemberontak bisa gunakan dan hanya fokus pada jalan-jalan besar saja. Membuat orang yang hafal dengan area itu bisa bersembunyi dengan mudah.

"Yang artinya, kita tidak tahu ada berapa banyak lagi musuh yang akan datang"

Dengan strategi itulah sampai-sampai pasukan koalisi bisa kecolongan dan tiba-tiba menemukan posisi pasukan musuh yang sudah terlalu dekat dan besar untuk diatasi.

Beberapa orang yang bisa lolos dari serangan kembali ke benteng dan memberitahukan situasinya, tapi persiapan yang mereka lakukan dibuat terlalu buru-buru sehingga efeknya tidak punya pengaruh besar.

Setelah itu. Begitu pasukan pemberontak melakukan serangan kejutan. Pertahanan dari pasukan koalisi langsung runtuh dengan mudah. Memaksa semuanya harus mundur ke dalam benteng dan membiarkan pengepungan terjadi.

“Kemarin pasukan koalisi mencoba menyerang balik dari dalam benteng tapi hasilnya tidak terlalu bagus.”

Di hari kelompok kecil Amelie sampai di benteng, pasukan koalisi sedang mencoba menyerang balik pasukan musuh dengan menggunakan meriam dan panah dari dalam benteng. Tapi serangan itu segera dihentikan.

Mereka berhasil menjatuhkan korban dari pasukan pemberontak, tapi jumlah mereka tidak seberapa.

“Kenapa?...”

Tanya Erwin.

Menembak dari posisi tinggi akan menambahkan kekuatan dan jarak jangkau pada senjata yang digunakan, dengan kata lain posisi tinggi adalah tempat ideal untuk melakukan serangan balasan dari jarak jauh. 

"Harusnya kau yang lebih tahu"

Haruki heran.

"Hey, aku hanya tamu!"

Selama pemuda menginap di benteng, gerakannya selalu dibatasi dan dia juga tidak diperbolehkan ikut campur urusan militer. Oleh sebab itulah, dia tidak bahkan tidak tahu keadaan pasukan koalisi secara pasti sampai Amelie yang baru datang saja bisa tahu lebih banyak tentang situasi mereka.

Tentu saja, fakta kalau dia tidak terlalu peduli dengan nasib pasukan koalisi juga ikut andil dalam kebutaannya. Bagi Erwin, tempat itu hanyalah tempat istirahat sementara yang bisa dia tinggalkan kapan saja.

"Coba lihat lagi petanya"

Amelie menyodorkan peta lebih dekat ke Erwin. Dan begitu pemuda itu melihat lebih dekat…

"Ahhh. . . . suplai"

Di bagian belakang benteng mereka adalah sebuah gunung batu besar yang curam. Dengan adanya benteng natural itu, lokasi benteng buatan mereka akan aman dari serangan musuh. Tapi di sisi lain, mereka juga akan terkurung ketika musuh berhasil menguasai area di sekitar mereka.

Tanpa adanya rute yang bisa digunakan untuk transportasi, mereka bahkan tidak bisa mengharapkan suplai dari manapun. Karena itulah, mereka berhenti melakukan serangan balik setelah melihat hasilnya tidak terlalu efektif.

Benda seperti proyektil meriam, Palet, dan juga anak panah tidak tumbuh dari pohon. Mereka harus dibuat seseorang dan dibeli lalu dikirimkan. Dan bagi pasukan koalisi yang kondisinya terkepung tidak mungkin mereka bisa melakukan suplai ulang. Masalah ini bukanlah hal yang bisa diselesaikan dengan uang.

"Hmm. . . untuk ukuran serangan pasukan pemberontak, semuanya kelihatan terlalu direncanakan dengan baik"

Kali ini, Erwin menyodorkan peta di depannya lebih dekat ke Haruki.

"Ya, level koordinasi! perencanaan, formasi dan persenjataan mereka terlalu tinggi!"

Seperti seakan mereka sedang menghadapi pasukan profesional dari negara lain.

Alasan kenapa pemberontakan lebih sering gagal daripada berhasil biasanya adalah karena masalah koordinasi. Meski semua orang punya semangat dan tenaga, tapi tanpa koordinasi yang solid. Gerakan pemberontakan mereka bisa dengan mudah diketahui, diawasi, lalu akhirnya. Dibubarkan.

Tapi bukan hanya mereka bisa mengumpulkan cukup orang untuk membuat organisasi yang serius. Koordinasi mereka bahkan sangat bagus sampai mereka bisa mengumpulkan kelompok-kelompok yang terpisah itu untuk menjadi satu pasukan besar yang teratur. Mereka juga untuk suatu alasan mampu mengumpulkan cukup dana untuk mempersenjatai mereka dengan lengkap.

Semua hal ini bisa terjadi kalau mereka punya pemimpin-pemimpin yang sangat kompeten. Tapi di tempat itu tidak ada yang percaya kalau hal itulah yang sedang terjadi. Amelie, Haruki, dan Erwin lebih percaya kalau di balik gerakan pemberontakan ini ada negara besar yang memberikan supportnya.

"Tidak bisa menyerang balik, suplai tipis, dan kita terkepung, bukannya kita sudah di skak mat?"

Erwin menutup matanya, menyilangkan tangannya di depan dadanya, lalu melemaskan badannya sebelum mendorongnya ke sandaran kursinya.

"Hahh…"

Misinya adalah membawa pulang Amelie. Hanya itu. Perang ini bukanlah perangnya, dan dia tidak punya kewajiban untuk berpartisipasi dan membantu mereka. Jika dia ingin pulang. Dia bisa melakukannya. Erwin yakin dia bisa melindungi gadis itu dan mengeluarkannya dari tempat ini. Lalu, walaupun gadis itu tidak ingin pulang. Dia bisa memaksanya.

Tapi meski dia bisa, bukan berarti dia suka memaksakan keinginannya pada gadis itu.

"..."

Erwin membuka sedikit matanya dan menatap Amelie yang masih sibuk mempelajari peta di depannya. Lalu, merasakan kalau dia sedang dilihat. Gadis itu menatap Erwin balik sebelum…

"Aku belum ingin pulang"

Mengatakan hal itu seakan dia bisa membaca pikiran Erwin. Hal yang membuat pemuda itu langsung menghela nafas panjang. Kenapa? karena dia sudah mengantisipasi jawaban semacam itu. Gadis itu tidak akan mau kabur sebelum situasinya benar-benar genting.

"Haaaahhhh. .. ."

Mendapatkan konfirmasi dari dugaannya, Erwin hanya bisa menghela nafas.

Jika mereka dipaksa untuk melakukan perang atrisi. Hanya keajaiban yang bisa membuat mereka tidak kalah. Musuh mereka bahkan hanya perlu menunggu dan semua orang di benteng akan kehabisan makanan dalam mungkin sebulan atau dua bulan. Di saat itu, pasukan koalisi akan dengan mudah dikalahkan.

Selain itu, Amelie juga tidak punya banyak waktu sebab teritorinya membutuhkannya untuk menyelesaikan masalah di rumah. Mereka perlu memenangkan perang dalam beberapa hari atau semuanya akan terlambat. Jika perang ini tidak segera diakhiri, begitu mereka sampai di rumah. Teritorinya bisa jadi sudah dimiliki orang lain.

"Kalau semua orang tidak bisa membuat rencana sampai besok! aku akan membawamu secara paksa! Dengan ataupun tanpa kemauanmu! Paham!?"

Bagi Erwin, keselamatan Amelie jauh lebih penting daripada kemenangan pasukan koalisi ataupun bahkan kelangsungan hidup mereka. Prioritas utamanya hanya itu. Jika sampai besok tidak ada satupun orang yang bisa membuat rencana untuk keluar dari situasi ini. Keadaan mereka hanya akan terus memburuk, dan pada saat itu mau tidak mau dia harus memaksakan kehendaknya.

"Aku…"

Tidak ingin pergi.

Adalah apa yang Amelie ingin katakan.

Tapi sebab dia tahu kalau kehadirannya diperlukan, dan keputusan Erwin datang dari keinginannya untuk melindunginya. Gadis itu memutuskan untuk tidak menyelesaikan kalimatnya.

Plak!

Haruki menepuk tangannya sendiri.

"Sudah! sebaiknya kita istirahat dulu!"

Dan menutup topik pembicaraan mereka.

"Sekarang sudah malam, aku yakin kalau Amelie juga lelah! ide bagus tidak akan muncul saat kau kelelahan"

Kalau bisa, Haruki tidak ingin menggunakan kartu AS-nya. Tapi kalau sudah begini, mau tidak mau dia tidak bisa lagi bersembunyi. Meski kepergian Amelie adalah sesuatu yang pasti, dia tidak ingin berpisah dengannya seperti ini. Di tengah kekacauan. Dia punya banyak hal yang ingin dikatakan pada gadis itu sebelum mereka berpisah, mungkin untuk selamanya.

Hatinya terasa berat, tapi sekali lagi. Dia tidak bisa mencegah kepergiannya. Hanya saja, kalau mereka harus berpisah. Setidaknya Haruki ingin kalau mereka berpisah dalam situasi yang lebih damai, situasi di mana mereka setidaknya bisa mengucapkan selamat tinggal dengan perasaan yang lebih ringan. Bukannya dipenuhi rasa berat dan kekhawatiran.

"Aku akan mencoba mencari lebih banyak informasi, aku yakin masih ada banyak yang tidak kita tahu di lapangan"

Haruki mengangkat peta di depannya, mengisyaratkan dia ingin meminjam benda itu sebelum mulai berdiri dan bersiap untuk keluar ruangan.

"Kau benar, lebih baik kita istirahat dulu! Rekan kalian yang satunya lagi bahkan sudah tidur setelah makan malam!"

Erwin setuju dengan saran Haruki, tapi untuk suatu alasan pemuda itu masih santai dan terus duduk di sofa. Sama sekali tidak kelihatan ingin pergi dari tempat itu.

"Erwin! cuma ingin memastikan! kau tidak ingin tidur di sini kan?"

"Tentu saja aku akan tidur di sini!"

"OK! mengigaunya cukup saat tidur saja! sekarang cepat keluar bersamaku!"

Dengan buru-buru, Haruki mencoba menarik Erwin keluar. Tapi bukannya menurut, pemuda itu malah menggunakan kekuatannya dan membuat tubuhnya menyatu dengan sofa dan lantai di bawahnya.

"Hoii!!"

"Apa kau tidak khawatir dengan Amelie? kau lihat sendiri kalau di luar ada banyak musuh kan?"

"Tempat ini aman!"

Meriam, panah, ataupun senapan mush tidak punya cukup kekuatan untuk mencapai ruangan di mana mereka berada. Dan Haruki yakin kalau tidak ada satupun dari mereka yang akan mengirim pasukan rahasia untuk menculik atau membunuh Amelie. Bukan hanya karena mereka tidak tahu dia ada di sana, penjagaan di luar benteng juga sangat ketat. Selain itu, jika musuh ingin mengincar nyawa seseorang. Pemimpin benteng ini adalah target yang lebih berharga.

"Aku kangen dengannya, dan aku ingin cerita banyak hal padanya juga"

"Kau bisa melakukannya besok!"

"Aku ingin melakukannya sekarang!"

"Langkahi mayatku dulu!!!"

Saat mereka di rumah Amelie di kampung halamannya, hal semacam ini mungkin bukan masalah. Orang-orang di sekitarnya paham kalau Erwin dan Amelie besar bersama dan sudah seperti saudara kandung. Tapi di sini adalah tempat asing di mana semua orang tidak tahu tentang latar belakang mereka. Dia tidak ingin mengambil resiko keduanya jadi bahan omongan orang satu benteng.

Bukan hanya nama baik mereka akan rusak, bisa saja hal itu akan mengganggu kegiatan benteng. Bisa saja ada yang nanti berpikir kalau kau bisa mendekati Amelie dengan mudah dan mencoba melakukan tindakan bodoh. Jika hal semacam itu sampai terjadi, Erwin akan sumber bencana bagi tempat ini.

"Kau tidak perlu berlebihan Haruki!"

Ucap Amelie.

"Aku tidak berlebihaaaan!! kalian berdua benar-benar ….agghh"

Dia lupa kalau bukan hanya Erwin, tapi Amelie juga tidak punya kesadaran tentang posisi mereka sebagai lawan jenis. Sedekat apapun kedua, mereka bukanlah saudara yang sesungguhnya.

"Bagaimana kalau begini saja, kau ikut tidur di sini!"

"Apa kau serius Erwin? kutanya lagi! APA KAU SERIUS?"

Mereka sudah sering tidur bersama, bukan hanya satu di satu ruangan, tapi juga di atas satu kasur. Tapi semua itu terjadi ketika mereka masih kecil. Dan tentu saja, mereka bukan lagi anak kecil. Mereka tidak lagi bisa tidur di bawah satu selimut sambil berpelukan tertawa seperti dulu.

"Aku hanya bercanda! ahahah. . . tentu saja aku tidak ingin jadi bantal gulingmu seperti dulu!"

Erwin tertawa dengan lantang, tapi tentu saja Haruki tidak ada dalam mood untuk ikut tertawa.

"Sudahlah! kalau kau tidak mau pergi aku akan membawa Amelie barak prajurit perempuan!"

Dengan begitu, Erwipun tidak akan bisa mengikutinya. Setidaknya Haruki percaya kalau Erwin masih punya akal sehat yang cukup untuk mencegahnya tidur di tengah kumpulan wanita asing yang dia tidak kenal.

"Maaf, maaf"

Erwin mengangkat tangannya.

"Kalau kalian masih ingin ngobrol, lakukan di luar! atau setidaknya buka pintu ruangan ini dan pastikan tidak ada yang bisa salah paham tentang apa yang kalian lakukan di sini"

Hahh. . . Haruki tidak percaya kalau dia harus mengatakan semua hal itu. Mengesampingkan Amelie yang hanya pernah tinggal sebentar di akademi bangsawan dan tinggal di kota kecil yang populasi anak seusianya bisa dihitung dengan jari. Erwin harusnya paham dan hafal dengan norma-norma sosial bangsawan. Bagaimana dia bisa bertingkah seperti ini?

"Hehh. . . tapi aku tidak ingin orang luar ikut berbagi kenangan denganku, selain itu! kau tahu sendiri kan kalau aku menyimpan banyak rahasia yang tidak boleh didengar orang lain?"

Pemuda itu punya banyak rahasia. Meski di teritori Amelie apa yang dia lakukan dan penemuan yang dia ciptakan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Di luar sana, benda-benda yang dia buat adalah sesuatu yang bisa mengguncangkan sejarah peradaban manusia secara umum.

"Kau hanya perlu menjaga mulutmu!"

"Ehh. . . kalau kau menyuruhku hati-hati saat sedang ngobrol di antara banyak orang luar, sama saja aku tidak sedang ngobrol"

"Jangan banyak pilih-pilih, kau tidak ingin mengulangi kejadian itu lagi kan?"

Benar, Erwin adalah pemuda jenius yang sempat mengubah bagaimana dunia bekerja beberapa tahun yang lalu. Dan itu hanyalah hasil dari satu benda ciptaannya. Satu kesalahan darinya dan dunia mungkin akan berubah sekali lagi.  Haruki tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau keberadaan benda-benda ciptaannya yang ikut tersebar ke dunia luas.

Tunggu dulu! orang luar?

Bagaimana Haruki bisa lupa?

"Erwin! aku baru saja mendapat ide!"

Tiba-tiba Haruki bicara dengan nada yang lebih serius. Hal itu membuat Erwin langsung melihat ke arah Amelie sebelum keduanya menangguk.

"Apa yang bisa kulakukan?"

Tanya Erwin.

"Hal sederhana, kau hanya perlu menjemput rekan-rekanku yang lain!"

"Rekan…Ah. . ."

Amelie akhirnya ikut menyadari apa yang Haruki ingin lakukan. Jika rencananya berjalan dengan lancar, kemungkinan besar mereka bisa keluar dari kondisi buruk ini.


࿈࿈࿈


Sama seperti Yuudai, Erwin adalah salah satu orang beruntung yang memiliki sihir dari lahir. Dia lebih suka menyebut kemampuan uniknya sebagai kekuatan untuk mengeraskan sesuatu. Karakteristik dari kekuatannya lebih ke akurat kalau dideskripsikan sebagai kemampuan untuk mengunci lokasi relatif partikel terhadap partikel lain. Posisi relatif sebuah pada benda lain.

Jika dia menggunakan kekuatannya pada sebuah kain, benang-benang atau lebih tepatnya. Partikel-partikel kain itu akan tidak lagi berpindah sebab lokasi mereka terkunci pada posisi partikel yang lain. Membuatnya tidak lagi digerakkan.

Sebab hasilnya akhirnya adalah sebuah benda menjadi keras Erwin dia hanya bilang kalau kemampuan yang dimilikinya adalah mengeraskan sesuatu. Menjelaskan bagaimana sihirnya bekerja kepada orang lain bukanlah hal mudah.

Kemampuannya sederhana. Tapi aplikasinya sangat banyak. Hanya saja, cara favoritnya untuk menggunakan sihirnya adalah dengan mengeraskan bagian tubuhnya, pakaiannya atau kalau mendesak. Dia bisa mengeraskan seluruh tubuhnya dan jadi benar-benar kebal dari mayoritas bahaya yang datang pada pemuda itu.

Normalnya, kekuatannya hanya berlaku pada tubuhnya atau benda yang menyentuhnya secara langsung. Tetapi, dalam latihannya Erwin juga menemukan kalau dia bisa memperpanjang jangkauan sihirnya dengan hanya menyentuhkan objek yang dia pegang pada objek lain.

Selama dia bisa merasakan kontak di antara dirinya dan benda yang dia ingin manipulasi, pemuda itu bisa mengaplikasikan kekuatannya pada beberapa item dalam waktu bersamaan.

Contoh sederhananya adalah apa yang sedang dia lakukan sekarang.

"Hmmm. . Lumayan tinggi juga"

Saat ini Erwin sedang bergelantungan di tembok benteng menggunakan beberapa batang kayu kecil yang dia gunakan sebagai pengait. Dia menempelkan potongan beberapa kayu kecil dan membentuknya jadi seperti pengait sebelum mengaktifkan kekuatannya. Membuat mereka jadi keras dan tidak bisa terpisah dengan satu sama lain.

Dengan kekuatannya, Erwin tentu saja bisa menjatuhkan diri tanpa terluka. Tapi, mengingat secara literal badannya sekeras batu. Suara yang timbul dari kejatuhannya dari puncak benteng akan terlalu keras dan membuat misi rahasianya tidak rahasia lagi.

Tapi sebuah kekuatannya bukan tanpa celah. Seperti yang sudah dijelaskan tadi, dia memerlukan kontak atau “merasakan kontak” dengan benda yang ingin dia manipulasi. Selain itu, sekeras apapun tubuhnya. Dia tidak bisa menahan serangan dalam bentuk radiasi atau gelombang energi. Dengan kata lain, panas dan dingin masih bisa mempengaruhinya.

Selain itu, sihirnya juga hanya teraplikasi pada tubuh bagian luarnya, yang bisa dianggap positif sebab jika organ dalam dalamnya juga berhenti bergerak maka dia akan langsung mati. Hanya saja, di sisi negatifnya. Meski dia bisa menghentikan serangan proyektil macam apapun, gelombang kejutnya masih tersalurkan pada organ dalamnya. Jadi, meski secara teknis dia bisa menghentikan tembakan sebuah meriam. Kalau bisa dia tidak ingin melakukannya.

“Ughh, jumlah musuh semakin bertambah banyak”

Tepat seperti dugaan Haruki, orang-orang dari daerah lain terus berdatangan dan menambah jumlah pasukan musuh. Meski dia yakin dia lolos dari kepungan mereka meski sendirian, kalau bisa dia tidak ingin melakukan hal yang sekonyol seperti melawan satu pasukan seorang diri.

Dan itu adalah kelemahan dari kekuatannya yang terakhir, atau lebih tepatnya. Kelemahan dari sihir seseorang secara umum.

Sihir berfungsi layaknya kemampuan fisik pada umumnya. Mereka punya stamina dan kapasitas yang terbatas. Kau tidak bisa menggunakannya begitu saja, dan pada suatu poin. Kau akan kehabisan stamina dan energi untuk mengaktifkannya lagi. Lalu, jika kau memaksakan diri, yang terjadi hanyalah kau akan merasakan sebuah kelelahan yang seakan mencapai jiwamu yang terdalam.

Karena hal itulah dia tidak mencoba pergi dengan memanjat gunung batu terjal di belakang benteng menggunakan kekuatannya. Sekali lagi, secara teknis dia bisa memanjat bebatuan itu dengan mudah layaknya manusia laba-laba. Tapi secara praktis, hal itu terlalu beresiko.

“Hmmm. . . . saatnya jadi super elite agent”

Setelah sampai di tanah. Dengan dramatis, dia menutup tudung dari bajunya yang semuanya hitam layaknya pemuda yang tujuan hidupnya adalah memburu bayangan.

Hanya saja, meski dia mencoba kelihatan dramatis. Apa yang dia lakukan sangat jauh dari hal itu.

Secara hati-hati, Erwin mulai bergerak. Dari satu bayangan ke bayangan lain, dari balik benda besar ke benda besar lain, dari parit ke balik pohon, ke semak. Lalu, kalau ada yang mulai curiga atau merasakan kehadirannya. Dia akan menggunakan taktik klise seperti melemparkan batu dan membuat suara di tempat lain atau mematikan lampu dengan melemparkan sesuatu. Semua hal itu lama-lama membuatnya jadi merasa seperti seorang agen rahasia . Menghindari bukan hanya musuh, tapi juga para prajurit yang ada di dalam pihaknya. Dengan posisi benteng berada di bawah gunung, bukan rahasia kalau pasukan musuh pasti menempatkan beberapa mata-mata untuk melihat keadaan dari atas sana.

Berinteraksi dengan prajurit lainnya akan memberitahukan para mata-mata itu kalau dia sedang mencoba keluar. Dan Erwin tidak ingin memberitahu musuh kalau mereka punya rencana untuk menyerang balik.

“...”

Yang ditugaskan pada Erwin adalah menemukan posisi teman-teman Haruki yang masih berada di luar lalu memberikan instruksi yang pemuda itu siapkan pada mereka. Berdasarkan teman masa kecilnya itu, jumlah mereka ada delapan ratus personal.

Meski tidak semuanya selamat ataupun mencoba menuju benteng ini. Haruki yakin kalau mayoritas dari mereka akan menjadikan tempat ini sebagai tujuan akhir. Seburuk-buruknya, setidaknya tiga ratus dari mereka akan datang. Dan kalau semuanya berjalan lancar, mereka setidaknya akan mendapatkan enam ratus prajurit tambahan yang bisa menyerang musuh mereka dari belakang.

Setelah akhirnya bisa keluar dari kawasan benteng dan perkemahan musuh, akhirnya Erwin bisa bergerak bebas.

Haruki sudah memberitahukan jalur mana saja yang kemungkinan besar teman-temannya ambil. Jadi dia bisa mencari dengan mudah. Dan benar saja, tidak perlu sampai satu jam dari area benteng, dia berhasil menemukan satu kelompok yang sedang bersembunyi dan berdiskusi apakah mereka harus mencoba mengontak orang di benteng atau kabur dan menuju pos pasukan koalisi lain.

Kelompok yang ditemuinya bukan bagian dari group yang terdampar bersama Haruki, tapi reputasi sekolah militer Yamato tidak berbohong. Begitu dia menjelaskan posisinya, tujuannya dan rencananya. 

Melihat perintah yang dibawanya berasal dari individu dan divisi yang tidak mereka kenal, murid-murid itu tidak langsung setuju. Tapi mereka memberikan respon yang positif. Mereka langsung paham situasinya dan langsung membuat rencana mereka sendiri dan membantu Erwin untuk mengumpulkan rekan-rekan mereka yang lain untuk membicarakan topik itu lebih jauh.

Mungkin karena keberhasilan mudah pertamanya itulah. Erwin tanpa sadar menurunkan kewaspadaannya.

Ketika dia menuju ke hutan di mana Haruki bilang pemimpin grupnya berada, dia dihadapkan dengan sambutan yang tidak mengenakkan.

Sebuah serangan datang dari belakang dan depannya di saat yang bersamaan. Sebuah tinjuan berat dari depan dan sebuah hunusan pedang dari belakang.

Serangan yang punya resiko besar untuk melukai rekannya sendiri jika meleset itu dilakukan dengan akurat. Erwin juga tidak merasakan keraguan di dalamnya, hal yang menandakan kalau kedua musuhnya memiliki kepercayaan diri bukan hanya terhadap kemampuan masing-masing, tapi juga satu sama lain.

Jika yang mereka serang bukan Erwin, kepala mereka sudah melayang.

“Apa kalian tidak takut tidak sengaja membunuh teman kalian sendiri?”

Beruntungnya, dia adalah Erwin. Karena itulah, pedang yang menyabet lehernya tidak mampu menembus kulitnya dan pukulan keras di keningnya bahkan tidak memberikan bekas luka macam apapun.

Sihir di dunia ini bukanlah sebuah teknik melainkan kemampuan natural yang mereka miliki dari lahir. Jadi, aktivasi kekuatan mereka pada dasarnya hampir tidak memiliki jeda. Dan bagi Erwin yang sudah melatih kemampuannya dari kecil, sihirnya sudah jadi bagian natural dari pertahanan tubuhnya yang bisa aktif sendiri begitu insting dan tubuhnya merasakan bahaya bahkan tanpa perintah.

Dengan kata lain sihirnya bisa bekerja layaknya sebuah refleks seperti kedipan mata, sebuah refleks yang memberinya pertahanan otomatis.

"..."

"..."

Kedua murid akademi militer tadi langsung melompat mundur.

Mereka berdua merasa takut dan kaget, tapi reaksi yang mereka berikan bukan hanya karena kedua hal itu. Melainkan…

Wusshh…

Tiga buah tombak kayu sederhana meluncur dengan cepat ke arahnya dari atas pepohonan yang gelap.

"Apa guru kalian penganut aliran serang dulu minta maaf belakangan?"

Kali ini, Erwin tidak hanya berdiri dan menerima serangan lawan. Dia melompat dan menghindari satu tombak sebelum melepaskan jubahnya manyabetkannya pada dua tombak yang masih menuju ke arahnya. Menangkis kedua benda berbahaya itu dan menjatuhkannya ke tanah.

Tanpa mengandalkan kekuatannyapun, dia adalah petarung yang handal.

"Koordinasi kalian benar-benar hebat"

Setelah menyerang dengan terang-terangan, mereka langsung mengikutinya dengan serangan jarak jauh dari tempat gelap. Sekali lagi, kalau yang jadi objek serangan mereka bukanlah dirinya. Target mereka pasti sudah kehilangan nyawanya. Sebagai prajurit, mereka adalah sebuah kelompok yang efisien.

"Tapi sekali lagi! apa kalian tidak takut membunuh rekan kalian sendiri?"

Hahh…

 

Erwin menghela nafas.

"Jangan salah paham! Aku hafal dengan wajah semua orang di akademi, dan kau mengenakan seragam militer asing!"

Hmmmm….

"Sepertinya, setidaknya kalian bukan prajurit yang tidak punya belas kasihan! tepai teman kalian yang lain masih lebih baik sebab bertanya ini itu dulu sebelum memutuskan tindakan ekstrim seperti ini"

Kemampuan akademik Yuudai mungkin kelas bawah, tapi untuk suatu alasan dia punya kapasitas otak yang cukup untuk membuatnya bisa mengingat wajah semua murid di angkatannya. Jika dia bisa menggunakan kemampuan ingatannya itu untuk belajar, bukan tidak mungkin dia bisa jadi murid top di akademi. Sayangnya, dia adalah tipe orang yang tidak bisa duduk tenang dan membaca.

"Siapa kau!?"

Pemuda itu memakai seragam militer yang tidak mereka kenal. Selain itu, meski tanpa seragam militernyapun, semua orang bisa melihat kalau Erwin bukanlah orang biasa. Dilihat dari manapun, dia bukan orang sipil. Jadi, kemungkinan terbesarnya hanya kalau pemuda itu personal pasukan musuh.

"Harusnya kau tanya dulu sebelum mencoba membunuhku! 

Erwin mengambil sesuatu dari saku celananya, sesuatu yang membuat semua orang jadi waspada.

"Kalian tidak perlu sewaspada itu! Aku bagian dari pasukan koalisi! kalau tidak aku sudah balas menyerang balik dari tadi! "

Tentu saja Erwin bukan bagian dari pasukan koalisi, dia bahkan bukan bagian dari organisasi militer Amteric meski dia memakai seragamnya. Dia mengenakan pakaian itu hanya agar dia tidak dianggap orang asing oleh siapapun yang perlu dia temui untuk menjemput Amelie.

Penampilannya tidak dikenal karena seragamnya adalah seragam pengawal keluarga kerajaan yang sangat jarang keluar dari ibu kota. Tapi menjelaskan semua itu akan memakan terlalu banyak waktu, oleh sebab itulah dia mengaku sebagai bagian dari pasukan koalisi.

"Apa tujuanmu!?"

Memang benar dari tadi Erwin hanya membela diri, tapi kenyataan kalau dia mengenakan seragam militer yang tidak mereka kenal mau tidak mau membuat semua orang harus menebak-nebak tujuannya datang ke tempat itu dan menemui mereka.

"Aku datang untuk memberikan instruksi pada kalian semua, siswa akademi militer Yamato yang masih di luar"

Erwin mengeluarkan sebuah amplop dan mengambil sebuah surat dari dalamnya.

"Apa jaminannya kau tidak berbohong?"

"Mmm…"

Erwin menunjuk sebuah stempel di bagian bawah surat tadi yang membuat mata Yuudai membelalak.

"Stempel pasukan… cadangan?"

"Mau mendengarkan apa yang kukatakan?"

Yuudai melihat ke belakang dan mengangkat tangannya, setelah itu dia memberi tanda agar semua rekan-rekannya menurunkan senjata mereka. Atmosfer di tempat itu langsung jadi terasa lebih ringan.

"Baguslah kalau begitu!"

Mereka berpindah tempat ke lokasi di mana Yuudai dan sisa-sisa kelompok grup terdampar mereka membuat kamp. Sama seperti grup yang Erwin temui sebelumnya, kelompok Yuudai juga memutuskan untuk melihat situasi dulu sebelum mengambil keputusan untuk kabur atau memaksa masuk ke benteng.

Begitu beberapa dari mereka melihat Erwin, ada yang kelihatan tegang dan bersiap menggunakan senjata mereka. Tapi Yuudai langsung memberikan tanda kalau semuanya baik-baik saja.

"Beberapa prajurit pasukan pemberontak sempat ada yang menerobos tempat ini, karena itulah semua orang masih tegang"

"Aku paham"

Keduanya terus berjalan ke tengah kamp dimana semua orang mulai berkumpul dan bersiap untuk mendengarkan instruksi Yuudai. Sekali lagi memperlihatkan betapa terorganisirnya kelompok kecil mereka.

Sebagai warga Amteric yang biasa melihat teman-teman dan bahkan senior akademinya bertengkar berebut posisi pemimpin. Erwin merasa agak iri dengan kualitas murid-murid sekolah militer dari Yamato.

Tidak lama kemudian. Mereka sampai di tengah kamp dan dengan suara yang meski tidak lantang tapi jernih. Yuudai meminta perhatian semua orang dan…

"Hari ini akhirnya kita mendapatkan perintah langsung dari pasukan koalisi, dan bukan hanya itu! Perintah ini datang langsung dari petinggi koalisi"

Informasi itu langsung membuat situasi jadi ramai. Mereka tidak percaya kalau bukan hanya ujian lapangan mereka berubah jadi perang di garis depan, mereka bahkan ada di situasi dimana petinggi koalisi harus turun tangan dan memaksa mereka berpartisipasi.

"Kalau boleh tahu siapa yang mengirimkan perintah? Sepertinya kau familiar dengan individu yang mengirimkan surat tadi?"

Salah satu anggota kelompok Yuudai mengangkat tangannya.

"Pusat"

Pasukan cadangan bukanlah divisi resmi yang diketahui publik secara umum. Tapi sebab posisi mereka yang sangat penting, perintah yang datang dari anggota mereka punya level yang hampir setara dengan perintah dari pusat. Menjadikan secara teknis, Yuudai tidak berbohong pada siapapun.

“Hmm... kau tidak bilang kalau perintah itu datang dari pasukan Haruki?”

Melihat Yuudai tidak mengumumkan perintah yang mereka terima dari mana secara langsung. Erwin memutuskan untuk menggunakan suara rendah dalam menanyakan kebingungannya.

"Ahh, kau adalah orang luar! Tentu saja kau tahu tentang pasukan cadangan!"

“Hmm???”

Yuudai adalah anggota dari keluarga militer yang cukup tua. Karena itulah, dibanding murid-murid lain. Dia tahu lebih banyak hal tentang organisasi militer. Dan hal itu termasuk keberadaan divisi elit yang tidak tercatat secara publik.

Yuudai tahu kalau Haruki adalah bagian dari divisi itu. Karena itulah, dia bisa mempercayai keputusan dan rencananya. Hanya saja, teman-temannya tidak punya pengetahuan yang sama. Jika mereka tahu kalau rencana itu dibuat oleh teman sekelas yang mereka anggap bodoh. Bisa-bisa mereka menolak berpartisipasi.

Beruntung pasukan cadangan diharuskan menggunakan kode nama ketika mereka menuliskan surat untuk menjaga identitas mereka. Menyembunyikan keterlibatan Haruki jadi lebih mudah.

"Setidaknya aku tahu kalau kita akan menang!"

Setiap pertempuran yang dipimpin olehnya selalu berakhir dengan kemenangan. Bukan hanya itu, tapi semua pertempuran di mana dia turun tangan juga selalu punya korban yang minim.

“...???”

Erwin berakhir tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Tapi pemuda itu paham kalau mungkin informasi itu bukan sesuatu yang bisa dibeberkan pada orang asing begitu saja. Karena itulah, dia tidak mendorong lebih jauh.

“Seperti yang kalian sudah lihat sendiri, benteng pasukan koalisi sedang dikepung dan pasukan musuh jumlahnya hampir tiga kali lipat dari pasukan koalisi”

Sebagai murid sekolah militer tentu saja mereka paham apa yang Erwin maksud. Keadaan di dalam benteng jelas buruk dan akan terus memburuk seiring berjalannya waktu. Tapi meski pasukan musuh fokus pada musuh mereka di dalam benteng, bukan berarti kelompok mereka aman-aman saja.

Jika mereka terus berada di area itu. Lama-lama posisi mereka juga akan ketahuan dan jadi target musuh. 

"Teman kalian di dalam punya rencana untuk keluar dari situasi ini, tapi dia membutuhkan bantuan kalian semua yang masih di luar! ”

Yuudai mengeluarkan surat dari amplop yang dipegangnya dan membaca isinya dengan seksama. Setelah itu, sebab sepertinya kelihatan kesulitan memahami isinya. Gadis itu menyerahkannya pada rekannya yang lain.

Selama rekannya yang lain sedang membaca instruksi yang Haruki tulis dengan teliti. Yuudai kembali mengalihkan perhatiannya pada Erwin.

“Apa kau tahu berapa murid akademi yang berhasil masuk ke benteng?”

“Sementara aku hanya melihat tiga”

“Tiga…”

Yuudai tidak perlu menanyakan siapa mereka, surat tadi dan juga ingatannya ketika mereka berpencar untuk mencari rute perjalanan sendiri-sendiri membuat semuanya cukup jelas. Hanya ada satu kelompok yang anggotanya hanya tiga. Meski ada kelompok lain yang dia tidak ketahuipun, dia yakin kalau hanya ketiga anak bermasalah yang dia kenalah yang mau membuat kelompok yang jumlahnya sekecil itu.

"Apa mereka… baik-baik saja?"

Haruki mungkin menyebalkan, dan dia mungkin tidak menyukai Amelie. Tapi bukan berarti dia ingin mereka mati atau mendapatkan luka parah.

"Semua orang baik-baik saja"

"..."

Yuudai tidak berkomentar apa-apa. Tapi wajahnya menunjukkan kalau setidaknya dia merasa lega.

“Apa ada informasi kapan bala bantuan akan datang?”

“Paling cepat lima hari, dan paling lambat…”

Erwin mengangkat kedua tangannya, tidak tahu apa yang harus dia katakan.

"Aku paham…"

Dari tindakan dan pergerakan musuh. Beruntungnya, jendral mereka kelihatan seperti orang yang sabar dan hati-hati. Meski dia sudah memiliki pasukan yang cukup, dia tidak menyerang dengan gegabah dan lebih memilih untuk menunggu sampai semua persiapannya selesai.

Hanya saja, situasi bisa berubah kapan saja. Pikiran pemimpin mereka bisa berubah kapan saja. Oleh sebab itulah, menyerang duluan mungkin bisa mengubah situasi mereka yang terjepit.

Lalu, ngomong-ngomong soal terjepit.

"Yang jelas, kita tidak bisa membiarkan musuh menguasai area ini"

Dalam sebuah konflik, daerah yang kau kuasai dibagi menjadi beberapa kategori. Daerah mudah, daerah sempit, daerah tinggi, daerah sementara, dan daerah menjerat. Di antara semua jenis daerah itu, tempat yang sedang mereka duduki termasuk dalam kategori menjerat.

Sebuah daerah yang kalau sampai diambil oleh musuh akan sulit direbut kembali. Jika mereka dipaksa untuk mengambil alihnya kembali nanti, maka mereka membutuhkan jumlah pasukan yang jauh-jauh lebih besar dari pasukan musuh yang sudah besar.

"..."

Yuudai kembali melihat ke arah rekannya yang akhirnya selesai membaca instruksi dari surat Haruki.

"Rencananya solid, sinyal, timing dan apa saja yang kita perlu lakukan tertulis dengan detail di sini! Kita tinggal mengumpulkan semua orang untuk membuat rencana ini sukses"

Ucap teman satu kelompok Yuudai dan Erwinpun ikut mengangguk.

Sampai saat ini, Erwin hanya seorang diri mencari rekan-rekan Haruki dari sekolahnya. Hal yang sangat tidak efisien. Jika dia terus merekrut orang dengan cara seperti ini, pemuda itu akan kehabisan waktu dan rencana mereka akan gagal total.

"Apa aku bisa menyerahkan hal ini pada kalian? aku perlu bersiap untuk melakukan hal lain"

Hufff… Yuudai menghela nafas panjang sebelum berkata. . . .

"Baiklah, aku tahu posisi umum semua orang! aku juga bisa mengontak mereka!"

"Baguslah kalau begitu! Aku harus segera pergi..."

Erwin mulai berdiri dan bersiap, tapi bahkan sebelum tubuhnya tegak berdiri. Yuudai menghentikannya terlebih dahulu setelah dibisiki sesuatu oleh rekannya.

"Kau bisa masuk ke benteng lagi kan?"

"Ya!"

"Sampaikan kalau kami melihat ada kiriman suplai yang jumlahnya sangat banyak ke sini! kemungkinan mereka bersiap untuk menerima bala-bantuan dalam waktu dekat!"

“Aku paham!”

“Dan satu hal lagi! sampaikan juga kalau dia berhutang padaku!”

Sepertinya bantuan yang Haruki minta tidak akan datang dengan gratis.

"Akan kusampaikan pesanmu"

Setelah itu, Erwinpun pergi dan menyiapkan diri untuk tugasnya yang selanjutnya.


♘♘♘


“Apa kau siap?”

Saat ini, Haruki sedang membantu Erwin mengenakan sebuah baju zirah penuh tepat di balik gerbang benteng. Di sekitar mereka, beberapa prajurit koalisi sedang bersiap untuk membuka pintu besi besar di depan keduanya.

“Ya, kau tidak perlu khawatir”

Erwin menundukkan tubuhnya agar temannya bisa memasang helm metal ke kepalanya. Lalu, setelah memastikan benda itu terpasang dengan baik. Pemuda itu kembali berdiri dan menggerakan kepala, tangan dan kakinya untuk memastikan kalau gerakannya tidak terhalang apapun.

“Baiklah, ambilkan senjataku”

Meski kemampuan gerak horizontalnya masih relatif normal, di kesulitan melakukan gerakan vertikal seperti menunduk. Jika dia ingin menurunkan badannya, dia harus berlutut seperti yang dia lakukan tadi.

“Kalau kau sudah tidak kuat lagi, langsung mundur! tugasmu hanya mengalihkan perhatian musuh! bukan benar-benar melawan mereka”

Haruki memberikan sebuah tombak panjang pada Erwin. Sebuah senjata yang tidak lagi cocok untuk medan perang modern. Dan melihat kalau di ujung tombak itu terikat sebuah bendera segitiga bergambarkan simbol pasukan koalisi. Sepertinya, fungsi benda itu memang hanyalah sebagai sebuah hiasan.

“Aku paham papa Haruki!”

“Sekarang bukan waktunya untuk bercanda!”

“Ahahaha….”

Melihat seberapa khawatirnya Haruki padanya, secara insting. Tiba-tiba Erwin jadi ingin meraih kepala Haruki untuk membelainya. Tapi tentu saja Haruki langsung menghindar dan melihat ke arah Erwin dengan tatapan jijik.

“Berhenti melakukan itu!”

Pertama, dia tidak  ingin kepalanya dibelai oleh sesama laki-laki. Dua, dia tidak ingin diperlakukan seperti anak kecil oleh seseorang yang hanya setahun lebih tua darinya.

“Buka gerbangnya!”

Teriak Haruki pada prajurit sekitarnya. Lalu, begitu gerbang terbuka. Erwin menegakkan tombak yang dipegangnya.

“Aku berangkat!”

Dengan pelan, Erwin mulai berjalan menuju ke arah kamp musuh. Tanpa rekan, tanpa bantuan siapapun.

Atau setidaknya begitulah kelihatannya.

Jadi?

Bagaimana semua ini bisa terjadi?

Semuanya berawal tadi malam setelah Erwin kembali.

Begitu selesai membicarakan rencananya dengan Erwin, Haruki langsung pergi menuju ruang komando untuk berbicara dengan pemimpin pasukan koalisi di benteng ini. Dengan santai dan percaya dirinya, dia mencoba melewati penjaga yang bertugas di depan ruangan itu.

“Hanya staf khusus yang boleh masuk”

Tentu saja dia langsung dihentikan. Tapi hey, setidaknya dia sudah mencobanya.

“Aku harus menyampaikan sesuatu pada jendral Butsuma”

“Jika kau ingin menyampaikan sesuatu lapor dulu ke kepala divisimu.”

Haruki melihat ke luar dan menyadari kalau waktu yang dimilikinya semakin sempit.

“Aku membawa perintah darurat dari pusat”

Pemuda itu menunduk dan menunjukkan sebuah amplop pada kedua penjaga di depannya.

“Hmm…”

Salah satu dari penjaga tadi mengenali stempel yang tertera pada amplop yang Haruki bawa. Tapi dia masih ragu dengan identitas pemuda di depannya. Karena itulah, dia mengambil alih pembicaraan dan menanyakan…

“Sebutkan nama, asalmu, dan divisimu”

Haruki memberi hormat dan sesuai perintah…

“Namaku Haruki Youta, Dari akademi militer Yamato…”

Pemuda itu memperkenalkan namanya.

“Youta?. . . “

Tidak seperti rekannya yang masih baru, prajurit yang menghadapi Haruki adalah veteran yang ikut dalam pertempuran melawan Amteric sejak awal negara itu mulai mulai menjajah tetangganya sepuluh tahun yang lalu. Lalu, ketika pasukan koalisi dibentuk tujuh tahun yang lalu, dia ikut bergabung dengan mereka sampai saat.

Dalam pertempurannya melawan Amteric, dia sering mendengar nama Masashi Youta sering keluar dari mulut para petinggi pasukan koalisi. Siapapun dia, orang itu adalah orang penting.

“Benar, aku adalah putra beliau! dan aku juga adalah…”

Hahh. . . .

Haruki menarik nafas dalam-dalam.

Dia benar-benar tidak ingin melakukannya dan melenceng dari modus operandinya di mana dia hanya mencari seseorang yang dekat dengan kepemimpinan dan menyetir mereka untuk melakukan apa yang pemuda itu inginkan.

Tapi sekali lagi, kali ini dia tidak punya waktu.

“...Anggota pasukan cadangan”

“. . .”

Pasukan cadangan.

Baginya pria di depan Haruki, nama divisi itu adalah sesuatu yang dia kagumi dan takut di waktu yang bersamaan. Meski dia belum pernah bertemu dengan anggota-anggotanya, atau mungkin dia bertemu dengan mereka dan hanya tidak mengenali mereka. Dia sudah berkali-kali merasakan efek dari kehadiran mereka.

Sekali, dia pernah terluka parah dan berpikir kalau hari itu adalah hari terakhirnya. Tapi bukan hanya dia bisa bangun hari itu, semua lukanya juga sudah menghilang begitu saja.

Di lain hari, pasukannya pernah terjebak musuh setelah berhasil di pancing ke lokasi yang buruh. Tapi di saat-saat terakhir, ada pasukan kecil yang menyerang musuh mereka dari belakang dan memberikan kesempatan kelompoknya untuk kabur.

Lalu, pemimpinnya juga pernah menerima info yang sangat detail tentang pasukan musuh sampai mereka bisa menghancurkan markas mereka dan merebut sebuah daerah pada dasarnya tanpa perlawanan berarti.

Dia juga tidak lupa bagaimana suplai terus mengalir dengan lancar pada pasukannya meski padahal pemimpin-pemimpin mereka bukanlah tipe orang yang bisa membuat laporan dan proposal yang benar.

“Aku akan menyampaikan pesanmu”

Rekannya sedikit bingung, tapi sebagai junior dia memutuskan untuk diam mengikuti keputusan seniornya. Untuk sementara dia akan memastikan kalau Haruki tidak melakukan apa-apa selama seniornya menemui pemimpin mereka.

Selama menunggu, dia memperhatikan penampilan Haruki. Wajahnya, bentuk tubuhnya, posturnya dan juga bagaimana pemuda itu membawa dirinya sendiri. Dan dari pengamatannya, dia tidak bisa melihat adanya tanda-tanda kalau dia adalah prajurit yang kompeten.

Hanya saja, melihat reaksi seniornya. Kelihatannya pemuda di depannya yang kelihatan beberapa tahun lebih muda itu adalah anggota dari sebuah pasukan elit atau yang sejenisnya. Kalau dia punya posisi dalam organisasi seperti itu, berarti dia itu kompeten kan?

Apa dia hanya berekting? atau dia hanya punya koneksi yang bagus?...

Brak…

“Silahkan masuk.”

“Terima kasih.”

Dengan begitu, Harukipun masuk ke dalam ruangan yang mereka jaga setelah kembali memberikan hormat. Dan dengan begitu juga, prajurit tadi memutuskan untuk melupakan rasa penasarannya.

Memutuskan hal-hal besar adalah tanggung jawab bosnya, sebagai prajurit biasa dia hanya perlu mematuhi dan menjalankan perintah mereka. Dia adalah tipe orang yang tidak suka memikirkan hal rumit, oleh sebab itulah. Meski sudah tiga tahun jadi prajurit di pasukan koalisi. Pangkatnya masih paling bawah.

Pintu terbuka begitu di dalam, Haruki disambut oleh seorang pria berumur mungkin enam puluhan yang masih kelihatan fit sedang duduk di kursinya sambil memeriksa beberapa dokumen. Meski volume otot-ototnya sudah menipis, postur tegak dan ukuran tubuhnya yang besar membuat pria itu tidak kelihatan lemah.

“Namaku Butsuma, pusat komando memberiku tanggung jawab untuk mengurus tempat ini”

Pusat komando pasukan koalisi berada di kerajaan Xamara, dua ratus kilometer dari benteng Ini. Kerajaan itu, juga adalah tempat di mana kakak laki-laki Amelie yang kedua, Sevarion berada. Posisinya yang hampir di tengah benua membuatnya menjadi lokasi yang cocok digunakan sebagai pos logistik dan juga transit. 

“Jadi kenapa ada anggota dari pasukan cadangan di sini?.”

“Benteng yang akan dijadikan lokasi ujian lapangan akademi militer jatuh ke tangan musuh, jika kita kehilangan tempat ini juga maka posisi pasukan koalisi akan jadi semakin buruk!”

“Hanya itu saja?”

“...???”

Pertanyaan Butsuma membuatnya sedikit kaget. Haruki tidak menyangka pria itu akan memberikan respon semacam itu. Meski Haruki sudah memberitahukan identitasnya, pemuda itu sadar kalau dia itu seseorang yang mencurigakan. Dia mengira kalau pertanyaan pertama yang pria itu lontarkan adalah tentang identitasnya.

Hal yang sudah dia siap untuk lakukan.

“Ahh, kau tidak perlu menunjukkan cincinmu! wajahmu saja sudah cukup untuk memberitahuku kalau kau tidak berbohong!”

Wajah?

“Apa tuan Butsuma kenal dengan ayahku?”

“Hmm… aku pernah bertempur bersamanya! dan aku percaya kata-katanya”

Dalam masalah fisik, mungkin ayah Haruki bukan tandingan Butsuma. Tapi dalam masalah strategi, pria itulah yang balik tidak ada tandingannya. Pertempuran di mana dia berada pasti selalu berakhir dengan kemenangan. Dan pria yang sehebat itu pernah bilang kalau anak laki-lakinya akan punya potensial yang sangat besar dan suatu saat akan menggantikannya.

Kalau Masashi bilang dia bisa mempercayakan sesuatu pada putranya, maka pasti putranya memiliki kemampuan yang memadai.

“Jadi? kenapa kau tiba-tiba ingin menemuiku?”

Mengesampingkan situasi-situasi tertentu. Anggota pasukan cadangan normalnya tidak muncul ke permukaan dan bahkan secara blak-blakkan membeberkan identitas mereka. Dan Butsuma yakin kalau situasi mereka belumlah seburuk itu sampai seseorang dari organisasi itu untuk turun tangan.

“Benteng ini tentu saja tidak mampu bertahan selamanya, tapi kalau sekedar mengulur waktu! kami bisa bertahan selama satu atau dua bulan sampai bala bantuan datang! “

Jadi meski situasi mereka buruk, keadaan mereka masih belum seburuk itu sampai mereka memerlukan sebuah keajaiban. Mereka tidak perlu buru-buru melakukan apapun. Malah sebaliknya, saat ini strategi terbaik mereka adalah tidak melakukan apa-apa dan menghemat sumber daya.

Jika tiba-tiba ada yang ingin buru-buru mengusir pasukan musuh. Alasannya bukanlah karena mereka sedang terpojok. Melainkan karena…

“Apa yang kau inginkan?”

Haruki menginginkan sesuatu.

Butsuma tidak bertanya dengan nada tinggi. Sebaliknya, dia menggunakan nada layaknya seorang ayah yang sedang menggiring anaknya untuk mengaku kalau dia sudah memecahkan sesuatu. Nada lembut yang membuatmu ingin mengaku dan meminta maaf saat itu juga.

“...”

Yang Haruki inginkan adalah memberikan jalan yang aman untuk Amelie dan memastikan keselamatannya dalam perjalanannya. Dia juga ingin agar gadis itu bisa pergi dengan perasaan yang ringan.

Tapi tentu saja dia tidak bisa mengatakan semua itu. Dia tidak bisa meminta Butsuma untuk mengorbankan material dan juga nyawa dari anak buahnya dami satu orang. Satu orang dari Amteric yang bukan hanya tidak mereka kenal, tapi juga putri dari keluarga kerajaan yang jadi sumber semua masalah ini.

“Rekanku baru saja memberitahuku kalau pasukan bala bantuan musuh sedang menuju ke ke sini! Dan berdasarkan perhitunganku, besok! mereka akan sampai di sini! kalau kita tidak melakukan apa-apa! kita akan digilas musuh!”

Dia mengingat kalau alasan utama mereka sampai berada di tempat ini adalah karena pasukan pemberontak mengambil alih benteng yang mereka tuju dan menghancurkan kapal mereka.

Kalau mereka mengirimkan bala bantuan pada pasukan pemberontak lain yang mencoba menjatuhkan benteng pasukan koalisi lain. Bukan tidak mungkin kalau mereka akan sampai di tempat ini dalam waktu dekat.

Berdasarkan informasi yang Erwin bawa. Teman-temannya melihat ada pengiriman suplai dalam jumlah besar. Menunjukkan kalau mereka sedang mempersiapkan diri untuk menerima lebih banyak lagi prajurit yang akan bergabung dengan pasukan di seberang mereka saat ini.

Sebuah skenario yang sangat mungkin akan terjadi.

“Dari mana kau mendapatkan informasi itu?”

“Pengawal tuan putri Amelie adalah pengguna sihir yang kuat, dia baru saja kembali dari luar benteng dan menemui teman-temanku yang tidak sempat masuk”

Dengan informasi yang seminim itu. Skenario yang dia ucapkan hanyalah itu.

Sebuah skenario. Meski sama-sama pasukan pemberontak, tapi kedua pasukan yang dia temui datang dari dua negara berbeda. Bisa saja kalau keduanya tidak ada sangkut-pautnya dan mereka bertindak secara independen.

Tapi…

“Serangan ini adalah koordinasi dari beberapa kelompok pasukan pemberontak, dan kita adalah target selanjutnya!”

Sekali lagi, Haruki dengan percaya dirinya mengatakan sesuatu yang hanya ada di dalam imajinasinya. Tapi meski semua itu bukanlah informasi yang bisa dia konfirmasi kebenarannya. Semua skenario yang dia buat bukanlah sekedar tebakan buta belaka.

Benteng yang teman-teman seangkatannya tuju bukanlah sebuah benteng kecil yang kekurangan personel. Sebagai bagian dari jaringan suplai ke pusat komando. Tempat itu dijaga oleh ribuan pasukan profesional yang memiliki persenjataan lengkap serta suplai yang mumpuni.

Jika tempat itu sampai bisa dijatuhkan, ada beberapa skenario yang kedengaran logis.

Ada banyak pengkhianat di antara mereka, atau. Mereka diserang oleh pasukan yang jumlahnya jauh lebih banyak sampai mereka tidak bisa melawan balik. Atau mungkin keduanya.

Jika ada pengkhianat yang jumlahnya sebanyak itu sampai pertahanan mereka bisa terganggu. Benteng harusnya sudah jatuh dari dulu. Jadi, penjelasan paling masuk akalnya adalah pasukan pemberontak memiliki jauh lebih banyak personel dan mereka punya mata-mata di dalam.

Dan kalau dia melihat bagaimana terorganisirnya  pasukan pemberontak di luar benteng sana. Deduksinya sama sekali tidak kedengaran terlalu mengada-ada. Terlalu tidak masuk akal kalau semuanya hanya sekedar kebetulan belaka.

“Jika kita tidak menyerang duluan! maka jumlah mereka akan jadi terlalu banyak dan kita tidak akan berbuat apa-apa nantinya”

“Hmmm…”

Tap! Tap! Tap! Tap! 

Butsuma mengetukkan jarinya ke meja.

Skenario yang dihadapkan oleh Haruki mungkin masuk akal. Tapi sekali lagi, semua itu hanyalah sebuah perkiraan dan bukan sebuah informasi yang akurasinya bisa diverifikasi. Butsuma bukanlah tipe orang yang bisa dengan entengnya memerintahkan prajuritnya untuk bertempur, malah sebaliknya. Dia adalah orang yang lebih ingin menyuruh semua orang untuk kabur daripada menyuruh mereka mati konyol melawan musuh.

Tidak seperti petinggi-petinggi dari negara yang dia bela dulu. Dia adalah seseorang yang naik dari prajurit biasa. Dia tahu dan paham seberapa banyak penderitaan yang tercipta gara-gara perintah bodoh atasannya.

“Apa semua ini ada hubungannya dengan tuan putri Amteric itu?”

Skak mat.

“Kudengar kalian cukup dekat sampai kau diizinkan untuk berbicara santai dengannya dan bahkan ngobrol panjang lebar di ruangannya”

Seperti yang dia duga, mereka benar-benar tidak punya privasi di tempat ini.

“Kebetulan sekali kami bertiga bersama dengan pengawal pribadinya adalah teman masa kecil, dan aku juga adalah teman sekelasnya di akademi”

“Teman sekelas eh…”

Butsuma melihat Haruki dari kepala sampai kaki. Orang yang tidak bisa membacapun bisa melihat kalau pemuda di depannya sudah terlalu tua untuk masih di akademi. Dengan kata lain, dia masih di akademi untuk tugas lain.

Huff….

Butsuma menghela nafas panjang.

“Baiklah!..Tapi!...”


⁀➴⁀➴⁀➴


Tak.. ta.. tak.. tak..

Semua itu adalah bunyi dari anak-anak panah yang memantul pada baju zirah yang Erwin kenakan.

Di masa ini di mana hampir semua pasukan tempur memiliki senapan. Mobilitas seorang prajurit dianggap lebih penting daripada ketahanannya terhadap serangan langsung. Sekarang bukan lagi zaman di mana dua pasukan besar bertemu di tanah lapang untuk saling bunuh dengan pedang dan tombak adalah hal yang lumrah.

Meski strategi itu masih punya tempat. Penembak dan pemanah punya andil dalam kemenangan sebuah pertempuran daripada kavaleri yang menggunakan tombak ataupun senjata jarak dekat lain. Karena itulah, secara umum. Baju zirah tidak lagi digunakan dalam medang perang. Jika kau membutuhkan perlindungan, biasanya seseorang hanya akan menyelipkan pelindung dari kulit atau chainmail yang lebih ringan.

Baju zirah penuh seperti yang dikenakan Erwin sekarang pada dasarnya hanya digunakan untuk acara seremonial.

Hanya saja, meski benda itu sudah ketinggalan zaman. Bukan berarti fungsionalitasnya tidak lagi relevan. Panah-panah ringan yang musuhnya luncurkan sama sekali tidak bisa menembus pertahanannya.

“Datang ke sini kalau kau ingin mati!!!”

Jadi kenapa Erwin melakukan hal seperti ini?

Berdiri di garis depan sendirian berteriak pada pasukan pemberontak di depannya.

Jawabannya adalah karena dia sedang melaksanakan tugasnya sebagai umpan. Dia ditugaskan untuk mengalihkan perhatian musuh dan juga mengulur waktu agar prajurit lain di dalam benteng bisa bersiap.

Baju zirahnya sendiri memiliki beberapa fungsi. Pertama, menyembunyikan identitasnya. Musuh misterius lebih mengintimidasi daripada prajurit biasa. Dan kedua, dia ingin menghemat penggunaan sihirnya dan menjaga staminanya.

Pang! Pang! Pang! 

Setelah panah, beberapa penembak mulai menghujaninya dengan Palet-Palet metal dari senapan mereka. Tapi dengan tenang, Erwin mempersembahkan profil tipis dengan memiringkan badannya. Membuat Palet-Palet metal bulat yang diluncurkan hanya memantul ke sekitarnya.

“Percuma saja!”

Proyektil tidak bisa melukainya.

BOOOOM!!!

Dan itu termasuk meriam yang baru saja ditembakkan padanya.

“Sudah kubilang percuma!”

Ketika meriam tadi ditembakkan. Erwin langsung menancapkan tombaknya ke tanah dan berlutut sebelum mengaktifkan sihirnya, Membuat seperti saudara kecilnya, bola meriam yang berat dan kekuatan kinetiknya jauh di atas senapan biasa juga memantul layaknya mainan.

Badannya terdorong, tapi dia tidak mengalami luka apapun.

“...”

Melihat hal itu, ketengan musuh langsung runtuh. Kekebalannya terhadap panah dan senapan bisa dijelaskan dengan baju zirahnya, tapi benda semacam itu tidak akan bisa melindungi siapapun dari tembakan meriam. Prajurit yang mereka hadapi bukanlah orang biasa.

“Tuan Adelbart, perintahmu”

Jendral Adelbart dan ajudannya melihat dari jarak jauh. Mereka adalah dua tokoh terpenting dari serangan pasukan pemberontak.

“Hentikan serangan! siapkan palu perang untuk prajurit di garis depan!”

Adelbart adalah seorang jendral, setidaknya sampai beberapa tahun yang lalu ketika negaranya dianeksasi Amteric. Mungkin karena pengalamannya, ketika pasukan pemberontak terbentuk. Dia ditunjuk untuk jadi pemimpin mereka dalam menyerang benteng di depan mereka ini.

Dan pengalamannya, pria itu tunjukkan dari tindakannya.

Sekuat apapun Erwin, dia hanya satu orang. Melawan hampir empat ribu orang bukanlah sesuatu yang bisa seseorang lakukan sendiri. Selain itu, dia juga hanya punya senjata jarak dekat, Jika dia tidak mendekat pemuda itu tidak akan bisa melakukan apapun.

“Akan kusampaikan perintah tuan”

Perintah ajudannya langsung disampaikan dengan cepat dan akurat. Tidak butuh waktu lama, pasukan mereka sudah siap untuk menghadapi Erwin jika dia memutuskan untuk menyerang secara langsung. Respon mereka sangat mulus sampai kau tidak akan percaya kalau seseorang bilang jika mayoritas dari pasukan mereka adalah orang-orang yang di konksrip dan bukannya prajurit profesional yang mendapat latihan selama bertahun-tahun.

Pasukan musuh mulai menyemangati berteriak untuk menyemangati dirinya. Membuat tempat itu penuh dengan gemuruh suara dari hampir empat ribu orang.

Dengan sorak-sorakan serta ledakan yang tadi terjadi. Tidak mungkin Amelie bisa terus tidur seberapa lelahpun tubuhnya.

“Apa yang sedang mereka lakukan?”

Lalu, begitu dia melihat ke jendela di ruangannya. Dia langsung disuguhi dengan pemandangan seorang kesatria yang sedang menghadang prajurit pasukan pemberontak sendirian.

“Erwin?...”

Amelie tidak melihat wajah si kesatria baja hitam karena posisinya yang sangat jauh. Tapi dia merasa kalau hanya pemuda itu yang bisa dengan percaya dirinya berdiri di depan ribuan prajurit yang ingin membunuhnya.

“Apa yang sedang terjadi?”

Tanpa menunggu jawaban dari siapapun. Amelie langsung mengambil seragam pasukan koalisi kebesaran yang disiapkan untuknya dan mulai bersiap. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi setidaknya dia tahu kalau dia ingin memukul kedua teman masa kecilnya yang seenaknya saja membuat rencana di belakangnya.

“Baiklah!”

Dan dia juga tahu kalau apapun yang mereka lakukan, adalah demi dirinya. Oleh sebab itulah, dia ingin balik membantu keduanya.

Sambil mencoba terus membuat baju kebesarannya agar setidaknya kelihatan sedikit lebih rapi. Amelie terus mengawasi apa yang teman masa kecilnya itu lakukan.

Lalu, setelah beberapa saat. Dia menyadari sesuatu.

"Dia mengirimkan pesan?"

Jika kau tidak tahu, Erwin mungkin hanya kelihatan sedang mengibas-ngibaskan tombaknya secara acak. Tapi jika kau melihat pergerakan dari bendera yang ada di ujung benda itu. Mereka memiliki pola tertentu. Atau lebih tepatnya, pola untuk sinyal militer yang diajarkan di akademi militer Amteric.

Sinyal yang terus-menerus bilang.

"Tahan?... Tahan apa?"

Tunggu dulu.

"Apa ini pesan…. untuk Yuudai dan yang lainnya?"

Begitu menyadari apa yang untuk siapa pesan itu ditujukan. Amelie langsung memeriksa dengan saksama kamp musuh, dia juga memperhatikan pergerakan mereka dengan teliti.

Dia menemukan kalau ada orang-orang baru yang terus berdatangan dari jalan utama menuju benteng. Dia juga melihat sebagian dari mereka langsung menuju ke tempat-tempat meriam musuh ditempatkan meski tidak ada prajurit yang kelihatan bersiap untuk menembak. Lalu…

"... Haruki?"

Amelie melihat ke arah lain. Lebih tepatnya, ke bagian atas tembok di mana meriam-meriam mereka ditempatkan. Di sana, dia melihat Haruki bersama dengan seseorang yang kelihatannya penting bersama-sama mengawasi medan pertempuran. Atau dalam kasus ini, panggung pertunjukkan Erwin.

"Ah…."

Dan di sini, dia menyadari. Tidak seperti pasukan musuh, semua meriam mereka siap untuk menembak. Hal yang tidak masuk akal mengingat pasukan pemberontak membuat kampnya jauh dari jangkauan meriam mereka. Meski mereka menembak dari posisi yang tinggi dan menggunakan sudut parabolik, jarak serang mereka masih belum cukup untuk mencapai targetnya.

"Jadi begitu rencananya eh. . "

Semua hal yang dilihatnya hanya mengarah pada satu hal.

"Sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan"

Dengan buru-buru, Amelie berjalan menuju ke tengah benteng di mana semua orang berbaris mendengarkan instruksi lalu tanpa ragu. Ikut masuk ke dalam barisan.

Beberapa orang termasuk staf benteng sempat kebingungan. Tapi mengetahui siapa gadis itu, mereka memutuskan untuk tidak berkomentar apa-apa.

Di sisi lain, Haruki yang sedang mengawasi dari jauh mulai panik. 

Pemimpin musuh sama sekali tidak terprovokasi dan memilih untuk mengawasi situasi dari jauh juga. Kalau terus begini, Erwin akan terpaksa harus menyerang kamp musuh secara langsung untuk terus mendapatkan perhatian musuh.

Dia tahu kalau Erwin itu kuat. Dan kemampuannya juga sangat cocok untuk melakukan serangan frontal tanpa harus takut terluka. Tapi meski begitu, dia tetap merasa khawatir. Sebab di dalam medan pertempuran, jarang semuanya berjalan sesuai rencana.

"..."

Tadi malam, Haruki berhasil membujuk Butsuma untuk menyetujui strateginya.

Dengan satu syarat.

Dia hanya akan mengizinkan prajuritnya menyerang ketika dia bisa mengkonfirmasi kalau bala bantuan pasukan pemberontak benar-benar datang. Mereka akan menyiapkan konfrontasi, tapi mereka tidak akan bergerak sampai Butsuma memberikan perintahnya.

Selama Erwin mengalihkan perhatian semua orang, anak-anak buahnya akan memeriksa keadaan di sekitar benteng dan kalau bisa. Mengecek rute yang digunakan pasukan pemberontak. Lalu, tergantung laporan yang dia dapatkan. Dia akan memutuskan apakah harus membiarkan atau membantu Erwin.

"Hmm… jumlah mereka benar-benar bertambah"

Ucap Butsuma.

Saat ini, yang memegang senjata dan bersiap untuk bertempur mungkin hanya sekitar tiga ribu orang. Tapi jumlah pasukan musuh sekarang sudah kelihatan lebih dari empat ribu. Kau bahkan tidak memerlukan teropong untuk melihat kalau jumlah musuh lebih banyak dari yang dilihatnya di hari sebelumnya.

"Tapi aku belum melihat prajurit bala bantuan musuh"

Yang datang hanyalah kelompok-kelompok pembawa suplai yang tidak bersenjata. Secara umum, kekuatan bertempur musuh masih belum berubah. Dengan kata lain, Butsuma masih belum bisa memberikan izin untuk maju.

"Haruki.."

Butsuma memberikan sebuah flare gun kepada pemuda di sampingnya.

"Hahhh. . . "

Haruki tidak ingin melakukannya. Tapi dia tidak punya pilihan lain. 

Pewwwwwww….

Dia menembakannya ke kamp pasukan pemberontak. Bukan untuk menyerang atau membuat kerusakan, tapi hanya untuk memberi tanda pada Erwin untuk maju lebih dalam.

"Haaaa!!!"

Dan menuruti perintah itu. Erwin langsung menurunkan tombak panjangnya dan berlari ke arah musuh menyabetkan benda panjang itu dengan sekuat tenaga.

"Gah!"

Beberapa orang mencoba menahannya dengan senjata mereka sendiri. Tapi kekuatan fisik seorang pengguna sihir berada jauh di atas orang normal. Membuatnya dengan mudah menyingkirkan mereka semua dari hadapannya.

Tapi tentu saja, barisan prajurit selanjutnya langsung menghadapinya. Beberapa orang berkoordinasi untuk menggunakan palu perang mereka di saat yang bersamaan tapi…

Pang… 

Serangan mereka hanya menghasilkan suara memekikkan telinga dari tubuh Erwin. Dan sebaliknya, merekalah yang terluka sebab tangan mereka baru saja menerima reaksi balik dari pukulan keras mereka yang seakan baru saja membentur batu yang tidak bisa dihancurkan.

"Ughh…"

Mereka mencoba mundur. Tapi Erwin tidak membiarkan satupun dari mereka untuk kabur.

"Ackk…"

Erwin menusuk prajurit yang ada di depannya. Setelah itu, dia mengaktifkan kekuatannya dan mengeraskan tombak dan juga prajurit di ujung tombaknya. Membuat kedua objek itu menjadi satu. Lalu, dengan brutalnya. Dia mengayunkan keduanya untuk menyerang rekan-rekannya yang lain.

"Mundur!!!"

Teriak salah satu kapten pasukan itu.

Sekuat apapun seseorang. Mereka tidak mungkin bisa menerima serangan palu perang dan tidak terluka sedikitpun. Meski dengan baju zirah metalpun, perlindungannya hanya akan penyok dengan mudah. Kalau dia bisa menerima serangan seperti itu, berarti yang keras bukan hanya baju zirahnya. Tapi juga orang di dalamnya.

Dia tahu kalau seseorang yang punya sihir itu kekuatannya jauh di atas rata-rata. Tapi banyak yang tidak tahu seberapa jauh perbedaannya sebab jumlah mereka yang langka. Mayoritas dari prajurit-prajurit pemberontak belum pernah bertemu dengan seorang pemilik sihir.

"Jaga jarak! Pukul mundur dia"

Seseorang menyiapkan meriam dan mengarahkannya pada Erwin. Lalu, begitu rekan mereka sudah menjauhi lawannya. Dia langsung menembak pemuda itu.

Boom!

Pang!

Untuk meningkatkan level intimidasinya, Erwin sengaja memberikan sedikit pertunjukkan khusus dengan kekuatannya.

Ketika bola meriam meluncur ke arahnya, dia langsung meraih benda itu dan menggunakan kekuatannya untuk sesaat sebelum melemparkannya ke bawah. Membuat seakan dia menangkis benda itu hanya dengan skillnya.

Tidak tahu harus berbuat apa. Banyak dari prajurit musuh yang berakhir menyerang Erwin tanpa berpikir panjang. Dengan pedang mereka, dengan tombak mereka, dengan senapan mereka, dengan panah mereka, dan dengan meriam yang mereka miliki.

Kesemuanya yang selalu berakhir dengan kegagalan dan kekalahan. Dalam waktu singkat, puluhan prajurit sudah jadi korbannya.

Hanya saja.

Tak!

Erwin baru saja menangkis sebuah panah dengan tombak panjangnya.

Jika kau hanya melihat hasil dari tindakannya. Tidak ada yang aneh, kemampuan bertempurnya tidak main-main jadi menangkis sebuah panah bukanlah hal besar baginya.

Yang jadi urusan besar adalah fakta kalau meski dia sedang sibuk menghabisi lawannya. Dia menyempatkan diri untuk menangkis anak panah tadi. Anak panah yang biasanya bisa dia biarkan saja sebab baju zirahnya melindunginya.

"Sial!."

"Gunakan panah api!"

Perintah seseorang.

Dalam situasi normal, ketika pemuda itu secara refleks menangkis serangan lawan. Hal itu adalah sesuatu yang bagus, tapi kali ini. Dia hanya membuat seseorang mampu menebak kelemahannya.

"Aaa, aku benar-benar bodoh!"

Tidak butuh waktu lama untuk perintah itu menyebar ke prajurit-prajurit lain. Dan dalam sekejap, Erwin langsung dihujani panah api.

"Ugh…"

Dengan posisinya sekarang berubah jadi target yang diburu. Erwin langsung berlari dengan cepat. Bukan ke arah benteng untuk bersembunyi, melainkan berlari semakin dalam ke arah kamp musuh berharap untuk menyebarkan kerusakan sebanyak-banyaknya.

"Sial…"

Pemanahan langsung berhenti menghujani Erwin dengan api. Khawatir kalau serangan mereka akan membakar suplai mereka sendiri.

"Gunakan tali dan jaring"

"Siap tuan"

Jendral Adelbart kembali memberikan perintah dengan tenang. Sekali lagi, pengalamannya di medan tempur bisa membuatnya tidak panik meski pasukannya sedang diacak-acak.

Tidak seperti anak-anak buahnya, dia punya banyak pengalaman mengatasi pemilik sihir. Dan dari semua pengalamannya itu, dia bisa memutuskan strategi terbaik untuk melawan mereka.

Jika kemampuan mereka tidak merepotkan, kau bisa mengepung dan mengeroyoknya. Jika mereka terlalu kuat dan tidak bisa dikalahkan dengan mudah. Hindari mereka, kalau kau tidak bisa menghindarinya. Isolasi mereka.

Dalam beberapa menit. Erwin mulai melihat banyak prajurit yang membawa tali dan jaring, dan dalam beberapa menit. Seakan mengikuti sebuah skenario. Erwin juga ikut bertingkah layaknya hewan buas yang sedang diburu.

Sambil terus menghancurkan dan membunuh apa yang ada di depannya. Dia terus menghindari lemparan-lemparan tali dan juga jaring yang mengarah padanya.

"Tch…"

Saat ini dia masih melawan dengan buas. Tapi, berhubungan dia hanya sendiri. Musuh punya waktu dan personel yang mumpuni untuk sedikit demi sedikit menguras staminanya. Dan jika staminanya habis, maka dia akan di skak-mat dengan mudah.

"Kalau begini, setidaknya aku harus memberikan mereka luka yang lebih dalam lagi"

Erwin terus berlari dari satu tempat ke tempat lain. Di dalam waktu yang sama, di mencoba memperhatikan gerakan musuh-musuhnya serta penampilan mereka satu-persatu selama beberapa saat.

Kemudian…

"Ketemu…"

Pemuda itu akhirnya menemukan targetnya.

Seorang pria yang umurnya sepantaran Butsuma dan mengenakan baju tempur, yang meski tidak selengkap Erwin. Masih kelihatan ketinggalan zaman dan juga seremonial. Dan sebab Erwin juga beberapa kali melihat seseorang meminta pendapatnya, kemungkinan besar dia adalah orang penting di antara pasukan pemberontak.

"..."

Menyadari kalau sekarang dia yang jadi target. Adelbart membisikkan sesuatu pada ajudannya sebelum berdiri dan mulai bergerak ke arah benteng bersama beberapa pengawalnya sambil menaiki kuda masing-masing.

"Ehh… serius?"

Kalau Adelbart ingin kabur, dia harusnya berlari ke belakang dan mundur lebih dalam ke tengah prajurit-prajuritnya. Tapi yang dia lakukan malah maju dan menunggang kuda ke arah benteng yang menunjukkan kalau dia ingin memancing Erwin keluar dari tengah pasukannya. Dia bahkan membawa sebuah tombak seremonial panjang sama sepertinya. Menunjukkan kalau dia ingin jadi umpan.

"Kalau kau ingin bermain seperti ini, aku akan dengan senang hati meladenimu"

Erwin juga tidak ingin melawan pasukan pemberontak secara langsung yang jumlahnya terlalu banyak. Kalau dia bisa menyelesaikan misinya hanya dengan mengalahkan pemimpinnya, maka tugasnya akan jadi semakin mudah.

"Haaa!"

Adelbart dan pengawalnya menarik tali kudanya dan melaju dengan cepat ke arah Erwin. Sebagai balasannya, pemuda itu juga ikut berlari ke arah kelompok yang ingin membunuhnya itu. Hanya saja, sebab lawannya menunggang kuda dan dia hanya berlari menggunakan kedua kakinya. Kecepatan mereka berbeda jauh.

Menggunakan kelebihan momentumnya. Adelbart mendorong mundur Erwin yang langsung mengaktifkan sihirnya begitu tombak pria itu dengan cepat terhunuskan ke dadanya.

"..."

Erwin dengan cepat memegang tombak Adelbart dengan maksud untuk menjatuhkan pria itu dari kudanya. Tapi Adelbart lebih cepat bertindak dan segera melepaskan pegangannya pada tombaknya sebelum melaju melewati pemuda itu.

"…"

Di belakangnya, beberapa pengawal Adelbart ikut menyabetkan tombak mereka pada Erwin, tapi bukan ke tubuhnya. Melainkan ke kakinya dengan maksud untuk menjegal pemuda itu. 

Pang!

Untuk menjaga posisinya, Erwin menunduk dan menancapkan tombaknya ke tanah memutuskan untuk menerima serangan tadi. Sayangnya, serangan mereka belum berakhir dan di belakang mereka lagi. Ada dua prajurit yang melemparkan tali ke arahnya…

"Gahh…"

Atau lebih tepatnya. Ke lehernya.

"Haaaa!!!"

Dengan begitu, leher Erwinpun terjerat dengan erat. Kemudian, tanpa belas kasihan. Pengawal Adelbart menyeret pemuda itu dengan kudanya.

"Ughh…"

Jika yang jadi korbannya bukan Erwin, bisa dipastikan kalau mereka akan sudah mati. Tapi, karena sihirnya. Pemuda itu bisa mengeraskan kain di lehernya dan mencegah dirinya tercekik sampai mati.

Klank! Klank! Klank!

Selama diseret kuda, prajurit-prajurit Adelbart di sekitarnya sama sekali tidak berhenti menyerangnya menggunakan tombak mereka. Membuat baju zirahnya yang sudah harus bertahan dari gesekan tanah keras dan batu-batu yang terus menghantamnya kelihatan mulai ingin menangis.

"Mmnghhh…"

Dia ingin menghemat penggunaan sihirnya. Tapi situasinya sudah seperti ini. Tidak ada gunanya menghemat kekuatan kalau dia mati nantinya.

"Aaaaa!!!!...."

Erwin memukul kuda di depannya menggunakan tombak panjangnya. Lalu, sebelum binatang itu bisa meringik, tubuhnya sudah jadi patung duluan. Dan tentu saja, ketika tunggangannya tiba-tiba jadi solid. Penunggangnya langsung jatuh dan tersungkur ke tanah.

"Panah apiii!"

Klok! Klok! Klok!

Erwi berharap dia bisa mendapatkan efek domino dan menjatuhkan anak buah Adelbart yang lain. Tapi sayangnya, kemampuan menunggang kuda mereka cukup tinggi untuk secara refleks menghindari rekannya yang terjatuh.

"Kalian terlalu kompeten!"

Mereka mungkin disebut pasukan pemberontak. Nama itu membuat seseorang membayangkan prajurit konskrip yang tidak memiliki latihan dan hanya di sana untuk menambah jumlah pasukannya. Tapi melihat yang baru saja terjadi, Erwin mulai meragukan akal sehat dan pendidikannya.

"Matahari sudah mulai naik, sepertinya rencana ini gagal "

Dia berharap kalau rencana Haruki berhasil. Tapi sepertinya kali ini taruhannya gagal. Tidak ada tanda-tanda bala bantuan pasukan pemberontak sampai sekarang. Dan sebab rencananya gagal, mau tidak mau Erwin harus memaksa Amelie untuk pulang dan meninggalkan Haruki dalam keadaan seperti ini.

"Hah… saatnya mund…"

Pewwwww…..

Sebuah flare gun melukis langit dengan dengan asapnya. Dan asap itu berasal dari hutan di sekitar jalan utama menuju benteng.

Itu artinya…

"Aku tarik kata-kataku!"

Erwin menegakkan badannya sebelum mengayun-ayunkan tombaknya dalam pola tertentu. Sebuah pola yang kalau kau adalah murid akademi militer dari Yamato. Kau bisa membacanya sebagai…

"BERSIAPLAH!"



Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Bam! Bam!

“Tidak mungkin! Bagaimana bisa?”

Adelbart memastikan kalau kamp pasukannya cukup jauh dari jangkauan meriam pasukan koalisi. Tapi untuk suatu alasan, tembakan mereka yang harus tidak bisa mencapainya berhasil mencapai mereka dengan mudah.

Bukan hanya itu, tembakan mereka juga sangat akurat sampai semua serangan yang datang selalu berhasil menghantam tempat-tempat vital seperti tempat penyimpanan bubuk mesiu yang ikut meledak begitu tertembak, tempat penyimpanan makanan, dan juga gudang senjata mereka. Dan tentu saja, tempat-tempat yang penuh kerumunan orang tidak terlewat dan meledak tepat di tengahnya.

Membunuh belasan dan melukai puluhan dalam sekejap.

"Apa yang harus kita lakukan tuan Adelbart?"

Tanya ajudannya yang melihat formasi pasukan mereka jadi porak-poranda.

Setelah itu tembakan dan ledakan-ledakan lainnya terus menyusul.

Pasukan pemberontak yang  bingung dengan keadaan mereka langsung mundur dari kampnya dengan buru-buru dan tidak teratur sebab tentu saja. Tidak ada yang mau dihantam oleh peluru meriam dan jadi noda merah di tanah.

Dalam sekejap kepanikan menular dari satu kelompok ke kelompok lain yang disebabkan oleh serangan meriam yang seharusnya tidak bisa mencapai mereka.

Lalu, di saat pasukan pemberontak sedang sibuk kabur dan belum mampu mengatur dirinya. Pintu gerbang benteng tiba-tiba terbuka.

Pasukan koalisi membeludak keluar dari dalam benteng, tapi mereka itu tidak membawa padang, tombak atau panah melainkan sebuah tameng kayu?

Bukan! Ukuran mereka lebih besar. Benda-benda yang mereka bawa lebih tepat disebut sebagai barikade darurat dari kayu. Selain itu, mereka juga membawa kawat? berduri?

Mereka semua berlari dengan sekuat tenaga seakan sedang adu lari dengan pasukan musuh yang sedang kabur dari ledakan. Dan di belakang mereka…

"Berhentiii! Semuanya berhentii! Mereka mencoba membuat barikade"

Begitu melihat kalau di belakang pemegang barikade kayu adalah barisan prajurit-prajurit yang menggotong kawat berduri. Adelbart langsung sadar dengan apa yang musuhnya coba lakukan.

Pria  meneriaki pasukannya untuk berhenti. Tapi karena keadaan yang kacau ini serta suara ledakan yang terus menggema. Suaranya tidak terdengar oleh mayoritas orang-orangnya.

"Sial!!!..."

Adelbart terpaksa harus ikut mundur agar bisa memberikan perintahnya pada pasukannya. Memberikan kesempatan yang luas untuk pasukan koalisi melakukan tugasnya 

"Majuuu!"

Beberapa kapten dari pasukan Adelbart ikut menyadari apa yang musuh mereka coba lakukan dan mencoba melawan balik. Tapi sebab mereka menyerang sendiri-sendiri tanpa strategi yang solid. Dengan mudahnya, pasukan pemanah pasukan koalisi yang berada di garis ketiga langsung menghabisi mereka.

"Posisi satu siap!"

Satu baris barikade berhasil pasukan koalisi dirikan tidak jauh dari kamp musuh. Setelah itu, prajurit-prajurit di belakangnya langsung mengambil posisi di dalam parit dan mulai menyerang musuh dengan senapan, panah, crossbow, atau apapun yang bisa mereka temukan di gudang senjata benteng. Bahkan di antara mereka ada yang hanya membawa kain dan menggunakannya sebagai selingshot untuk melemparkan kerikil sekuat yang dia bisa.

Dengan hancurnya mayoritas meriam pasukan pemberontak dan kekacauan pada kamp mereka. Pasukan koalisi bisa menyerang balik dengan relatif aman meski perlindungan yang mereka gunakan hanyalah barikade dari papan kayu.

"Posisi dua siap!"

"Posisi tiga siap!"

Barikade lainnya kembali berdiri. Membuat akhirnya, prajurit pemberontak yang buta hurufpun bisa membaca situasinya. Satu-persatu, mereka mulai menenangkan diri dan membuat barisan rapi untuk menyerang balik.

"Haaaaaa!!!"

Setidak sampai tiba-tiba ada bagian dari pasukan mereka sendiri yang menyerang mereka dari belakang. Atau lebih tepatnya, beberapa kelompok yang berpura-pura jadi bagian dari pasukan pemberontak.

Mereka adalah rahasia dari keberhasilan serangan meriam pasukan koalisi. Yuudai dan teman-temannya sudah masuk ke dalam sejak hari kemarin ketika pembawa suplai ke tempat itu.

Meski kebudayaan orang-orang Yamato jauh berbeda dengan masyarakat yang tinggal di benua Amteric. Bahasa dan fitur fisik mereka tidaklah terlalu berbeda. Dan tanpa seragam, mengidentifikasi afiliasi kepada Yamato bukanlah hal mudah.

Dengan mudah, mereka bisa memasukkan satu-persatu murid akademi ke dalam kelompok-kelompok pasukan suplai para pemberontak.

"Apa yang terjadi???"

Seperti yang Adelbart perhitungkan. Meriam yang pasukan miliki tidak memiliki kekuatan untuk mencapai lokasi mereka. Tapi ketika mereka menembakkan benda itu, teman-teman Haruki yang membaur di dalam pasukan pemberontak menyulut bahan-bahan peledak pada waktu yang hampir bersamaan. Membuat ilusi seakan jarak serang meriam pasukan koalisi lebih kuat dari yang seharusnya.

Jika kau bertingkah tenang dan memperhatikan apa yang terjadi. Kau bisa dengan mudah menebak kalau kedua ledakan yang terjadi tidak punya relasi terhadap satu sama lain. Tapi karena kepanikan yang diciptakan Erwin, mereka tidak punya waktu untuk berpikir panjang lebar.

"Haaa!"

Jumlah prajurit yang dimiliki oleh pasukan pemberontak masih jauh di atas pasukan koalisi. Tapi dengan adanya kekacauan dari berbagai arah, jumlah mereka malah jadi halangan besar untuk mengorganisir perlawanan yang efektif.

Normalnya dengan jumlah mereka yang sekarang. Mereka bisa dengan mudah menghancurkan musuhnya, hanya saja pasukan pemberontak sedang tidak menghadapi sebuah situasi yang bisa dibilang normal.

Dari belakang, mereka diserang oleh kelompok tidak dikenal yang jumlah dan anggotanya tidak jelas. Hal yang membuat semua orang merasa ragu untuk bertindak dan pada akhirnya hanya kebingungan dan fokus untuk melindungi diri masing-masing.

Lalu, dari depan. Musuh mereka juga terus menghujani mereka dengan serangan. Bukan hanya itu, sebab meriam mereka tidak bisa lagi digunakan. Musuh mereka bisa terus maju dan menyerang dengan semakin keras.

Lalu yang terakhir.

"Minggir kau!"

Jendral Adelbart yang tahu harus melakukan apa sedang sibuk menghadapi Erwin.

"Kalau kau menyuruh anak buahmu untuk menyerah, aku akan mundur"

Adelbart yang sedang mencoba mengambil alih situasi tentu saja tidak akan menjawab "iya" pada permintaan Erwin.

"Lindungi tuan Adelbart!!!"

Ketika Erwin akhirnya hampir bisa menebas pria paruh baya itu jadi dua. Tiba-tiba anak buahnya mendorong pria itu dan menahan serangannya. Atau lebih tepatnya.

Mencoba menahan serangannya dengan tubuhnya sendiri yang sayangnya saat ini akan terlalu grafik untuk dijelaskan keadaannya.

"Jangan takut mati! Kepung diaaaaa!"

Teriak anak buah Adelbart yang lain.

Dan dalam sekejap. Hal itulah yang benar-benar terjadi. Anak-anak buah Adelbart segera berkumpul dan mengepung pemuda itu dan tanpa ragu langsung mencoba membunuhnya.

"Kalau kalian kabur aku tidak akan mengejar!!!"

Ketika Erwin menunduk dan menghunuskan tombaknya, benda itu menembus tubuh dua orang di depannya.

Ketika Erwin mengayunkan tombaknya pada kepala prajurit-prajurit di sekitarnya, kau langsung mendengar suara tulang-tulang yang remuk.

Lalu ketika ada yang berhasil mendekat, Erwin menggunakan kaki dan kepalanya untuk menghancurkan perlawanannya. Secara literal.

"Bunuh diaaaa! Gaaahh…"

Seseorang mencoba merebut tombaknya. Tapi bukannya merasa terpojok, dia malah tersenyum dan mengaktifkan sihirnya. Membuat pria tadi menempel dengan erat pada ujung tombaknya.

Setelah itu …

"Gahh…"

"Aghh..."

"Ugh..."

Pemuda itu menjadikan tubuh musuhnya sebagai pemberat sebelum menggunakan senjatanya itu layaknya palu perang. Tidak mempedulikan pandangan orang lain terhadapnya, Erwin terus membantai semua orang yang ada di sekitarnya.

"Pergi dari hadapankuuuu!!!"

Erwin berharap dengan menunjukkan kebengisannya. Musuh-musuhnya akan ketakutan dan memilih kabur. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Tindakannya malah menjadikan semua orang semakin termotivasi untuk menghentikannya meski harus mengorbankan nyawa mereka sendiri.

Ada yang melakukannya demi kesetiaannya pada pemimpinnya, ada yang melakukannya karena alasan strategis, dan ada juga yang hanya terbawa suasana dan adrenalin. Apapun alasannya, semua hal itu membuat tugasnya jadi semakin sulit.

Kalau dia tidak menghabisi Adelbart, orang itu akan bisa menyatukan pasukannya lagi dan mengakhiri momentum pasukan koalisi.

"Sia…"

BAM!!!!

Tiba-tiba sebuah ledakan terjadi di depannya.

"Serahkan Adelbart padaku! Buat kekacauan di rute utama!"

Yang menembakkan meriam tadi adalah Haruki yang entah sejak kapan sudah turun dari tembok benteng.

"Baiklah!"

Erwin berlari menuju rute utama ke benteng mereka di mana bala bantuan musuh sedang mencoba bergerak ke arah benteng. Bala bantuan yang beruntungnya sedang terjebak di dalam kemacetan yang terjadi sebab mayoritas non kombatan sedang mencoba kabur dari medan pertempuran.

Haruki tidak memberikan perintah spesifik. Tapi dari keadaannya, kau bisa menebak apa yang teman masa kecilnya itu ingin agar dia lakukan.

"..."

Klank…

Erwin menjatuhkan tombaknya dan mulai berlari dari satu posisi ke posisi lain. Mencoba menggiring musuhnya untuk menggunakan rute utama untuk kabur dan membuat kemacetan semakin parah. 

Sebab dia harus mengcover area yang cukup luas. Dia memutuskan untuk tidak melakukan sesuatu yang rumit dan hanya menabrak siapapun yang ada di depannya. Memanfaatkan secara penuh kekuatan fisik serta sihirnya yang seakan memang ada untuk digunakan dalam situasi seperti ini.

"Tinggal giliranku!"

Haruki menyerahkan tanggung jawab akan meriam yang dibawanya pada rekannya. Setelah itu, dia menyiapkan senapan yang dibawanya sebelum akhirnya ikut berlari.

"Terus menembak, kau tidak perlu mengkhawatirkanku"

Rekannya sempat tercengang dengan perintah Haruki. Tapi saat ini dia tidak punya waktu untuk kebingungan. Oleh sebab itulah, dia menerima itu secara mentah-mentah dan seperti yang Haruki minta. Terus menembak tanpa memperhitungkan posisi Haruki.

Selama Erwin sibuk jadi banteng marah yang menabrak semua orang tanpa basa-basi. Haruki bergerak dengan lincah layaknya kucing dan mencoba menghindari mayoritas serangan yang datang ke arahnya. Dan jika dia tidak bisa mendengarkan, dia akan menangkisnya sebelum kembali berlari ke arah Adelbart.

"..."

Tentu saja, Haruki mendapatkan beberapa luka di tubuh dan wajahnya. Tapi kesemuanya itu hanyalah luka kecil sedangkan semua serangan yang bisa membunuhnya bisa dia hindari atau tangkis.


➶➶➶


"Menakjubkan"

Bukanlah kata yang cukup untuk mendeskripsikan keajaiban yang sedang terjadi di depan mata mereka. Mata Butsuma dan kedua pengawalnya lebih tepatnya, Hans dan Torin.

“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa keadaan hampir skak mat ini bisa langsung dibalik begitu saja?”

Sama seperti prajurit yang lainnya. Awalnya Hans merasa skeptis dengan rencana yang dibuat Haruki. Tapi melihat keadaan mereka saat ini, dia merasa bodoh sudah meragukan kemampuan strategis pemuda itu.

“Aku tahu kalau dia bukan orang biasa, tapi aku tidak menyangka kalau dia sehebat ini”

Jawab Butsuma.

Tentu saja rencananya tidak akan berjalan kalau Butsuma tidak menyetujuinya dan memberikan prajurit untuk melaksanakannya. Jadi kredit untuk keberhasilan serangan balik mereka tidak boleh semata-mata hanya ditujukan pada Haruki. Tapi, kau juga tidak bisa meremehkan apa yang pemuda itu berhasil capai.

Dan dengan turunnya pemuda itu ke dalam medang perang secara personal. Dia juga membuktikan kalau dia bukan hanya ahli teori. 

“Tuan Butusma, sebenarnya pasukan cadangan itu apa?”

Tanya Hans kembali.

“Menurutmu?”

“Normalnya mereka adalah pasukan sisa…”

Normalnya.

Di tempat lain pasukan cadangan hanyalah hal itu, pasukan yang jadi cadangan pasukan utama. Tapi di Yamato pasukan cadangan mempunyai konotasi lain. Mereka adalah pasukan yang dipanggil ketika semua harapan sudah sirna, dengan kata lain mereka adalah pasukan yang tugasnya membawa keajaiban.

Mereka mungkin dipanggil pasukan cadangan, tapi jumlah mereka tidaklah banyak dan tidak cocok dipanggil sebuah pasukan. Mungkin divisi akan lebih cocok sebagai sebutan mengingat mereka punya struktur kepemimpinan sendiri yang di saat tertentu bahkan bisa mengalahkan kekuasaan pemimpin di lapangan.

Dengan kata lain mereka adalah sekelompok prajurit paling elit dalam bidangnya masing-masing. Dan nama ``pasukan cadangan`` hanyalah sebutan untuk mengecoh musuh sebab normalnya. Pasukan cadangan akan diisi oleh prajurit yang pengalamannya lebih sedikit.

“Aku ingin memberitahumu, tapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya tanpa izin dari atasanku”

“...”

Hans tidak mengatakan apa-apa.

Secara hirarkial, posisi Butsuma sudah lumayan tinggi. Jika dia membutuhkan izin dari atasannya lagi untuk memberitahukannya sesuatu. Hal itu berarti informasi yang dia tanyakan punya level rahasia yang lebih tinggi lagi.

“Kalau begitu tuan Butsuma, apa kau tahu bagaimana prajurit-prajurit muda itu bisa bertempur dengan sangat baik?”

Merasakan kalau suasana di antara mereka sedikit berubah. Torin, rekan sesama pengawal Hans memutuskan untuk mengubah pembicaraan dan mengalihkan perhatian semua orang pada prajurit-prajurit muda yang sedang menyerang pasukan pemberontak dari belakang.

“Ahhh, mereka? mereka adalah murid-murid akademi militer dari Yamato”

“Murid sekolah militer? apa kau yakin? mereka kelihatan terlalu kompeten untuk anak seumuran mereka”

Di era ini, semua orang bisa jadi prajurit asal mereka mau dan ada yang membutuhkan. Dengan kata lain, seorang remajapun sudah bisa dimasukkan sebagai prajurit dalam sebuah pasukan. Tapi meski begitu, normalnya prajurit-prajurit semuda mereka belumlah bisa dianggap prajurit yang sesungguhnya sebab kelakuan dan kemampuan fisik mereka yang masih berkembang.

Tapi tidak seperti prajurit seumuran mereka pada umumnya, Yuudai dan teman-temannya bertempur dengan efisien. Tidak ada yang panik, semuanya juga bisa membunuh musuhnya dengan tenang. Selain itu koordinasi dan kemampuan tempur mereka juga sudah sekelas prajurit yang sudah bertahun-tahun dalam medan perang.

“Hey, sudah kubilang mereka adalah murid sekolah militer Yamato”

“Aku tidak paham…”

Ucap Torin.

“Yamato adalah negara yang paling akrab dengan dengan peperangan”

Sekarang Yamato lebih dikenal sebagai negara yang paling terpelajar sebab mereka adalah satu-satunya tempat di mana hampir tujuh puluh persen penduduknya bisa membaca. Tapi beberapa dekade sebelumnya, mereka lebih dikenal sebagai negara seribu konflik karena selama ratusan tahun. Mereka ada dalam keadaan perang saudara yang berkesinambungan.

Setelah akhirnya mereka mendapatkan kedamaian. Mereka masih memelihara kebiasaan mereka untuk melatih anak-anak dari kecil untuk siap berperang. Bukan hanya itu, mereka juga memformalkan sistem itu dan menjadikan program nasional meski dengan skala yang lebih kecil.

Kurikulum sekolah militer mereka sangat berat dan keras kau tidak punya pilihan lain kecuali jadi prajurit yang sesungguhnya untuk bisa lulus.

Mereka adalah definisi prajurit elit yang pintar secara akademik, kompeten secara fisik, dan efisien dalam pertempuran.

Ketiganya bisa melihat kalau Yuudai dan teman-temannya bisa melawan musuhnya dengan baik. Mereka bisa membela diri dengan pertempuran tangan, mereka akrab dengan senjata jarak dekat dan mereka juga bisa mengoperasikan senapan dengan terampil. Kemudian, mereka juga tahu apa yang mereka harus lakukan dalam suasana yang kacau itu meski tanpa perintah verbal dari siapapun.

Menyebut kelompok itu sebagai prajurit elit sama sekali tidak berlebihan.

Sayangnya…

“Jumlah mereka tidak banyak, Hans! coba cek bala bantuan dari dalam apa mereka sudah si…"

Boom…

Sebuah flare meluncur dari tengah benteng, menjawab pertanyaan Butsuma.

“Sepertinya semuanya sudah siap! Hans! Torin! Giliran kita turun ke medan perang!”

Tidak lama kemudian, meriam-meriam yang sebelumnya ditempatkan di tembok benteng sudah berpindah tempat ke garis depan. Dan dengan gerakan yang gerakan yang terlatih. Teman-teman Haruki mundur, membiarkan musuhnya menjadi korban dari tahap selanjutnya rencana mereka.

Boom! Boom! Boom! Boom! Boom! Boom!


🏳


“Masukan prajurit yang luka berat ke dalam ruang perawatan dan utamakan perawatannya, untuk yang luka ringan taruh di tenda besar di tengah benteng supaya tidak mengganggu yang lain, yang masih bisa berjalan ambil obatmu sendiri! Semuanya sudah ditata di tempat yang mudah dijangkau! Petugas yang ada di sana akan memberitahu apa yang harus dilakukan”

Selama Haruki dan Erwin sibuk bertarung di garis depan. Amelie juga tidak kalah sibuknya di dalam benteng. Dan meski dia tidak bertarung, apa yang sedang dia lakukan tidak kalah melelahkannya dari kegiatan yang prajurit di garis depan lakukan. Yang berbeda adalah tidak seperti yang lain, gadis itu tidak mempertaruhkan nyawanya secara langsung.

"Semua petugas non-kombatan bantu bawa bola meriam ke luar benteng!"

Tugas yang diberikan oleh perwira di dalam benteng pada Amelie adalah untuk mengatur lalu lintas barang dan orang selama pertempuran berlangsung. Tugas yang awalnya diberikan pada gadis itu hanya untuk membuatnya kelihatan sibuk tanpa harus memberikannya wewenang serius yang bisa semua orang tidak indahkan dengan mudah kalau mereka menganggapnya tidak berguna.

Keputusan itu datang dengan pertimbangan, meski memang benar Amelie adalah seorang prajurit. Dia juga adalah seorang tuan putri, dan bukan hanya seorang tuan putri biasa. Melainkan tuan putri dari kerajaan Amteric, sebuah negara yang punya hubungan rumit dengan pasukan koalisi.

Karena hal itu, mereka memutuskan untuk memberinya tugas mudah yang aman di dalam benteng. Mereka bahkan memberinya seragam merah mencolok agar semua orang tahu siapa dia dan apa yang harus mereka lakukan jika mendapat perintah dari gadis itu.

Yaitu, bilang "iya" dan tidak melakukan apa yang gadis itu inginkan.

Amelie sendiri sadar yang semua orang coba lakukan, yaitu menghindarinya. Tapi dia bukanlah seseorang yang punya hobi duduk manis dan menuruti perintah seseorang, apalagi kalau perintah itu hanya ada untuk menjegalnya. Kalau dia adalah tipe gadis yang bisa dengan mudah dibuli, dia sudah lama keluar dari akademi militer.

Hal pertama yang dia lakukan adalah membantu prajurit lain melakukan pekerjaannya tanpa mengatakan apapun meski semua orang mencoba menolaknya. Menunjukan kalau dia mau, dan mampu melakukan pekerjaan berat.

Dan ketika dia bilang pekerjaan berat, gadis itu serius. Amelie membantu membawa prajurit terluka yang tubuhnya 3 kali lebih besar darinya, menggotong suplai senjata ke prajurit di garis depan dan membantu menurunkan meriam-meriam mereka ke bawah untuk rencana mereka yang selanjutnya. Bukan hanya itu, dia juga membantu staf medis memberikan pertolongan pertama pada prajurit yang terluka tanpa menunjukkan keseganan untuk mengotori tangannya dengan darah dan keringat.

Lalu yang lebih mengejutkannya adalah, dia melakukan semua itu dengan timing yang tepat bahkan tanpa perintah dari siapapun.

Melihat semua itu, mayoritas prajurit mulai percaya kalau Amelie bukanlah beban. Melainkan aset, dan gadis memang itu tahu apa yang dia lakukan.

Begitu dia berhasil mendapatkan kepercayaan mayoritas prajurit yang ada di sana. Tidak butuh waktu lama untuk akhirnya Amelie bisa melakukan tugasnya yang sesungguhnya.

“Bawa anak panah ke barikade paling utara, mereka harusnya hampir kehabisan suplai”

Haruki memang bisa membuat rencana cemerlang, tapi rencananya itu hanya bisa berjalan mulus kalau orang-orang di bawahnya bisa melakukan tugasnya dengan baik. Dan kontribusi Amelie bisa dibilang punya andil besar dalam mudahnya Haruki menggerakan prajurit pasukan koalisi.

“Nona Amelie, di luar sudah ada banyak pasukan musuh yang jatuh! Aku berpikir untuk mengajak semua orang yang masih bisa bergerak untuk mengambil peralatan mereka untuk menambah suplai kita”

Seorang pemuda mendatangi Amelie yang matanya tidak berhenti mengawasi sekitarnya dan juga buku yang dia gunakan sebagai jurnal untuk merekam suplai yang mereka sudah gunakan.

Pemuda di depannya kelihatan mungkin beberapa tahun lebih tua dari Haruki dan Erwin. Dan dia kelihatan sedikit panik dan buru-buru.

“Tidak perlu, jika mereka bisa bergerak lebih baik bantu divisi medik merawat yang terluka! lakukan saja tugasmu dan jangan bertindak sendiri!”

Daripada mengambil resiko untuk terluka lagi di garis depan, akan lebih baik kalau tenaga mereka digunakan untuk membantu rekan mereka yang lain. Selain itu, meski tidak berat. Mereka juga masih terluka, bisa-bisa mereka malah jadi penghambat dan beban prajurit lain.

“Tapi suplai sudah mulai menipis, selain itu senjata yang sudah rusak juga perlu penggantinya.”

"Tidak masalah! kau tidak perlu memikirkan masalah suplai"

Dari pergerakan prajurit koalisi, kelihatan jelas kalau Haruki mencoba memukul mundur pasukan pemberontak dari kamp mereka. Kamp di mana musuh menyimpan suplai mereka sendiri. Dengan kata lain, pemuda itu ingin mengambil alih suplai musuh.

Mereka bisa bisa mengumpulkannya nanti ketika situasi sudah lebih aman.

“Kau. . . . tidak paham situasinya!!!. . . .”

"Harunya aku yang bilang begitu!"

Tunggu dulu!

"Siapa namamu! kau dari divisi apa?"

"...Mmm Ivor dari divisi logistik"

"Logistik eh…"

Kalau dia dari bagian logistik kenapa dia punya waktu untuk mencoba mengajak prajurit yang terluka untuk membahayakan diri lagi ke medan pertempuran untuk jadi pemulung? semua rekan-rekannya sedang sibuk memberikan support pada rekan-rekan mereka di garis depan. Meski ada yang punya pikiran yang sama dengan Ivor, mereka secara literal tidak punya waktu dan tenaga untuk melakukan hal itu.

Selain itu, kenapa juga dia meminta izin pada Amelie dan bukan atasannya di divisinya?

"Kalau kau tidak punya pekerjaan lain, bantu aku saja! kita tidak punya cukup orang di sini"

Dari tadi Amelie sudah merasa kalau ada yang aneh dengan pemuda di depannya. Dan kepanikannya sama sekali tidak membantunya membuat Amelie merasa kalau tidak ada yang salah dengannya.

"... Aku akan kembali ke divisiku untuk membantu rekanku yang lain"

Ivor mencoba mundur, tapi Amelie langsung menangkap tangannya dan menghentikan pemuda itu.

"Tidak perlu buru-buru, Kau bahkan tidak kelihatan sibuk!"

Mencurigakan, apa dia mencoba menggunakan nama Amelie untuk mengerahkan kelompok sendiri untuk ke medan perang? tapi untuk apa?

"Maafkan aku Nona Amelie, tapi aku benar-benar perlu kembali ke rekan-rekanku yang lain"

"Bagaimana kalau kita menemui atasanmu, biar aku minta izin secara langsung untuk meminjammu untuk hari ini"

Tidak mempedulikan kata-kata Ivor, Amelie langsung mengajukan keinginannya sendiri. Dia merasa kalau membiarkan pemuda itu pergi akan menghalangi rencana Haruki. Skenario terbaiknya adalah dia benar-benar hanya ingin jadi pemulung, tapi skenario terburuknya adalah pemuda ini adalah pengkhianat yang mencoba menyabotase pasukan koalisi.

Dan dilihat dari apa yang terjadi pada benteng pasukan koalisi yang sebelumnya, Amelie sama sekali tidak bisa mencoret kemungkinan keduanya. Kalau dia hanya paranoid dan memberikan tuduhan palsu, dia akan minta maaf. Tapi saat ini, dia tidak punya keinginan untuk mengambil resiko dan membahayakan rekan-rekannya lebih dari ini.

"..."

"..."

Untuk sesaat, keduanya hanya diam saja. Tapi..

Booom!!

Begitu bunyi meriam terdengar, tiba-tiba Ivor mengeluarkan sebuah pisau bersiap untuk menusukannya pada tubuh gadis di depannya.

Hanya saja.

"Ha!!!"

Amelie sudah lebih dulu meluncurkan tinjuannya pada tubuh Ivor. Dan sebab dia adalah pemilik sihir, kekuatan dari tinju kecilnya sama sekali tidak bisa diremehkan. Serangannya terasa seperti palu yang dipukulkan ke perutanya, membuatnya langsung jatuh kesakitan dan hampir tidak sadar.

"Sepertinya kau bukan mata-mata profesional huh"

Amelie sendiri tidak yakin apakah Ivor itu benar-benar mata-mata atau bukan. Kalau dia pura-pura menurut, gadis itu bahkan tidak bisa memberikan tuduhan secara terang-terangan terhadap pemuda itu. Dan begitu Amelie pulang, dia bisa kembali membaur dengan pasukan koalisi.

Tapi pemuda itu malah membuat semuanya jadi lebih mudah dengan menyerangnya secara langsung. Sekarang, meski dia punya kasus yang jelas untuk di angkat ke atasannya. Mungkin saja Ivor berpikir kalau dia bisa membuat kekacauan dengan membunuh Amelie, pemuda bisa membantu rekannya di luar. Tapi sayangnya, dia mengambil lawan yang salah.

Amelie memang muda, Amelie memang bukan ahli bela diri. Tapi dia tetaplah murid akademi militer Yamato. Tempat di mana kau tidak diizinkan untuk tidak kompeten. Dengan bantuan kemampuan fisiknya, prajurit amatiran tidak akan bisa melumpuhkannya.

Gadis itu bukanlah seorang tuan putri yang hanya bisa ketakutan dan harus dilindungi.

Ketika Amelie sedang berpikir apa yang harus dia lakukan dengan Ivor yang merintih di tanah. Sebuah suara menggelegar datang dari tengah benteng.

"Ikut aku!! saatnya menyerang balik!!"

Butsuma bersama dengan puluhan prajurit berkuda keluar dari gerbang untuk mengeksekusi bagian terakhir dari rencana mereka. Jumlah mereka tidak terlalu banyak, tapi dari aura mereka saja. Kau bisa merasakan kalau mereka adalah veteran kuat yang bisa kau andalkan.

Begitu mereka keluar, medan perang sudah kelihatan berbeda jauh dari keadaannya beberapa waktu yang lalu. Sekarang, pasukan musuh sudah mundur cukup jauh membuat Butsuma dan anak buahnya bisa berlari dengan kuda-kuda mereka dan dengan mudah membangun momentum untuk melancarkan serangannya.

Pria menerobos pasukan musuh dan langsung menyerang Adelbart dan kelompoknya dari samping. Tanpa ragu, dia mengayunkan tombaknya ke arah jendral musuh dengan maksud untuk menghabisi pemimpin musuhnya dalam satu tebasan.

Tapi…

"Aaaaaa…"

Sekali lagi. Anak buahnya menghadang serangan lawannya tanpa takut mati.

"Lindungi tuan Adelbart!"

Anak buah Adelbart membuat lingkaran untuk melindunginya.

"Kau sudah bisa mundur pemuda!!!!"

Haruki yang sedari tadi menghadapi bukan hanya Adelbart, tapi juga pengawal pribadinya sudah kelihatan kelelahan. Meski dengan staminanya sebagai pemilik magic, menghadapi belasan prajurit veteran bukanlah hal yang mudah. Selain itu dia juga mendapatkan beberapa luka yang kalau dibiarkan saja akan jadi masalah nantinya.

"Terima kasih! Tapi tolong jangan menyerang terlalu jauh!"

"Aku tahu!"

Dari belakang Butsuma, pasukan yang membawa barikade tambahan kembali keluar. Membuat area pertahanan mereka sedikit demi sedikit jadi semakin luas. Sedangkan Butsuma sendiri terus mengikis pertahanan pengawal-pengawal Adelbart, hanya saja perlawanan musuh sangat sengit sampai pada akhirnya jendral musuh itu berhasil kabur.

Lalu, seperti yang sudah dia janjikan. Butsuma tidak mengejar terlalu dalam dan memutuskan untuk menyerang sisa-sisa prajurit musuh yang tertinggal jauh dari garis pertahanannya.

Teman-teman Haruki menggunakan kesempatan itu untuk ikut mundur dan mengambil persenjataan baru sebelum kembali maju ke garis depan dan menyerang pasukan pemberontak. Di sisi lain, Erwin yang sudah bertarung selama kurang lebih hampir dua jam akhirnya memutuskan untuk mundur dengan bantuan murid-murid akademi.

Empat jam setelah pertempuran dimulai, semua orang mulai kelihatan kelelahan dan kehilangan motivasi. Kedua belah pihak sama-sama ingin mengakhiri pertempuran secepat yang mereka bisa. Tapi sebab pasukan koalisi saat ini memiliki lebih banyak persenjataan, pasukan pemberontak tidak memiliki pilihan lain kecuali mundur lebih jauh dari jangkauan meriam-meriam musuhnya.

Siang harinya, kedua belah pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata dan memberikan waktu untuk mengamankan prajurit-prajurit yang jatuh dari masing-masing kubu. Dan dengan begitu, pertempuran merekapun berakhir.

Setidaknya untuk sekarang.

Share:

0 comments:

Post a Comment